Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali aku bercerita di sini. Bukan karena gak pengen, tapi memang karena kurang memungkinkan. Koneksi buat buka tumblr susah, heheh. (What? That’s only an excuse. You’ve promised to write at least once a week, Jannah, huh!) Sekarang mumpung belum banyak tugas, mari kita bercerita! Oh ya, sekarang sudah bulan September, awal semester lima. Kembali ke kampus dari pagi sampai sore (sampai magrib kalau jadwal asistensi sudah ada). Yeah, kembali hidup normal sebagai mahasiswa setelah libur panjang, libur semester genap lalu yang hampir tiga bulan.
Anyway, meskipun liburnya hampir tiga bulan, selama sebulan aku mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (K2N / KKN) Kebangsaan di Riau. Proses seleksinya sudah pernah aku ceritain sebelumnya. Perjalanan dari Depok menuju Riau, team buliding selama 50+ jam di dalam bus, kembali ke Batalyon TNI, dan lain-lain lagi malas buat diceritain sekarang. Sekarang aku hanya ingin mengenang orang-orang yang mewarnai hari-hariku di sana.
Jadi, aku bersama teman-teman sekelompok, 11 orang, ditempatkan di Desa Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Di Kecamatan Dayun sendiri seharusnya ada 3 desa; Desa Dayun, Desa Berumbung Baru, dan Desa Teluk Merbau. Tentang kondisi geografis Desa Dayun dan budaya di Riau pada umunya, sebelumnya aku sudah mencari tau lewat Mbah Google, kepoin instagram exploresiak, nanya-nanya ke teman-teman UI yang berasal dari Riau, cari tau teman sekelompok, de el el pokoknya bakat kepo gue keluarin semua. Namun tetap saja hasilnya terbatas. Tidak banyak informasi yang berhasil dikumpulkan.
Karena ada kesalahan dan miskomunikasi antara pihak LPPM Universitas Riau dengan pemerintah setempat, maka kami yang seharusnya ditempatkan di tiga desa, digabung menjadi satu desa: Desa Dayun semua! Kesal? Lumayan. Apalagi setelah melihat bagaimana orang-orangnya selama di Batalyon dan selama perjalanan menuju Dayun. Luar biasa, riweuh. Banyak yang vokal. Diminta berdiri tenang pas upacara aja gak bisa, berisik. Bayangkan, kami jadi ber-31 orang, dan akan ditempatkan di dalam satu rumah, laki-laki dan perempuan. Gue gak kebayang apa jadinya. Haha, maafkan ketidakkonsistenan aku-gue ini, sesuai emosi.
Dan benar saja, saat rapat perdana ketika malam kami tiba di sebuah rumah yang akan dijadikan sebagai posko selama sebulan bertugas di Dayun, keriweuhan itu benar-benar terjadi. Buat nentuin kita masak sendiri atau pesan catering aja luar biasa adu mulutnya. I’ve never experienced a very messy meeting like that while in schools and university. Yang bisa kulakukan hanya ngedumel dalam hati dan menahan ngantuk, entah kapan akan berakhir debat kusir ini.
Tapi itu sebulan yang lalu. Waktu memang mampu mengubah banyak hal, termasuk pandangan kita akan sesuatu. Kami yang awalnya 31 orang, menjadi 33 orang karena ada tambahan delegasi dari Malaysia sebanyak 2 orang. Hari berganti, aku melihat bahwa mereka semua bagaikan buku yang terbuka. Intonasi yang tinggi dalam berbicara (terkadang), bukanlah pertanda bahwa mereka marah. Kata-kata yang ceplas-ceplos bahkan terkesan pedas, itu hanyalah ungkapan sesaat saja, tidak dibawa berlarut-larut. Mereka apa adanya. Di Dayun, aku belajar banyak tentang kehidupan, tentang bermacam-macam orang dari seluruh pelosok Nusantara. Kalau yang ceplas-ceplos, silahkan saja dibalas dengan ceplas-ceplos. Tapi, ada juga mereka yang halus perasaannya, lembut hatinya, maka kau harus berhati-hati dengannya. Sekali terluka, susah untuk mengobatinya. Ada juga yang mengamati dalam diam, seolah acuh tapi sebenarnya ia peduli.
