Hidup manusia itu harus sibuk. Harus ada kegiatan, harus ada aktivitas. Jika tidak, maka manusia menyalahi kodrat alam, bahkan kodrat yang ada di dalam tubuhnya sendiri.
Jantung terus berdetak, darah terus mengalir, mata terus berkedip. Maka, jika si manusianya berdiam diri, yang ia lakukan adalah "melawan arus".
Coba sesekali tak melakukan apapun: tak beraktivitas, tak berkomunikasi, tak mengerjakan apa pun. Pasti kita bosan. Sebenarnya bukan bosan, tapi kita sedang melakukan sesuatu yang menyalahi aturan.
Ada manusia-manusia yang diabaikan. Manusia-manusia lack of direction--kurang bimbingan, kurang arahan. Ia bingung harus melakukan apa. Berdiam diri ternyata adalah upaya bunuh diri pelan-pelan. Maka harus ada yang ia lakukan.
Di sinilah peran agama dan da'i menjadi sangat penting, sangat masuk akal.
Agama, khususnya Islam, memberikan begitu banyak "kesibukan" atau aktivitas bagi umatnya. Shalat lima kali sehari, dhuha, tahajjud, membaca Al Qur'an, berdoa. Belum lagi berolahraga, bersilaturahim, mencari nafkah, belajar.. dan banyak lainnya.
Maka salah sekali jika seorang muslim mengatakan tidak tahu harus berbuat apa karena banyak sekali yang bisa dilakukan. Tidak melakukan sesuatu adalah bentuk penistaan terhadap diri sendiri, terhadap waktu, terhadap apa yang sudah terberi.
Kehadiran da'i atau penyeru menjadi penting juga di sini. Ia bagaikan cahaya yang membimbing manusia-kurang-arahan ini untuk melakukan suatu hal.
Kalau dipikir-pikir, da'i itu menyelamatkan waktu orang lain, berarti, ya? Ia menyelamatkan waktu orang lain. Waktu, sumber daya tak terganti. Harganya mahal sekali. Maka yang bisa membantu manusia lain memanfaatkan waktunya, maka ia baik sekali. Mulia.