internet finds
If you want this collection to grow you can use the Paypal donation button on the web page of the blog. Any donation is welcome.
seen from United Kingdom

seen from Belgium

seen from Malaysia
seen from Angola
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Australia

seen from Finland
seen from Hong Kong SAR China

seen from Yemen

seen from Thailand
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Slovakia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from T1

seen from United States

seen from Germany
internet finds
If you want this collection to grow you can use the Paypal donation button on the web page of the blog. Any donation is welcome.
Batinku dibunuh oleh orang tuaku
10 tahun sudah aku merasa tidak punya tujuan hidup, menunggu kematian yang berharap hari ini juga. Setiap hari berharap kematian mengampiri tapi nyatanya aku masih hidup dengan batin yang begitu menyiksa. Mengakhiri hidup? Aah, aku ingin kematian yang damai bukan karena mendahului sang empunya takdir
3 tahun belakangan batin ku dicabik cabik hanya karena takdir yang tidak bisa aku hindari. Menyoba melupakan tetapi aku tidak mampu. Ikhlas hanya dalam kata, nyatanya semakin hari semakin menggangga luka dihati ini
Katanya Ibu itu adalah surga bagi anak-anaknya. Surga yang seperti apa jika setiap hari batin ku digores berkali-kali? Katanya seorang ayah itu cinta pertama anak perempuannya. Cinta yang seperti apa? Aku tidak pernah merasakan itu
Dibunuh perlahan oleh ketidak adilan hanya karena aku belum menikah. Apa salah? Tidak ada pembelaan dari siapapun. Mengeluh tidak punya uang selalu kepadaku, tapi nyatanya dengan anak yang sudah menikah dia masih menafkahi
Bu, pak.. katanya anak yang melum menikah itu masih tanggungan orang tuanya. Katanya anak yang belum menikah layak dinafkahi lahir dan batin. Benarkan?
Tapi kenapa aku berbeda? Aku tidak meminta harta atau warisan, aku hanya meminta keadilan. Kasih sayang kalian, dan cinta yang tulus tanpa ada embel-embel uang. Boleh kah aku menuntut kebahagiaan sebelum aku benar-benar pergi?
Aku melihat temanku yang sudah menikah masih saja disuapin ibunya. Masih saja diperhatikan disaat dia sakit, masih pula ditanya kabar dan apakah sudah makan?
Bu, pak, aku iri.. aku ingin juga seperti mereka yang merasakan peran orang tua yang tidak pernah aku rasakan :'(
Nyatanya, aku dibunuh perlahan oleh orang tuaku. Niat hati mau bercerita, ternyata masih saja ada segelintir hati ku yang tidak bisa mengutarakan dengan ketikan atau ucapan hanya bisa digambarkan dengan air mata
Apa masih ada laki laki yang mau menikahi gadis seperti aku yang tidak punya peran orang tua? Apa masih ada yang mau menerimaku tanpa melihat luka batinku yang masih mengangga? Jika ada, boleh kah aku meminta, Tuan?
Bawa aku pergi dari rumah ini dan bantu aku melupakan mereka yang selama ini mencoba membunuhku
Bu, aku juga ingin menikah!
Hari-hari ku dihantui oleh batin yang makin lama makin berjamur.
Aku tulis ini pun binggung mau mulai dari mana, karena saking banyaknya masalah dihidupku termasuk pernikahan
Aku dilangkahi adik perempuanku, dia menikah tanpa sepengetahuanku dan tanpa basa basi izin dariku. Jujur, aku bahagia krna pada hakikatnya seorang kaka pasti bahagia melihat adiknya bahagia. Tp disatu lain aku merasa tidak dianggap :')
Pesta pernikahan yang begitu mewah dan megah, baju seragam keluarga yang aku impikan, canda dan tawa keluarga serta tamu undangan, mereka bercanda ria, berfoto bersama dan melempar bungga. Kata mereka yang hadir..
Iya, aku tidak hadir krna aku merasa aku tidak pantas untuk hadir. Mengapa? Seminggu sebelum resepsi itu kita ribut hebat. Sebelumnya aku tahu dari orang lain kalau adik ku akan menikah. Mengapa aku harus tau dari orang lain sedang aku dan dia satu atap? Undangan telah disebar, lagi dan lagi aku tau dari orang lain. Aku berusaha sabar "Oh mungkin nanti malam atau besok dia akan menjelaskan ke kamar ku". Tapi ternyata nihil!
