CERITA DI MANA SANG MAFIA TERKAYA MASUK PENJARA, DENGAN MEMBERIKAN IMBALAN YANG CUKUP MENGIUR KAN UNTUK MERAK YANG BISA MENGELUARKAN NYA DARI DALAM PENJARA.
seen from China

seen from United Kingdom

seen from China
seen from China

seen from China

seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from Australia

seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
CERITA DI MANA SANG MAFIA TERKAYA MASUK PENJARA, DENGAN MEMBERIKAN IMBALAN YANG CUKUP MENGIUR KAN UNTUK MERAK YANG BISA MENGELUARKAN NYA DARI DALAM PENJARA.
2.
12 Juli 20xx
Nayya berdiri di depan cermin dengan seragam putih birunya. Rasanya sudah lama sekali, dan kini dia malah jadi anak-anak berjiwa dewasa. Dia merasa sedikit malu mengenakan seragam ini, meskipun tentu saja dia merasa demikian hanya dalam hati.
Mulai hari ini sampai seminggu mendatang, Nayya akan ikut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk yang ke.. 4. SMP, SMA, kuliah, dan sekarang dia mulai dari SMA.
Sebelum masa MPLS habis, siswa baru masih mengenakan seragam lamanya. Mereka belum sah jadi murid SMA kalau belum ikut MPLS. Tentu saja itu hanya formalitas. Tapi kalau melewatkan, begitu masuk sekolah, tidak ragu lagi kau akan sendirian.
Sayangnya, Nayya tidak banyak mengingat kejadian saat dia SMA. Jangankan masa MPLS. Waktu itu dia hanya menjalani hidup sebagai siswa SMA, nilai rata-rata, hidup rata-rata, keluarganya jauh, dan dia terpisah dengan cinta pertamanya untuk pertama kali setelah merasa hatinya berbunga-bunga.
Dia baru mulai termotivasi saat tahun terakhir, di persiapan masuk universitas, karena apalagi, dia hanya terbawa angin. Mungkin satu-satunya yang dia sukai hanyalah menulis dan membaca... Novel. Oke, tentunya bukan hal yang membanggakan. Bahkan jurusan yang dia ambil waktu itu Sastra Bahasa Indonesia. Yang dia sesali adalah, jurusan itu tidak seperti yang dia duga.
Bahkan tulisan yang dia tulis tidak se-populer novel karya penulis yang baru lulus SMA. Yang dia miliki hanya pendalaman aturan tata bahasa, EYD yang lebih sempurna, kosa kata yang lebih kaya. Padahal kreativitas orang yang mabuk cinta seharusnya melimpah; tapi fokusnya waktu itu jauh dari hal favoritnya.
Nayya pikir kali ini dia bisa fokus menekuni kesukaannya.
(author bukan lulusan sastra jadi jangan bandingkan sama Nayya.) Oke lanjut.
Nayya mengisi tas ranselnya dengan satu buku tulis, dokumen pendaftaran, tempat pensil, serta kotak bekal.
Dulu dia tidak akan melakukan ini. Anak SMA belakangan lebih suka jajan di kantin, karena selain murah dan bervariasi, juga bisa menambah wawasan sekolah (unjuk muka di hadapan murid lain supaya lebih dikenal).
Semenjak dia kenal Joan, Nayya belajar masak sampai jarinya lecet dan kasar. Bekas minyak, panas, sayatan pisau, tangannya dulu tidak berbeda dengan tangan pembantu rumah tangga di keluarga Joan.
"...." Kali ini tentu saja dia membuat makan siang untuk dirinya sendiri.
Untuk makan siang hari ini, Nayya menyiapkan nasi, tahu bumbu goreng plus kornet yang masih tersisa di kulkas dan nugget. Dia membuat salad buah, dan mengisi termos dengan teh tawar panas. Nayya juga memasukkan sebungkus roti terakhir, karena masa kadaluarsanya tinggal sehari lagi. Meskipun masa tahan roti biasanya ditunggu sampai berjamur, Nayya pikir sekalian saja dia mengosongkan kulkasnya dan mengisinya sepulang sekolah nanti.
Nayya menatap lagi penampilannya di cermin. Seragam ini agak ketat di bagian dada, Nayya berbalik dan kembali dengan memakai kardigan berwarna kopi. Rambutnya di kucir kepang setengah, dan Nayya membiarkan sebagian rambut panjangnya menutupi area dada. Dia bukannya tukang dandan.
Malah, Nayya bisa di bilang orang yang cukup gegabah dan kurang apik. Tapi semenjak kenal Joan, dia berusaha jadi sempurna. Meski kenyataannya banyak kekurangannya.
