Setelah sekian lama (kurang lebih hampir empat bulan lamanyaaa), muncul kembali :')
Semoga bisa konsisten, mohon doa meskipun memulai ini lagi pelan-pelan hehe

seen from Türkiye

seen from Singapore
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Jordan
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from Singapore

seen from Canada
seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from United States
Setelah sekian lama (kurang lebih hampir empat bulan lamanyaaa), muncul kembali :')
Semoga bisa konsisten, mohon doa meskipun memulai ini lagi pelan-pelan hehe
Review Buku: "Obat Terlarang" Jenis Baru
"Pikiran anak bukanlah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan,"
-D. Brande
Buku yang saya review kali ini adalah The Drug of The New Millenium (Narkoba Millenium Baru). Buku yang berusaha memberi penjelasan ilmiah tentang cara pornografi di internet dapat mengubah otak manusia secara radikal. Buku ini ditulis oleh Mark B. Kastleman (sudah diterjemahkan).
Awal mula saya menemukan buku ini adalah ketika mampir ke kamar seorang kawan yang sedang menjalankan tugas sebagai supervisor, saya melihat tumpukan buku dan bertanya apakah buku-bukunya boleh dipinjam (oh iya buku ini ternyata milik salah satu kawan juga yang sekarang berjuang di sebuah komunitas, makasih ya bukunya hehe). Hampir semua bukunya menarik, tetapi saya memilih buku ini saja karena beberapa alasan. Pertama karena judulnya, kedua karena cover buku yang sederhana, ketiga karena tidak terlalu tebal, dan yang terakhir karena setelah saya baca kata pengantar serta daftar isinya.... sepertinya bagus.
Oh iya, sebenarnya buku ini sudah saya selesaikan sejak beberapa waktu lalu dan saya baru bisa mereviewnya sekarang. Apa yang saya dapatkan dari membaca buku ini? Saya mendapatkan banyak hal (tentu saja), berikut ini penjelasan singkatnya.
Pertama, saya akhirnya sepakat dengan penyebutan istilah "the drug" pada pornografi di era yang sudah sangat canggih karena keberadaan internet. Hal tersebut berangkat dari efek dari konsumsi pornografi yang ternyata juga membuat kecanduan dan dapat menimbulkan banyak kerugian lainnya. Dalam waktu yang singkat dan sementara mungkin terkesan melegakan bagi yang mengkonsumsinya, namun kerugian yang besar menanti setelahnya. Kedua, ternyata konsumen pornografi tidak hanya laki-laki, tetapi juga wanita. Pada keduanya terdapat perbedaan menuju "fase ketergantungan" terhadap pornografi ini, namun efek kerugiannya sama besar. Hal tersebut didasarkan pada penelitian bahwa terdapat perbedaan pada proses yang dialami oleh otak laki-laki dan perempuan saat mengonsumsi pornografi. Ketiga, pornografi tidak hanya menjadi masalah atau bahkan ancaman bagi orang-orang yang sudah dewasa secara umur, pornografi bisa juga menjadi ancaman bagi anak-anak di bawah umur. Di dalam buku ini juga turut dipaparkan berbagai fakta yang mencengangkan, termasuk bagaimana pornografi adalah sesuatu yang menjadi bisnis dengan keuntungan yang tidak sedikit.
Sang penulis, Mark Kastleman memberikan pesan pada kita semua dalam kata pengantar dalam buku ini,
"SEKARANG adalah waktunya untuk bertindak! SEKARANG adalah waktu untuk bangkit dan menyatakan, "Sudah cukup, tsunami pornografi ini tidak akan merusak lebih jauh lagi!" Untuk anak-anak Anda, untuk keluarga Anda, untuk bangsa Anda yang besar, untuk masa depan Anda!"
*untuk #bukaan #bukuakhirpekan kali ini!