Hidup bersama 32 orang dengan kepala yang berbeda-beda, kita harus berpandai-pandai. Akhirnya aku belajar bahwa menjadi hebat itu bukanlah harus lebih show off daripada orang lain. Akan tetapi, menjadi hebat yang sesungguhnya adalah mampu mengalahkan ego kita sendiri, mendengarkan orang lain, mendukungnya jika yang disampaikannya itu benar, dan taat kepada pemimpin tanpa harus menghamba. Selama sebulan di Dayun, aku juga belajar untuk mempertahankan prinsip yang kita punya. Ada begitu banyak godaan di luar sana. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Ikut terombang-ambing bersama arus, atau istiqamah dengan apa yang kita yakini benar. Sebagai satu-satunya mahasiswa angkatan 2013 di antara mereka yang angkatan 2012 dan 2011, aku juga belajar bahwa pengalaman itu memang mendewasakan. Meski aku bukanlah yang termuda secara usia (di kampung gue masuk SD/MI harus di atas 6 tahun, bos, dan belum ada akselerasi), mereka memang lebih matang karena telah selangkah lebih maju daripada aku dalam bidang akademis. Jadi, aku dapat banyak kakak dan abang baru di sana.
Malam ini, di sebuah kamar kontarakan di Depok, aku tengah mengingat mereka satu per satu. Kenangan mungkin bisa pudar oleh waktu dan kesibukan, tapi tidak dengan foto, video, dan tulisan. Maka aku ingin mengabadikan mereka dalam aksara, agar saat aku memanggil kenangan tentang mereka, yang pudar kembali jelas. Maka inilah 32 orang pasukan KKN Kebangsaan Desa Dayun yang telah mendapat tempat tersendiri dalam kisah hidupku:
1. Agus Jariadi, Sistem Informasi UIN SUSKA Riau 2012
2. Andika Permana, Kimia UNIMED 2012
3. Ari Krisnawati, Ilmu Komunikasi UNILA 2012
4. Azan Syahrer, Tafsir Hadits UIN SUSKA Riau 2012
5. Azhar Saputra, Ilmu Komunikasi UR 2012
6. Dede Paryadi, Manajemen UBB 2012
7. Delima Suma Bestari, Akuntansi UR 2011
8. Dennis Sabillah Ramadhan, Geografi UI 2012 (thanks for being a good brother)
9. Desy Berliana Siburian, Akuntansi UR 2012
10. Ervi Helen Sukma, Matematika UIN SUSKA Riau 2012
11. Gunawan, Agroteknologi UNTAN 2012
12. Indry Yani Saney, Kimia UNILA 2012
13. Khairil Anwar, Hukum Keluarga UIN SUSKA Riau 2012
14. Khairul Afriadi, Penjaskes UR 2012
15. Kishy Indas Rusyadi, Porkes UNJA 2011
16. Lia Junianti Nainggolan, Administrasi Negara UNSRI 2012
17. Mahya Naim, Ilmu Hukum UNAND 2012
18. Mario Nathanael, Sastra Jawa UI 2012 (thanks for being a good brother)
19. Maulidiya Izzati Akbar, Teknologi Hasil Pertanian UNSYIAH 2012
20. Mohamad Ramzi, Teknologi dan Pendidikan Kemahiran Hidup UTM 2011
21. Nur Ernie binti Azali, TESL UTM 2011
22. Nur Hilda Mardiah, Hubungan Internasional UR 2012
23. Octavia Herni Sari, Teknik Mesin UBB 2012
24. Rahmat Khairul, Pendidikan PPKN UR 2012
25. Reza Rachmat Barkah, Ilmu Hukum UNIB 2012
26. Rosi Ardayanti, Sosiologi UNSYIAH 2012
27. Sarah Attahiroh, Tafsir Hadits UIN SUSKA Riau 2012
28. Sistim Wehalo, Budidaya Perikanan UR 2012
29. Vinda Hari Yanti, Pendidikan Biologi UR 2012
30. Wahyu Armansyah, PGSD Dikjas UNM 2012
31. Yuyun Eka Pratiwi, Matematika UNTAN 2012
32. Zenno Marzoka, Administrasi Negara UNSRI 2012
Di antara jadwal kuliah yang masih full dari Senin – Jumat sementara mereka mulai memikirkan skripsi, di antara Depok yang kembali berdenyut, rasanya ada yang hilang. Tak ada lagi sarapan ke Ibu Lontong bareng-bareng, makan siang dan malam berdua dengan partner masing-masing, piket bangun pagi-pagi, mencuci pakaian harus jalan kaki dulu 15 menit dan menimba air di sumur, antrian mandi, mengajar mengaji anak-anak, dll. Yang tinggal adalah lukisan wajah mereka satu per satu, dengan senyum dan gaya bicara masing-masing yang begitu khas. Semoga kita bisa reunian di dunia dan di surga. Rasanya ada yang hilang. Mungkin aku kehilangan (merindukan) mereka? Yes, I really miss them. A lot! You guys have made my August!
Depok, September 2nd 2015