Ikhlaskan Saja Kepergiannya
Kapankah tepatnya Allah mengembalikan Nabi Ismail as yang atas perintah Allah akan disembelih oleh ayahnya, Nabi Ibrahim as?
Atau,
Kapankah akhirnya Allah pungkaskan penatian puluhan tahun lamanya antara Nabi Ya'kub as dan putra kesayangannya, Yusuf as?
Jika jawaban pertanyaan pertamamu adalah, "Ketika Allah mengirimkan domba sebagai pengganti Ismail." dan pertanyaan kedua, "Ketika nabi Yusuf as telah memiliki kuasa dan kepemimpinan di Mesir."
Maka, jawabanmu salah.
Kedua pertanyaan itu jawabannya satu, yaitu ketika mereka (baca : Nabi Ibramim dan Nabi Ya'kub) telah mengikhlaskan rasa cinta berlebih terhadap putra-putranya untuk mendahulukan cinta (baca : ketaatan) kepada Rabb-nya. Ya, itu jawabannya.
Padahal bukankah Nabi Ibrahim as sudah menanti kehadiran anak pertamanya setelah 'penantiannya' yang begitu lama? Tentu saja ini hal yang berat baginya, tetiba muncul perintah dari Allah untuk menyembelihnya hidup-hidup.
Pun halnya Nabi Ya'kub as. yang akhirnya menerima dan mengikhlaskan kepergian putra kesayangannya yang cerdas nan rupawan, Yusuf as, yang kelak akan menjadi penerus risalahnya di muka bumi, kemudian disusul putra masih dari rahim yang sama oleh ibu Yusuf as, Bunyamin, yang merupakan obat penawar kesedihan setelah kehilangan Yusuf as.
Singkat cerita, perpisahan itu terjadi puluhan tahun lamanya, sampai dimana nabi Yusuf menjadi pembesar Mesir sekalipun, i'tikad untuk bertemu terus terhalangi, biidznillah. Hari demi hari Nabi Yakub as menangisi kepergian putra kesayangannya itu, hingga matanya memutih.
Sampai akhirnya Allah takdirkan mereka bertemu, setelah Nabi Ya'kub melepaskan dengan ikhlas terlebih dahulu bahwa kepergian putranya adalah kehendak dari Rabb-nya.
Maka, seperti pada judul diatas, ikhlaskan saja kepergiannya.
Kita harus yakin, bahwa selalu ada rahasia Ilahi kenapa suatu perpisahan itu terjadi. Berat memang, ketika harus mengikhlaskan orang yang teramat dicintai, tapi bukankah rasa cinta itu tidak boleh melebihi rasa cinta kita kepada-Nya? Bukankah seharusnya kita lebih harus menangis ketika yang 'pergi' justru Rabb dari hanya salah satu makhluk ciptaan-Nya itu?
Atau juga, bukankah jika rasa cinta antar sesama makhluk itu benar dan diberkahi, justru semakin meninggikan rasa cinta kita kepada Sang Khaliq dan akan menihilkan rasa cinta lain yang melebihi selain-Nya?
Ya, sekali lagi, lepaskan saja kepergiannya. Ingat bahwa Allah itu Maha Pencemburu. Sebagaimana sabda Rasulullah,
"Tidak ada siapa pun yang lebih pencemburu dibandingkan dengan Allah". (HR Bukhari dan Muslim).
Jangan sampai cinta berlebih ke sesama makhluk melebihi rasa cinta kita kepada-Nya. Seringkali air mata luruh karena seseorang yang teramat kamu cintai itu, tapi pernahkah kamu melakukan hal yang sama bahkan lebih kepada-Nya? Untuk-Nya? Sekali? Dua kali?
Maka, sekali lagi dan terakhir, ikhlaskan saja kepergiannya. Tidak apa.
Percayakan sepenuhnya kepada-Nya. Jika memang dia, Allah takdirkan untukmu, maka dia memang untukmu, dan akan kembali dengan cara yang tak kamu sangka sebelumnya. Barangkali pun kepergiannya adalah cara Allah ingin mengganti yang lebih baik untukmu.
Sebagaimana nasihat dari Ibnu Qoyyim :
"Allah tidak mengujimu untuk menghancurkanmu. Ketika Ia mengambil sesuatu darimu, tujuan-Nya adalah untuk mengosongkan tanganmu untuk memberimu hadiah yang lebih besar lagi."
Mungkin untuk saat ini "ismail" ku adalah perasaan ku padamu, biru..















