“Why are you panting like that? You alright? Dylan.”
“Fuck…”
Kedua mata Valerie melebar, kaget mendengar umpatan yang tiba-tiba lolos itu. “Are you alright? You sound like you’re in pain?” tanyanya karena Dylan semakin terengah dan suara-suara yang Valerie dengar semakin mengkhawatirkan. “Baby, hey.” Panggilan itu lolos begitu saja dari mulutnya meski tak pernah dia gunakan.
“Call me that one more time and I’m gonna finish in my pants.”
Kalau tadi Valerie memelotot, kini dia melongo sejadi-jadinya. Butuh beberapa detik untuk kepalanya mencerna masuk ucapan Dylan. “Are you…”
“Mau nolongin aku nggak?” Dylan memotongnya.
“A-apa?” Valerie tergeragap tanpa dirinya sadari. Jantungnya pun berdebar tidak keruan menunggu balasan Dylan.
“I’m so turn on right now. Can’t stop thinking about you. Help me get off, please…”
“G…get you off?” Semakin sulit saja Valerie bicara dibuatnya. “Aku nggak pernah…”
“Just keep talking. Say my name. I’m close, can feel my cum about to shoot out, just need something to stimulate it,” jawab Dylan. Bunyi napasnya yang berat entah mengapa terdengar jauh lebih menggoda dibanding biasanya. Tanpa sadar Valerie tercekat dan merasa sekujur tubuhnya mulai terbakar.
“Kenapa kamu kok tiba-tiba… uhm—“
“Kangen kamu, sayang… I haven’t seen you in like… a week. Kamu keburu ke KL pas aku balik ke Jakarta. Then you sent me the pic, and I keep imagining how beautiful you sound if I fuck you in there. How hard it is for you to shut your mouth so people won’t know I’m fucking you.”
“Dylan….”
“You can touch yourself, too, Valerie.” Dylan semakin meracau, menunjukkan akal sehatnya kini tak lagi mengambil alih. “Fuck that, aku ganti video call ya? Wanna see you touching yourself like the last time. Boleh ya? Please… You can watch me too if you want. Yeah? I’ll be quick, princess. I promise.”
Dylan bukan cuma hilang akal karena sibuk memohon-mohon seperti ini. Tapi dia juga menularkan mati otak sejenaknya pada Valerie yang mendadak kehilangan kendali pada dirinya sendiri, sebab alih-alih mematikan telepon atau mengomel, Valerie malah menyahutinya dengan, “Wanna watch you too.”