Saat aku pulang kerja, tepat pukul 21.00wib tiba digerbang rumah. Melihat dari kejauhan tampak ramai didepan rumah dengan motor dan mobil. Pikiranku langsung tertuju ke ibu, aku takut ibuku kenapa-kenapa, aku takut Tuhan..
Aku melaju cepat dengan penuh kekhuatiran hingga polisi tidur aku hantam tanpa permisi. Sesampainya dipagar rumah, ada yang aneh. Mengapa mereka tertawa riang? Jantungku masih berdetak kencang karena takut terjadi hal buruk terhadap ibuku. Aku menoleh ke atas ke teras lantai 2 rumah ku. Ada sesosok muda mudi sedang berfoto riang. Lemas, letih, kecewa, sekaligus lega. Lega karena bukan hal buruk. Tapi malam itu adalah malam lamaran adik ku yang aku pun tidak diberitahu
Aku melaju meninggalkan rumah yang sedang berpesta itu. Menangis dijalan, binggung mau kemana, aku hanya ingin tidur dan istirahat karena lelah seharian kerja, Bu..
Tepat jam 22.20 wib. Ibu menghubungi ponselku "Kenapa jam segini belum pulang?". Aku balas "Iya lembur". Bu, anakmu sudah pulang tapi tidak kau sambut. Malahan sambutan itu buat orang lain. Aku menyeka air mataku, mencoba tabah dan seolah semua baik-baik saja. Aku pulang, rumah sudah sepi dan bersih. Tidak ada satupun yang tersisa seolah semua telah sesuai skenario
"Aah mungkin besok aku akan diberitahu, sekarang sudah malam". Dan sampai dimana resepsi itu tiba tidak ada satu katapun
Aku menyerah, ketika semua membahas baju seragam. Aku pikir seragam untuk idul fitri karena sebulan lagi puasa. Ternyata aku salah, itu seragam untuk pernikahan adik ku. Aku mencoba tabah, pura-pura tidak enak badan dan hanya mengurung diri dikamar sedangkan mereka diruang tamu sedang rapat. Terbawa emosi, aku seperti kesetanan, aku keluarkan semua unek-unek yang selama ini aku pendam, tidak bisa berkata hanya bisa menangis karena betapa sakitnya hati ini menjadi anak yang tidak dianggap. Aku keluar dari rumah itu saat itu juga, hujan gerimis seolah berada dipihaku. Tanpa sadar aku berjalan kaki sambil menangis dan tidak tau arah tujuan. Berharap mereka mencari. Tapi nihil !
"Biar tau rasa si perawan tua itu!"
Perkataan itu bagiku sanggat menyayat sekali. Bu, mengapa kau tidak membelaku? Apakah seorang ibu tidak sakit hatinya jika anaknya dibilang demikian bu?
"Pergi saja jika kamu tidak setuju"
Bu, sadarkah ucapan itu membuat hatiku mati bu? Walau seisi dunia membuangku tapi ibu tetap membela, itu lebih dari cukup bu. Tapi, jika seisi dunia membela ku tapi ibu membuangku, itu sangat pedih bu :'(
Bu, aku juga ingin menikah seperti anak-anakmu yang lain. Jangan salahkan aku karena keterlambatanku menikah Bu, jangan jauhi aku karena ini bukan aib bu
Aku bukan aib kan bu? Hingga ibu mengusirku, dan tidak memintaku hadir diacara itu. Aku tinggal dikontrakan bu, sepi, sunyi, lembab dengan tangisan. Apa ibu mencariku bu? Siapa yang mengantar ibu kepasar? Siapa yang mengantar ibu jika ingin kemana-mana? Siapa yang membelikan ibu jika ibu ingin sesuatu? Aku rindu bu..
Aku juga ingin menikah, tapi Allah belum menakdirkan bu..
Aku berusaha membuatmu bangga, mewujudkan cita mu walau harus mengorbankan citaku. Tapi ternyata sebuah prestasi yang ibu banggakan bukan dari pendidikan, bukan dari karir, bukan juga dari prestasi yang aku dapatkan, tapi ibu hanya bangga dengan satu kata yaitu MANIKAH!
Menikah yang seperti apa Bu? Meminta rumah kepada bapak? Meminta isikan token listrik? Meminta belikan bumbu dapur? Atau meminta ibu untuk masak? Bukan bu, bukan seperti itu..
Bu, aku juga ingin menikah bukan hanya karena ingin ibu bangga kepadaku tapi aku ingin menikah juga karena Allah bu :')
Amen to Ramen!
#cocol :) https://www.instagram.com/p/BuKtNZogVcw/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=c2e0c9q9c4e6
#cocol #costume #fiancé #Jw #Org #Fashion #fly #boo #bridetobe #Photogrid #photo #calico #papa #beach https://www.instagram.com/p/BtooVRVlQKa/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1um2ayzmnpo7q
Cocol - Madrid
©chloé bordils
Even frappes have hearts. Café Antix's Reese's Frappe. #frappe #frappuccino #frap #coffee #coffeetime #cocol #frapuccino #reeses (at Cafe Antix)