Jam 6.30, Nayya mengait ranselnya, sebelum menatap beberapa saat ke gantungan restleting yang sudah lama tidak dia lihat. Bentuknya boneka babi berwarna pink, sepertinya gantungan ini dipasang sembarangan oleh teman sebangkunya dulu waktu SMP. Siapa? Nayya sudah lupa.
Nayya menunggu di depan halte. Setelah kembali menemukan ponsel lamanya, Nayya menyambungkannya ke headset dan menyetel lagu lama kesukaannya. Meski lagu yang dia putar bertema mellow, hal itu tidak mengubur semangatnya pagi itu
Di dekatnya berdiri juga anak-anak berseragam seperti dirinya. Bahkan anak SD pun ada yang ikut menunggu bus.
Jam 6.45, bus jurusan alun-alun kota sampai. Karena ini hari pertama sekolah, dan ini bukan pemberhentian pertama, Nayya baru mendapatkan kursi setelah berjalan masuk terus ke belakang. Hampir semua kursi penuh, dan banyak yang naik bersamanya tidak bisa duduk.
Setengah jam kemudian, Nayya turun setelah bus melewati alun-alun dan lampu merah. Dia masuk ke gang yang mobil bisa memasukinya, lalu sampai di sebuah gerbang.
Di sekitarnya banyak siswa berseragam putih biru serupa dirinya yang baru masuk juga.
Seorang senior dengan lencana sederhana berwarna merah dengan simbol garuda di lengan kanannya berdiri di depan gerbang untuk memberi arahan bersama-sama dengan satpam sekolah.
"Masuk terus ke ruang registrasi. Bawa dokumen pendaftaran?"
Senior itu bertanya tanpa ekspresi begitu Nayya sampai di gerbang. Dia berkedip.
"Ya.."
"Berikan dokumennya untuk diperiksa, setelah itu ambil nomor." Senior itu memeriksa seragam Nayya, lalu dengan nada tidak mau di bantah, bertanya lagi.
"Name-tag-mu mana?"
"Oh" Karena Nayya memakai kardigan, name-tagnya jadi tertutup.
"Dasi?"
'Apa murid baru semuanya di tanya yang begini?' tapi di pikir-pikir lagi, ini kan baru hari pertama? Seingatnya SMA ini tidak seketat ini...
Tapi Nayya tetap menurut dan memindahkan name-tag-nya ke luar, lalu memakai dasi yang dia simpan di saku saat itu juga.
Senior itu memperhatikannya sampai selesai, lalu tanpa ekspresi, melambaikan tangannya, tanda supaya Nayya segera masuk.
Siswa selanjutnya yang antri setelah Nayya segera mengeluarkan name-tag dan dasi yang tidak dia pakai karena takut di marahi. Dia ingat waktu SMP seniornya cukup garang.... Tapi sebelum dia bersiap memakai, senior itu memotong aksinya.
"Pendaftaran bawa?"
Setelah mengangguk, si senior itu tidak melirik lagi dan menyuruhnya masuk.
Siswa A: 'Dia masuk dipermudah tapi kenapa rasanya seperti diasingkan, ya?'
Nayya ke bagian registrasi dan memeriksa dokumen yang dibawa untuk disesuaikan, lalu menerima sebuah kartu kosong. Nayya mengisi nama dan sekolah asal. Lalu saat hendak memasangnya, dia melihat name-tagnya yag masih dengan logo SMP....
Kenapa senior tadi bersikeras soal name tag kalau tahu pada akhirnya dia akan di beri kartu nama...
Nayya tanpa kata melepas name-tagnya dan memasang kartu(sebenarnya terbuat dari dus dan peniti) supaya seirama dengan siswa yang lain, kemudian bergerak ke aula.
1.
Nayya membuka matanya, dan untuk waktu yang lama dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruangan yang gelap.
Air mata mengalir sedikit demi sedikit setelah waktu yang lama. Nayya tidak bergerak dan hanya berbaring, tak bersuara dan terus mengeluarkan air mata.
'Aku berharap bisa memberikan yang terbaik untukmu di dunia.'
Cinta Nayya yang terlalu naif itu mendarah daging. Dia yang mengalami cinta pertama mulai SMP, lalu terus mengingatnya hingga mereka bertemu lagi 7 tahun kemudian. Meskipun penampilan Joan berbeda jauh ketika dia masih SMP yang pendek, kecil, dan payah. Nayya ingat begitu melihat mata Joan.
Perlahan-lahan sosok asing itu jadi familiar dan Nayya merasa, 'ini memang dia.'
Tapi mungkin perasaannya terlalu gegabah.
Mungkin perasaan Joan tidak sedalam itu.
Nayya yang mabuk cinta bisa melihat meski membohongi dirinya sendiri.
