Memelukmu dengan Do'a
Tentang 5 waktu kewajibanku. Di sana aku bertemu dengan Tuhanku. Memang aku terkadang lalai. Aku juga sering tak bersegera atas 5 waktu itu. Maaf, aku manusia. Aku bukan malaikat. Aku punya nafsu. Aku, di satu sisi bisa jadi setan. Di sisi yang lain bisa jadi binatang. Tapi, sebinatang apa aku, aku tetap manusia. Aku tetap berpikir agar tak melampaui batas. 5 waktu itu yang senantiasa mengingatkanku untuk tetap menjadi manusia, meski sedang berperilaku bak binatang. Aku menerkam, tapi tak sampai membunuh. Aku menggigit, tapi tak sampai berbekas. Aku mencakar, tapi tak sampai melukai. Aku memuncaki syahwat, tapi tak sampai menyetubuhi. Ya. Kali ini bahasaku memang sadis.
Sejak pertama aku di dekap cintamu, aku selalu berusaha untuk tetap ingat pada Yang telah menciptakanmu. kamu memang indah, Penciptamu Maha Indah. Kamu memang membuatku selalu rindu, Penciptamu sangat layak dirindukan. Sejak awal kau membersamaiku, aku selalu mendekati Penciptamu. Aku munajatkan bait-bait rinduku pada-Nya, agar Dia mengirimkan semilir angin yang mengabarkan kerinduanku padamu. Hampir di setiap 5 waktuku, aku memelukmu dengan do'a-do'aku.
Ketika aku lalai, aku sangat bersedih. Aku telah abai pada Sang Penciptaku yang mengaruniaiku wujud terindah makhluk ciptaan-Nya. Saat itu pula, hilang lah kesempatanku memelukmu. Aku melewatkan pertemuanku dengan Tuhanku. Pun aku menghilangkan kesempatan atas munajatku untukmu.
Kini, meski kau telah hilang bersama harapanku, aku masih tetap memelukmu dengan do'a-do'aku. Semoga Tuhan masih mengirimkan sepoi angin untuk menyandarkan rasa rinduku padamu. Ya. Satu hal yang tak pernah kau tau sejak 3 tahun ini, bahwa sejak awal kita bersama hingga sekarang kau telah hilang dari pandang, aku selalu menyebut asmamu di setiap 5 waktuku. Saat itu lah aku memelukmu, meski secara lahiriah mungkin saat ini kau berada di pelukan orang lain. Biarlah Tuhan, Sang Penciptamu, yang mendengar langgam do'aku dan yang selalu menjagamu.
Damar ~












