Tersesat di Kamu dan Aku Tak Ingin Pulang
Aku pernah mengira diriku karang yang kokoh dan tabah. Aku yakin tak ada ombak yang bisa menyentuh luka-luka di balik dadaku.
Lalu kamu datang. Bukan sebagai ombak yang menghantam. Kamu datang seperti pasang air laut. Anehnya, pasangmu tenang. Dan tahu-tahu, aku sudah tergenang.
Tak ada debur memecah. Tak ada pasir yang hanyut. Aku hanya menyadari bahwa pijakanku melemah tanpa sempat berdiri tegak.
Mencintaimu seperti membiarkan air asin meresap ke setiap pori-pori karangku. Perihnya nyata, hanya saja aku tidak ingin menghentikannya.
Ada ketakutan setiap kali mataku tenggelam di matamu. Bukan takut padamu, tapi takut karena aku merasa terlalu ingin tinggal di sana.
Menyerahkan jemariku untuk kau genggam terasa seperti menyerahkan belati ke tanganmu. Kamu bisa menyayat, kamu bisa menyembuhkan. Tapi sejujurnya… aku lebih takut jika kamu memilih tidak melakukan keduanya.
Kamu adalah aroma angin laut setelah guyuran hujan deras semalaman. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan, tapi hadirmu seketika dikenali oleh denyut nadiku.
Biarkan saja aku terus tergenang. Biarkan asinmu tinggal lebih lama di celah-celahku. Aku tahu yang kehilangan arah bukan karangku, melainkan diriku.
Jika tersesat di dalam dirimu adalah keharusan, Aku tidak ingin kamu surut. Sebab bila itu terjadi, Aku mungkin akan menemukan jalan pulang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, Aku tidak ingin pulang.