Dia tidak seberharga itu, Nayya menerima. Joan bisa bahagia tanpa Nayya, dia bisa hidup seutuhnya tanpa Nayya.
Cinta sungguh egois. Tapi cinta Nayya seperti tak berlogika.
Dia bukan orang yang bodoh, begitu tahu Joan tidak menginginkannya, Nayya menerima dan dia bersedia pergi. Tapi bukan berarti dia tidak sakit hati melihat Joan terluka, dan sebelum dia berpikir tubuhnya sudah bergerak.
Air mata Nayya yang sudah berhenti jatuh sekali lagi menyusuri pipinya, mendarat ke bantal yang sudah basah.
'Kenapa dia terlihat marah?' Nayya mengingat wajah terakhir Joan.
'Dia kelihatan menyesal.' tapi mengingat Joan seperti apa, Nayya tidak berharap Joan untuk menyesal.
Pun ingin Joan meminta maaf. Selama dia bisa memberi, Nayya akan terus melakukannya.
Kesakitan di hati ini, Nayya bawa oleh dirinya sendiri. Dia pikir dia tidak akan sanggup lagi menanggung sakit hatinya. Di saat terakhir itu Nayya memutuskan untuk menyerah.
Agaknya tidak mudah terus memberi tanpa menerima. Nayya kira cintanya tak terbatas, tapi tidak pernah berpikir bahwa perasaannya sedangkal ini.
'Joan, Joan, Joan.'
Nayya mengucapkan nama itu berkali-kali. Tapi move on tidak selalu mudah.
****
Mungkin sulit dipercaya, tapi Nayya hidup lagi. Bukan, dia bukan mati suri, atau kembali hidup setelah selamat dari luka kritis dan sejenisnya.
Nayya kembali ke dirinya yang masih 15 tahun.
Setelah dia galau untuk dua hari dan sadar saat merasa kelaparan, barulah dia memperhatikan sekelilingnya dan bertanya-tanya;
'Aku tidak mati?'
Meskipun Nayya hanya mengangkat soal rumah lamanya pada Joan sekali, pria itu memiliki ingatan yang kuat. Tidak sulit juga untuknya mencari tahu.
Tapi apakah Joan orang seperti itu?
Nayya menelusuri kamarnya yang sudah lama dia lupakan. Perlahan pecahan memori kembali ke ingatannya.
Dia mengetuk boneka goyang di atas meja belajar dengan wajah kosong.
'Apa ini? Mungkin aku dibawa kesini setelah kejadian itu?'
Tangannya tidak berhenti memainkan boneka goyang. Ketika perhatiannya bergerak ke figura tak jauh, tangan Nayya berhenti bergerak.
Di foto itu ada Nayya, adik laki-lakinya, serta Ayahnya. Karena adiknya yang sakit, dia kini di rawat di luar negeri, dan Ayahnya terpaksa menemani meninggalkan Nayya di negeri ini.
Tapi setelah di pikir-pikir, selama dia sekolah, dia semakin jarang mendengar berita soal mereka.
Terakhir kali, setelah dia magang saat masih kuliah, Ayahnya menelepon bahwa adiknya meninggal. Lalu setelah itu Nayya tak menerima lagi berita. Beberapa waktu setelahnya ponselnya rusak karena konflik saat terlibat dengan Joan. Nayya akhirnya ingat dia tidak pernah mendengar kabar Ayahnya. Apa dia masih hidup?
Mata Nayya memerah lagi.
'Apa gunanya? Oh, aku masih bisa menelpon Ayah, kan?'
Jauh dari rasa panik, hanya ada rasa asing, khawatir, dan tidak percaya. Joan benar-benar membawanya kemari?
Mengingat lelaki itu alis Nayya melengkung sedih lagi. Dia memutuskan untuk melanjutkan kesedihannya setelah memeriksa ponselnya.
"....kenapa?" Setelah berkeliling kamar, Nayya melihat ponsel tergeletak. Ponsel keluaran lama masih dengan sms dan mms. Bukannya smartphone tidak ada, tapi Nayya ingat dia pakai ponsel ini karena merasa tak ada gunanya memakai ponsel canggih. Dia belum begitu memerlukannya. Di tambah, ponsel flip ini memiliki gantungan manis...
Masalahnya ponsel ini dia pegang saat masih SMP... SMA....
"Kenapa ada disini?"
Trek. Nayya membuka ponsel dan melihat tanggal.
16 Juli, 201x
Bukankah ini saat Nayya menunggu sekolah menengah atas untuk pertama kalinya?
Siapa yang hendak menipunya?
Nayya bergerak ke ruang tengah, mengabaikan kalender yang menunjukkan waktu serupa. Siapa tahu ada yang kompak menipunya? Tapi acara televisi tidak akan...