_____
Depok, Juni 2019
"Katanya Islam rahmatan Lil Aalamiin? Tapi muslim buang sampah sembarangan? Malah merusak alam" "Itu ada tetangganya kelaparan ko diem
Dipersilakan kepada rekan-rekan Tumblr mungkin mau mampir ke blog tetangga wkwk. Bukan di Tumblr, tapi di blogspot (maybe suatu waktu bener-bener jadi tempat buat berbagi tulisan saya satu-satunya ketika Tumblr sudah tidak seperti dulu). Hmm jelas secara kenyamanan....lebih nyaman di Tumblr, soalnya ketika nulis kita bisa baca juga tulisan lainnya tanpa harus repot-repot macam di blogspot (eh atau ini karena saya belum terbiasa ya). Fitur Tumblr lebih praktis sih dan yaaa lebih bersahabat karena nulisnya macam di timeline Line gitu wkwk. Kalau di blogspot, nulis itu literally kaya kita buka word aja, emang beneran buat orang nge-blog sih....memang gabisa dibandingkan haha *hmmm dasar saya*.
Soon mungkin saya akan coba pindahan ke wordpress karena pertama banget punya blog itu....saya bikinnya di wordpress haha, masih bisa diakses sekarang juga, cuma saya udah gabisa buka akunnya 😂.
Sekian.
Sambil menata diri agak berangsur menjadi tangguh dari kondisi yang rapuh. Semoga bukan semata-mata mengkonversi tekanan menjadi sesuatu yang diberi label karya. Semoga juga bukan asal karya yang seadanya.
Menghidupkan Ramadan ini dengan review buku, saya beri nama #BUKAAN #BUkuAkhirpekAN. Terinspirasi dari pertanyaan menjelang berbuka puasa, "bukaannya pake apa hari ini?". Nama #BUKAAN semoga jadi sesuatu yang bisa lebih diingat, kontennya bermanfaat, dan tentu saja bisa menularkan semangat. Semangat untuk menghidupkan rutinitas membaca buku, bukan sekedar berniat.
Oh iya, aktivitas #BUKAAN ini saya gabungkan dengan gerakan #persekutuanbuku #daripadadilemari, hehe. Siapapun boleh ikut menggerakkan loh 👊😎
#BUKAAN: Belajar Hidup dari Buya HAMKA
Suatu sore menjelang akhir tahun 2017, saya bersama beberapa orang pergi ke Balairung UI, acara UI Islamic Book Fair. Mata saya berbinar-binar melihat berbagai buku dari beragam penerbit, namun saya sadar kalau tidak mungkin membawa pulang semuanya. Buku pertama yg saya pilih dan akhirnya saya bawa pulang, sebuah buku berwarna biru, karya Prof. Buya HAMKA, & ketika saya baca sekilas isinya juga bagus.
Perjalanan membaca buku ini adalah sepanjang jarak akhir 2017 ke bulan Mei 2019, lama betul. Kenapa? Saya nyambi menyelesaikan membaca buku lain dan buku ini tidak rutin saya cicil baca setiap hari. Baru di tahun 2019, sekitar bulan Maret saya mulai mencicil dengan lebih rutin. Ditambah lagi, hampir sebagian besar bagian buku ini saya baca ulang karena belum menangkap betul-betul apa maksudnya. *Ini antara saya yg lola atau memang bahasanya yang rumit*, saya tertantang untuk sungguhan fokus & rileks ketika berusaha menyelesaikan buku ini. Bahkan, buku ini berulang saya ajak menemani perjalanan UI Depok-UI Salemba, Manggarai-UI, kostan-asrama IQF sampai ikut bukber di Cilebut. A k h i r n y a, buku ini saya selesaikan dengan perasaan terharu.
Bagian yang paling membekas, meskipun samar-samar saya mengingatnya adalah tentang saja'ah (keberanian) dan kemuliaan. Dua di antara banyak hal dalam hidup yang mesti kita miliki dan usahakan. Bagaimana jika dalam hidup ini kita tidak memiliki keberanian?
Bagaimana jika ternyata hidup kita tidak memiliki nilai kemuliaan apapun? Tidak bermanfaat buat siapapun?
Saya seperti ditampar. Apakah selama ini saya sudah berusaha untuk mengusahakan kemuliaan? Apakah selama ini saya mengasah keberanian?
Atau saya hanya manut saja dan menjadi pengecut, penakut.
