Kisah vas bunga (part 2)
Setiap hari,
vas bunga itu menunggu dengan diam,
menyusun doa di siang yang terik—
agar engkau pulang dengan selamat,
agar langkahmu senantiasa dijaga Sang Maha.
Ia tak berkata apa-apa,
tapi hatinya lega tiap kali pintu dibuka,
saat tubuhmu kembali utuh dari dunia yang keras.
Ia tak tidur lebih dulu,
hanya menatapmu terlelap
dan merasa cukup menjadi saksi damainya malam.
Menyapamu setiap pagi
adalah upacara kecil penuh harap—
meski kau tak pernah benar-benar melihat,
ia tetap berdiri tegak,
memberimu semangat lewat warna,
lewat wangi yang nyaris kau lupa.
Dan ia akan tetap begitu,
hingga waktu mengikis kelopaknya,
hingga debu menggantikan segarnya,
hingga ia hilang, ditelan masa,
tanpa pernah menuntut dikenang.
Tapi percayalah,
ia bahagia
pernah menjadi bagian kecil dari hidupmu. Memujamu, merindumu, mendoakanmu...
Meski kamu tak pernah tahu itu...