Di layar, Opera lama di tayangkan. Nayya mengabaikan perabotan di sekitarnya, juga tv tabung yang merupakan satu-satunya produk yang buang ia jual setelah beberapa tahun karena tidak berfungsi lagi. Dia sudah mengganti TV tabung ini dengan LCD.
"..." Mata Nayya bergerak ke sekitar rumah, meskipun dia merasa hangat, Nayya takut dia sedang berhalusinasi.
Dengan bergetar Nayya membuka ponsel. Bukankah orang mati tidak bisa bicara? Kalau dia memeriksanya, tidak mungkin mereka bisa menipunya sejauh itu. Sebelum dia bertemu dengan Joan, ayahnya berada di kontak nomor satu dengan simbol titik.
Nayya masih belum sadar sampai sambungan di seberang bersuara.
-Nayya?
"...Ayah?" Nayya menjawab dengan suara bergetar. Namun karena suaranya pelan, hampir terdengar seperti bisikan, ayahnya di seberang tidak menyadarinya sama sekali.
-Hmm. Bagaimana disana?
Nayya diam untuk waktu yang lama, tapi ayahnya tidak mendesaknya.
"Baik." Nayya mengangguk seperti ayam mematuk nasi, "Ayah, aku baik."
Mata Nayya sudah kembali menjatuhkan air mata. Sudah berapa tahun dia tidak bertemu ayahnya? Dia ingin bertemu... Ingin berkumpul.
Tapi suaranya tetap tenang, meski terdengar ada keanehan, ayahnya hanya heran, tapi tidak mencurigai apa pun.
Sejak dulu Nayya selalu patuh. Tidak pernah mengkhawatirkan orang disekitarnya, lembut, dewasa. Dan dia tentunya punya cara sendiri dalam menangani masalah. Ayahnya sadar dia bukan orangtua yang baik, tapi dia siap memberikan apapun yang Nayya minta. Ayah Nayya benar-benar mempercayai putrinya.
"Bagaimana Agam?"
-Agam baik.
Helaan napas pelan terdengar.
-tapi dia sedang istirahat. Nanti, biar aku sambungkan waktu dia bangun?
"Mm. Oke."
Nayya dan ayahnya mengobrol untuk waktu yang lama. Ayah Nayya merasa aneh, namun jarang sekali untuk Nayya bersikap seperti ini.
"Kalau aku ikut tinggal disana, kata Ayah bagaimana?"
Ayahnya terkejut, namun perasaan senang membuncah di hatinya. Ayahnya lalu menggerutu.
-Anak ini. Kapan mau kemari?
"Aku baru masuk SMA. Mungkin tahun kedua? Atau paling lama setelah aku lulus..."
...itu lama sekali. Nayya merintih sedih dalam hati.
-Hm. Baiklah.
Saat bunyi beep terdengar di telepon, Nayya segera mengakhiri percakapan. Kenapa waktu berlalu begitu cepat?
"Pulsanya tidak cukup, Ayah lanjutkan pekerjaan Ayah."
-kau juga. Lihat ini sudah malam. Kemarin bilangnya ini masih masa menunggu.
"Aku mengerti. Nanti kutelepon lagi."
-Baiklah.
Rupanya Nayya baru menelepon kemari. Diam-diam dia menelan ludah. Semoga ayahnya tidak curiga.
Perbedaan waktu mereka hanya 2-3 jam. Ayahnya bekerja sebagai penjaga malam di museum. Hanya dengan begitu dia bisa menjaga Agam di siang hari.
Tik, tik,
Menggenggam ponselnya erat, Nayya menunduk dalam, wajahnya bercampur antara tertawa dan tersenyum.
"Syukurlah... Syukurlah...." Dia hampir menyesal begitu ingat bagaimana dia mengabaikan dua anggota keluarganya yang berharga.
"Syukurlah." Nayya menangkup wajahnya, menangis tanpa suara dengan kelegaan luar biasa.
Saat ini dia belum bertemu lagi dengan Joan. Nayya menatap keluar jendela. Cahaya bulan yang bersinar membuat Nayya sedikit termenung. Sinarnya masu ke ke jendela dan menerangi sedikit ruang tengah yang gelap.
Kali ini dia tidak bisa menemui Joan, mendekatinya seperti dulu, Nayya tidak boleh.
Dia sudah menerima perasaan tak terbalas ini, tapi untuk lupa sepenuhnya hal yang mustahil untuk Nayya.
Baguslah, baguslah, Nayya berdoa dalam hati. Dia tidak perlu bertemu, Nayya masih punya waktu untuk mengobati hatinya dan memperbaiki setiap kesalahan yang dia lakukan.