1,406 Followers, 1,523 Following, 218 Posts - See Instagram photos and videos from Ulfa R (@ulfa.rodiah)
Salah satu hal saya syukuri, menemukan buku ini, membaca dan menuntaskannya, mengingatkan saya untuk sungguhan merenungi, bahwa hidup bukan sekadar hidup, bekerja bukan sekadar bekerja, kita hidup punya tujuan.
"Pekerjaan yang penting-penting, yang besar-besar, perubahan-perubahan yang baru dalam masyarakat, tidak akan timbul kalau tidak ada orang yang berani." .
_____
Disalin:
Kota Belimbing, 27 Mei 2019
Gambar resmi pertama dari casing Honor Magic3 menunjukkan bukaan melingkar besar untuk kamera
Gambar resmi pertama dari casing Honor Magic3 menunjukkan bukaan melingkar besar untuk kamera
CEO Honor George Zhao dan CEO Qualcomm Cristiano Amon berbicara di panel yang diselenggarakan oleh Reuters di mana mereka berbicara tentang kemitraan terbaru mereka – Honor Magic3 – yang akan menjadi salah satu ponsel pertama yang ditenagai oleh chipset Snapdragon 888+ yang baru. Di panel, Zhao mengungkapkan inspirasi antara dua jalur warna untuk Honor Magic3 – yang oleh para fotografer disebut…
View On WordPress
Sumber: Dokumen Pribadi Buku kali ini adalah karya Salim A. Fillah ( fyi , bukan nama asli beliau ini kalau saya tidak salah baca).
Buku yang bikin berkaca-kaca :')
Review Buku: Lengser Keprabon*, Melihat Sudut Lain Reformasi
Review buku sederhana ini saya buat menjelang peringatan reformasi, beberapa hari lagi. Buku yang saya review ini adalah buku lama yang pernah saya baca sekitar dua atau tiga tahun lalu.
Menjelang berakhirnya Orde Baru, 1998, terjadi krisis multidimensi. Tidak hanya ekonomi. Krisis paling terlihat lainnya, selain ekonomi ada pada ketidakpercayaan pada pemimpin negeri. Muncul suara untuk melancarkan apa yang disebut reformasi. Massa turun ke jalan untuk menyuarakan berbagai tuntutan.
Puncaknya, 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari kursi Kepresidenan RI, digantikan oleh wakilnya, B.J. Habibie.
"Bisakah Anda membayangkan bahwa Anda berkuasa 32 tahun dengan segala kegagahan dan keunggulan, tiba-tiba bertemu dengan sejumlah orang yang bukan siapa-siapa yang mengemukakan segala sesuatu yang tidak pernah Anda dengar selama 32 tahun, bahkan seumur hidup Anda. Apalagi yang terdengar di telinga Anda itu hal-hal yang menyangkut nasib "buruk", ketika Anda harus tercampak dari kekuasaan yang begitu absolut dalam waktu yang sangat lama."
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ini memandu kita untuk melihat sisi lain, yang tidak banyak dilihat orang-orang, saat-saat terakhir bersama Presiden Soeharto. Tulisan yang membuka terkait pertemuan segenap tokoh untuk dimintai nasihat menjelang pengunduran diri Presiden Soeharto, ketika pergerakan massa mulai tak terbendung.
Pasca reformasi, Cak Nun menjadi sosok yang seolah menjauh dari Indonesia. Cak Nun mengaku selama ini menjalani fase mis-komunikasi dengan Indonesia (ini saya ambil dari sesi Cak Nun saat peringatan #DuaTahunNovel di Gedung KPK). Pilihan Cak Nun untuk tak seperti kebanyakan tokoh lainnya yang mungkin banyak bicara soal pembagian kekuasaan, penempatan jabatan, atau sejenisnya pasca reformasi. Cak Nun memilih jalannya sendiri, berusaha melihat Indonesia dengan cara yang berbeda.
.
"Sungguh proses reformasi ini membutuhkan stamina sangat tinggi....",
*Ungkapan Bahasa Jawa, digunakan sebagai istilah raja yang turun takhta & meninggalkan persoalan dunia.
_____
Kota Hujan, 20 Mei 2019