BETAH DI MESIR?
"Lama banget sih ngurus visanya"
"Ya Allah, kenapa sih banyak banget anjingnya"
"Eh, gak bisa biasa apa orang Mesir ngomongnya"
Tanpa disadari, berbagai keluhan pasti pernah terlontarkan oleh lisan para Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) akibat dinamika kehidupan sebagai pelajar asing di negara lain.
Lalu apa yang membuat saya atau pelajar lainnya betah di Mesir? Di sini saya akan mengulik beberapa alasannya.
Pertama, pada tahun 2018 (tahun saya mendaftar) peserta seleksi Timur tengah mencapai angka kurang lebih 9000. Untuk pendaftar Mesir sendiri mencapai angka 7000 lebih. Nah, haruskah saya dan teman-teman yang diberi rejeki melanjutkan studi di Mesir menjadi krisis syukur, ketika menjadi yang terpilih di antara yang belum terpilih?
Kedua, pasti banyak Masisir yang mengeluhkan anjing yang berkeliaran di Mesir. Dalam hal ini, kita bukannya dituntut untuk bersyukur karena berada di sekitar anjing. Namun, karena populasi mereka yang banyak menjadikan kita lebih kepo tentang mengapa atau alasan keberadaan mereka yang terbilang banyak itu.
Pada zaman Mesir kuno, ada seorang dewa kematian berkepala anjing yang disebut Anibus. Nah, karena fisik Anibus tersebut, menjadikan para penduduk Mesir kuno sering memuja anjing. Konon, banyak dari mereka yang menjadikan anjing sebagai penghubung kehidupan. Dapat ilmunya juga kan? Hehe
Terakhir, setiap bangsa dan Negara memiliki kultur yang berbeda-beda tentunya. Membahas watak penduduk sendiri juga sangatlah berbeda dengan warga Negara Indonesia yang terkenal dengan ramahnya. Apakah mereka tidak ramah?
Watak asli mereka memang keras. Nada berbicaranya tinggi. Pun tak jarang mereka berdebat. Dibalik semua itu, ketika mereka kita mampu mencuri hati mereka dengan keramahan dan kelembutan kita, mereka akan membalasnya dengan sangat baik. Sangat-sangat baik. Hingga kita bisa dibuat bingung untuk membalasnya kembali.
Kemudian apa yang menjadi alasan mereka mudah berdebat atau marah-marah? Karena mereka bukanlah pendendam. Bagi mereka, mengungkapkan lebih baik dari pada menyimpan dan mengotori hati. Meskipun gak semua masalah harus disikapi dengan marah-marah.
Lebih hebatnya lagi, mereka penduduk yang gemar membaca al-quran dan mengucap solawat. Masyaallah.
Nah, beberapa hal ini dirasa cukup untuk menjelaskan, mengapa para Masisir betah di Mesir. :)














