Kecil kecil anak betawi, bawa pantun rasa terasi, biar kata rasanya terasi, tetep aja ini anak jagoan betawi! . In frame : jagoan betawi cingkrik! . #budaya #betawi #setubabakan #jawara #cingkrik #lebarangbetawi (at Kampung Betawi, Setu Babakan)

seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States
Kecil kecil anak betawi, bawa pantun rasa terasi, biar kata rasanya terasi, tetep aja ini anak jagoan betawi! . In frame : jagoan betawi cingkrik! . #budaya #betawi #setubabakan #jawara #cingkrik #lebarangbetawi (at Kampung Betawi, Setu Babakan)
Maen Pukulan
"Maen Pukulan: Maenan Orang Betawi, tradisi sejak abad ke-16, untuk melawan penjajah dan berbuat amar ma'ruf nahi munkar di tanah Batavia."
Faktor yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan Betawi, serta karakter, pendidikan dan profesi Orang Betawi, diantaranya: # Faktor Garis Keturunan (Genealogi) Orang Betawi yang berasal dari perpaduan Orang Arab, Orang Cina dan Orang Melayu. # Faktor Agama Islam sebagai anutan bagi mayoritas Orang Betawi. # Faktor Kondisi Sosial di tanah Batavia yang tengah berada dalam masa penjajahan Belanda. Terjadinya perluasan makna pada Maen Pukulan, dapat menjadi salah satu contoh adanya pengaruh tersebut. Makna awal Maen Pukulan: # Maen Pukulan adalah frasa dalam Dialek Betawi, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai permainan gerak badan dengan mengandalkan kekuatan dan kelincahan gerakan tangan serta didukung oleh kaki, lalu dirangkai secara berurutan dan sistematis. # Maen Pukulan merupakan Maenan Orang Betawi dan diperkirakan telah menjadi tradisi di tanah Batavia sejak awal abad ke-16 Masehi, melalui pertunjukkan seni silat pada acara pesta perkawinan atau khitanan (sunatan). # Di awal pemunculannya, Maen Pukulan diciptakan dan digunakan oleh Orang Betawi untuk tujuan bertahan dan menyerang saat melawan penjajah Belanda, serta berbuat amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) atau mengajak berbuat baik dan mencegah berbuat jahat. # Di masa penyebaran ilmunya, Maen Pukulan bersifat khusus, sempit dan tertutup. # Pola penyebaran Maen Pukulan hanya boleh -bersumber dari-, -diajarkan kepada- dan -dipelajari oleh- pribadi dan kelompok yang berasal dari kelas/latar belakang tertentu saja, terutama yang memiliki kelebihan dalam hal karakter (kekuasaan/pengaruh), pendidikan (akademis/islami) dan profesi (ekonomi/penghasilan), misalnya: anggota keluarga dari sang penciptanya atau Orang Betawi saja. # Lokasi penyebaran Maen Pukulan hanya dilakukan per kampung tertentu saja, berdasarkan aktivitas penciptanya, misalnya: di tempat tinggal, di tempat menimba ilmu, di tempat bekerja saja. # Pencipta Maen Pukulan disebut Guru Besar, Pengajarnya disebut Guru, Pelajarnya disebut Murid, dan Murid yang telah mahir memainkannya disebut Jawara. Makna-makna tersebut, telah memunculkan keragaman bentuk, corak dan penamaan pada gerakan dan alirannya, yang kerap merujuk pada nama atau kampung penciptanya, misalnya: Maen Pukulan Beksi asli kampung Dadap Tangerang, Maen Pukulan Cingkrik asli kampung Rawa Belong, Maen Pukulan Kemanggisan asli kampung Kemanggisan, Maen Pukulan Macan Kemayoran asli kampung Kemayoran, Maen Pukulan Sabeni asli kampung Tanah Abang. Makna kini Maen Pukulan: # Maen Pukulan memiliki makna yang layak dan telah memenuhi syarat untuk dapat dikelompokkan sebagai salah satu unsur: Bela diri, Budaya, Ilmu, Olahraga dan Seni. # Maen Pukulan memiliki makna yang identik dengan kata Pencak dan kata Silat dalam Bahasa Indonesia. # Di masa perkembangannya, Maen Pukulan telah mengalami perluasan makna dan kerap disebut sebagai Silat Betawi. # Maen Pukulan telah menjadi bagian dari Kebudayaan Indonesia, berupa Ilmu, Olahraga dan Seni Bela diri Pencak Silat. Pada 18 Mei 1948 dibentuklah sebuah organisasi yang bernama Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI), sebagai