3.
"Tapi kita sudah minta izin lebih dulu. Apa mereka bilang alasan kenapa mereka ingin duluan?"
Junior di hadapan Rendra berdiri tak nyaman menerima tatapan penuh tuntutan itu, padahal ini bukan salahnya.
"Katanya mau ikut lomba, Kak. Saya sudah bilang pada mereka supaya tidak seenaknya... Saya sudah bilang bahwa Osis sudah booking lebih dulu.
"..."
Seakan tahu pertanyaan Rendra selanjutnya, juniornya segera melanjutkan sebelum Rendra buka suara.
"Kak, saya sudah tanya pembimbing. Bu Rika dan Pak Rafta sempat berselisih. Tapi ujung-ujungnya Pak Rafta bilang terserah anak-anak!" Bahkan saat mengingat keputusan itu, si junior masih merasa kesal dan tidak terima.
Mereka tadinya hendak menggunakan aula sampai hari ke lima, karena lapang sekolah mereka kecil, kebanyakan kegiatan di luar kelas di lakukan di aula. Bahkan 3 kali sebulan upacara di laksanakan di aula. Murid sekolah mereka banyak tapi aula sekolah mereka juga sangatlah luas.
Sekarang, salah satu klub tari yang di bimbing Bu Rika, mengaku mau ikut lomba jadi mereka akan pakai aula dari hari ke tiga. Osis bisa saja berbagi tempat, tapi klub tari itu jelas-jelas tidak mau.
Mereka mengaku bahwa penampilan mereka top secret dan sejenisnya.. si junior yang sudah berkali-kali bertabrakan dengan grup tari tidak pernah berpikir, Osis seperti mereka harus mengalah pada sebuah klub biasa!
Memang klub tari mereka belakangan ini mulai harum dan sekolah menaruh perhatian lebih, tapi setiap perkara ada adabnya, kan?
Di tambah, pembimbing Osis, Pak Rafta selalu mengalah dengan alasan klub tari perlu prioritas. Padahal semua siswa tahu Pak Rafta sebenarnya naksir Bu Rika. Tapi kan, Bu Rika juga punya kriteria!
Rendra yang jadi Ketua MPLS lagi-lagi sakit kepala. Dia sudah menata jadwal kegiatan MPLS dan mengkonfirmasinya dari jauh-jauh hari. Dalam waktu sempit ini dia harus mencari tempat untuk dua hari. Hari pertama sampai ke lima, kegiatan di lakukan di aula, sisa yang tujuh hari akan dilaksanakan di area pegunungan Batu Kidul. Masalahnya, dua hari terakhir mereka menggunakan aula, adalah hari dimana mereka berkemah di sekolah. Mereka bisa melakukannya di lapang outdoor.. tapi situasinya tidak akan kondusif. Mereka benar-benar perlu tempat...
"Begitu pemateri masuk, panggil Judika untuk berkumpul di ruang Osis." Kata Rendra akhirnya. Mereka harus mencari tempat atau harus mengganti kegiatan pada akhirnya.
"Siap Kak.." di akhir kalimat si junior menutup mulutnya yang menganga dengan tangan. Matanya menatap ke pintu masuk aula. Rendra mengerutkan kening dan mengalihkan pandangannya ke arah yang sama. Bertanya-tanya kenapa juniornya mendadak autis...
Nayya masuk ke aula, sambil menatap ke sekitar dengan nostalgia. Di dalam sudah banyak siswa yang duduk bersila di atas karpet hijau polos. Nayya hampir kesulitan mencari spot kosong. Saat itu angin bertiup masuk dari jendela aula, ayunannya lembut tapi tetap membuat Nayya mengeryitkan matanya. Rambutnya yang sedikit tersapu segera dia rapikan.
Saat itu, Nayya seperti sadar semua tatapan mengarah ke arahnya.
"...."
Nayya berkedip ke seisi aula lalu berpikir untuk jalan memutar dan mengambil tempat paling belakang.
"Dik, sini." Saat itu suara seorang panitia mengalihkan perhatian Nayya.
"Iya...kak." Rasanya aneh sekali di panggil adik padahal dia jelas-jelas sudah tua. Nayya menghampiri dan mengikuti senior perempuan yang menunjuk satu tempat kosong yang posisinya berada di tengah-tengah, berbatasan dengan siswa laki-laki.
Nayya yang melihat anak laki-laki ini seperti adik kecil, tidak merasa gugup dan langsung duduk bersimpuh di tempat. Bahkan senyum kecil menghiasi wajahnya.
Rendra yang memperhatikan siswi baru itu sampai duduk, lalu segera menarik matanya kembali ke papan dada di pangkuan. Namun sedetik kemudian dia mencuri lirik.
"Cantik sekali.."
Mendengar kalimat yang dilontarkan juniornya, Rendra kemudian sadar ada orang lain di dekatnya.
"Masih belum pergi juga?"
"I-iya Kak, siap! Ini saya berangkat!"
#









