Haru.
Tidak ada yang mampu menebak bahwa hari itu akan datang. Aku yakin, hari itu pasti datang pada waktu yang tepat. Dan seperti biasa, dengan kemampuanmu, kau mampu menaklukannya.
Tidak ada yang mengira aku akan ada di hari itu. Berada di tempat yang sama, di momen yang sama. 4 tahun yang lalu, sepertinya ada yang berharap datang di hari bahagiamu. Tapi apa daya, gadis remaja yang belum lulus SMA saat itu tidak ada kesempatan untuk bisa ada--untuk sekedar bertemu lalu mengucap “Selamat.” sambil tersenyum. Atau mungkin hanya untuk sekedar melihatmu berpidato, menyaksikan bagaimana kamu harus mengatur ucapan dari kata per kata, mengatur degup jantungmu sendiri karena harus berpidato di depan ratusan orang kala itu. Aku yakin itu tidak mudah buatmu, tapi lagi-lagi, dengan kemampuanmu, kau mampu menaklukannya.
Dan ternyata, harapan gadis SMA itu terwujud 4 tahun kemudian. Meski harus melawan gerimis, ia tidak mau melewatkannya. Sesampainya, bajunya separuh basah, kurang rapih, jilbab yang miring sana miring sini, kacamata yang beruap hingga membuatnya melepas benda berharganya itu. Dan tidak sampai satu menit ia membetulkannya. Berharap penampilannya baik-baik saja dan tetap tidak aneh dipandang. Meskipun warna bajunya jadi berbeda karena kebasahan. Ia berjalan dengan membawa beberapa hadiah untuk seseorang yang--berarti baginya.
Ia berjalan semakin dekat, hingga jaraknya hanya beberapa meter saja. Penglihatannya kabur, dia berjalan mendekat, ia melihat ada sosok yang ingin ia temui disana. Mengenakan pakaian persis seperti apa yang ia bayangkan. Ia melihat sosok itu gagah memakainya.
Aku melihatmu dari kejauhan. Senyum bahagia dan merekah yang ada di wajah. Rasanya, aku ingin hujan deras turun saat itu juga. Menutupi rasa terharuku. Karena aku tidak akan pernah mungkin bisa menangis di depanmu. Pertemuan kita singkat saja, aku sudah merasa cukup. Akhirnya, rasa lelahmu terbayar, semua waktu yang juga kau korbankan. Dari awal, ketika kau bersusah payah memperjuangkan pilihanmu hingga kau berusaha untuk keluar karena kau merasa cukup untuk dirimu sendiri.
Dan ternyata, lagi-lagi, kau mampu menaklukannya. Dengan baik.
“Selamat.” akhirnya aku bisa mengucapkan kata itu padamu. Sambil tersenyum.