sebuah wadah pemersatu bagi beragam aliran Silat di seluruh Indonesia. Pada 20 Januari 1972 dibentuklah sebuah organisasi yang bernama Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi, sebagai sebuah wadah pemersatu bagi beragam aliran Silat Betawi. Pada Kongres IV IPSI tahun 1973, Persatuan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi menjadi bagian dari 10 (sepuluh) Perguruan Silat yang ditetapkan oleh IPSI sebagai Top Organisasi/Perguruan Induk/Perguruan Anggota Khusus. H. Eddie Marzuki Nalapraya, Orang Betawi kelahiran Tanjung Priok, Jakarta pada 6 Juni 1931 ini adalah cucu dari Kiai Bochri (Bogo), yang merupakan seorang Jawara Silat dari kampung Rempoa, Ciputat. Kiprah mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984-1987 ini di dalam dunia persilatan di Indonesia dan dunia telah sangat dikenal, hingga dijuluki sebagai Bapak Pencak Silat Dunia. Sejak awal tahun 1970-an telah memulai aktivitasnya di dalam organisasi IPSI, menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IPSI periode 1978-1998, menjadi Pemrakarsa dan Presiden pertama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat) pada 1980, menjadi Ketua Yayasan Padepokan Pencak Silat TMII, dianugerahi gelar Doctor of Philosophy in Martial Art oleh Asia Pasific Open University Malaysia, dianugerahi bintang Mahaputra Pratama RI pada 2010. Ketika IPSI dipimpin oleh Bapak H. Eddie Marzuki Nalapraya, 10 (sepuluh) Perguruan Silat yang telah ditetapkan oleh IPSI periode sebelumnya sebagai Top Organisasi/Perguruan Induk/Perguruan Anggota Khusus tersebut, diubah namanya menjadi 10 (sepuluh) Perguruan Historis, yang akan selalu menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalam setiap Munas PB IPSI hingga kini.
Referensi: Dari berbagai sumber. KlikAlam.Com - kindness for all ;)
Cingkrik
"Cingkrik: Maen Pukulan asli kampung Rawa Belong, gerak lincah kaki dan tangan dalam bertahan saat menyerang dan menyerang saat bertahan."
Konon, banyak Orang Rawa Belong yang berguru ke Pedepokan (tempat menimba ilmu) di Kulon (barat) untuk belajar ilmu agama dan ilmu bela diri. Salah satunya adalah Maing (1817), yang belum tuntas berguru, namun memutuskan untuk pulang kampung. Dalam perjalanannya, seekor kera milik Saereh (tetangganya) secara tiba-tiba merebut tongkat yang dibawanya. Ketika menarik kembali tongkatnya, si kera pun berbalik menarik tongkat tersebut, dengan melakukan beberapa gerakan bertahan dan menyerang secara sigap dan lincah. Karena merasa sangat terkesan, hampir setiap hari ia mendatangi si kera untuk mempelajari dan menganalisa gerakannya yang lincah. Terinspirasi oleh perpaduan gerak kaki dan tangan dalam bertahan saat menyerang dan menyerang saat bertahan, ia pun terus mengembangkannya hingga terciptalah jurus Maen Pukulan yang khas. Selanjutnya, ia pergi menuju ke Pedepokan di Kulon untuk menjajal kehebatan jurus tersebut. Seluruh teman seperguruannya berhasil dikalahkan, termasuk pula Sang Guru. Akhirnya, seisi Pedepokan mengakui kehebatannya. Ia pun kembali ke kampungnya untuk menyebarkan jurus hebatnya tersebut, hingga terkenal dengan sebutan Maen Pukulan Cingkrik. Adanya pengaruh bahasa Orang Cina (Bahasa Mandarin) dalam Dialek Betawi, yang melafalkan konsonan J menjadi menyerupai huruf C dan konsonan G menjadi menyerupai huruf K, membuat penamaan Cingkrik tersebut diyakini berasal dari kata jingkrig (bentuk tulisannya) atau [cing·krik] (cara melafalkannya) yang terdapat pada sebuah frasa dalam Dialek Betawi, yaitu: Jingkrag-jingkrig (bentuk berulang-cara menuliskannya) atau [cing·krak-cing·krik] (bentuk berulang-cara melafalkannya) yang berarti melompat-lompat dengan lincah. Pada generasi ke-2 (dua), Maen Pukulan Cingkrik telah diajarkan oleh Maing (1817) kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Ali, Saari dan Ajid, dengan penyebaran di kampung Rawa Belong. Pada generasi ke-3 (tiga), Maen Pukulan Cingkrik telah diajarkan oleh: # Saari kepada seorang Muridnya, yang terkenal bernama Wahab (dengan penyebaran di kampung Rawa Belong). # Ajid kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Ayat dan Uming (dengan penyebaran di kampung Rawa Belong, Tanah Abang, Kemandoran, Kebon Jeruk, Kelapa Dua dan sekitarnya). # Ali kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Ainin bin Urim atau Goning (1895-1975) (dengan penyebaran di kampung Kemanggisan dan sekitarnya), Legod (dengan penyebaran di kampung Muara Angke, Pesing dan sekitarnya) dan Sinan (dengan penyebaran di kampung Kebon Jeruk dan sekitarnya). Pada generasi ke-4 (empat), Maen Pukulan Cingkrik telah diajarkan oleh: # Wahab kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama Nur (anaknya). # Ayat kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Acik (Munasik bin Hamim) dan Majid. # Uming kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Akib, Hasan Kumis, Nunung dan Umar. # Ainin bin Urim atau Goning (1895-1975) kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Hamdan dan Usup Utay bin Tohir (1927-1993). # Sinan kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Entong dan Melik. Pada generasi ke-5 (lima), Maen Pukulan Cingkrik mulai diajarkan secara berbeda dan lebih terorganisir, yaitu melalui pembentukan sebuah Perguruan Silat Cingkrik oleh beberapa orang Murid dari generasi ke-4 (empat), diantaranya: # Acik (Munasik bin Hamim) dengan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Gerak Cipta di kampung Rawa Belong, Rawamangun, Mampang, Bekasi, Tangerang dan Bogor, dengan beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Amri bin H. Abbas. # Hasan Kumis dan Nunung dengan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Tumbal Pitung Jatayu di kampung Rawa Belong dan sekitarnya, dengan beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Sapri dan Warno (Suwarno Ayub). # Usup Utay bin Tohir (1927-1993) dengan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Rempoa di kampung Rempoa, Ciputat sejak tahun 1980-an dan diresmikannya pada tahun 1986. Kong Usup menghembuskan nafasnya yang terakhir dan dikebumikan di Makam Wakaf Rempoa pada tahun 1993, dengan mewarisi ilmu kepada beberapa orang Muridnya, yang terkenal diantaranya bernama: Awang, Didin, Tb. Bambang (menantu), Yanto dan Yudi Bone. Pada generasi ke-6 (enam), Maen Pukulan Cingkrik kini diajarkan oleh beberapa Perguruan Silat Cingkrik yang tersebar di berbagai penjuru wilayah JaBoDeTaBek. Gerakan-gerakan dalam Maen Pukulan Cingkrik semula hanya terdapat 5 (lima) jurus saja, yaitu: 1. Langkah 1 (Satu) 2. Langkah 2 (Dua) 3. Langkah 3 (Tiga) 4. Langkah 4 (Empat) 5. Langkah 5 (Lima) lalu berkembang menjadi 8 (delapan) jurus, hingga pada akhirnya ditetapkan sejumlah 12 (dua belas) jurus utama, yaitu: 01. Keset Bacok 02. Keset Gedor 03. Cingkrik 04. Langkah 3 (Tiga) 05. Langkah 4 (Empat) 06. Buka Satu 07. Saup 08. Macan 09. Tiktuk 10. Singa 11. Lok Be 12. Longok Untuk keperluan atraksi panggung Pencak Silat Seni Bela Diri, Maen Pukulan Cingkrik juga memiliki jurus dengan nama Bongbang, yang merupakan jurus gabungan dari 12 (dua belas) jurus utama tersebut. Selain jurus-jurus tersebut, Maen Pukulan Cingkrik juga memiliki beberapa gerakan yang diberi nama Sambut, yaitu: 1. Sambut 7 Muka 2. Sambut Gulung 3. Sambut Detik/Habis Ada beragam bentuk, nama, jumlah dan urutan gerakan, yang diajarkan oleh masing-masing Tokoh Cingkrik tersebut. Namun tidak menyebabkan perpecahan, tetapi justru semakin menambah kekayaan gerakan dan menjadi ciri khas Maen Pukulan Cingkrik itu sendiri. Semoga eksistensi Maen Pukulan Cingkrik dapat terus terjaga hingga akhir zaman, Amiin.
Referensi: Dari berbagai sumber. KlikAlam.Com - kindness for all ;)