Merenov Pondasi
Selayaknya sebuah satu kesatuan rumah yang utuh, terdiri dari pondasi, kerangka, dan atap serta elemen lainnya yang membuat rumah menjadi kokoh dan terasa nyaman. Jika ada salah satu bagian rumah yang rusak, pasti akan mencoba direnovasi, jika genteng bocor akan ditambal, jika mulai lusuh akan di cat kembali dan lain lain. Namun dasar dari sebuah rumah agar kokoh adalah terletak pada pondasi bangunannya.
Begitu juga dengan manusia dan kehidupan. Manusia, adalah satu kesatuan yang terdiri dari banyak sisi, ada jiwa, raga, hati, akal, pikiran, ego, nurani, sanubari dan lainnya lagi, yang jika salah satu saja ada yang salah akan mempengaruhi kepada diri manusia itu sendiri. Maka, menurutku sebuah pondasi yang bisa menyatukan semuanya agar bisa stay and track on pada sebuah jalan kebaikan adalah iman.
Iman terlahir dari cinta, dan cinta lahir dari kesadaran dan kesyukuran. Sebagai manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan mungkin kita kerap menemui diri kita yang alpa dari syukur, yang jauh semakin terjerumus di kala futur. Untuk itu, sangat penting untuk mengupgrade iman agar ketika futur menghampiri, diri kita tetap memiliki pondasi dan tidak pergi terlalu jauh.
Renovasi Iman tidak perlu terlalu ekstrim, yang penting konsisten dan istiqomah mulai dari hal kecil, sedikit-sedikit dan terus berkembang lebih baik.
• Pelan-pelan memperbaiki kualitas sholat. Dari yang diakhir waktu ke tengah waktu sampai ke awal waktu. Dari yang 3 menit ke 5 menit ke 7 menit. Dari baca qulhu ke al-maun ke ad-duha ke an-naba ke al-baqarah
• Pelan-pelan menambah kualitas dan kuantitas tilawah. Dari 1 hal ke 3 hal ke 5 hal ke 1 juz ke 2 juz dst.
• Pelan-pelan menambah yang sunnah-sunnah. Sholat rawatib dari subuh, nambah ke dzuhur, nambah ke magrib, nambah ke isya. Sholat duha diwaktu luang, sholat tahajud sebelum subuh, hingga sampai terbiasa dan bisa meniatkan.
• Pelan-pelan membiasakan bersedekah, dari yang sekali sebulan, seminggu sekali, seminggu 2 kali, ke setiap subuh. Begitu juga kuantitasnya. dll
Pelan-pelan, semua perlu perlahan, renovasi kecil-kecil untuk hasil yang lebih baik dan berkelanjutan. Agar ketika futur melanda, hati tetap pada dasarnya, setidaknya se futur-futurnya kita, kita tetap sholat meski di akhir waktu, se futur-fututnya kita, kita tetap tilawah walau kuantitasnya jauh dari biasanya. Ya, setidaknya, kita tidak terlalu jauh. Karena jauh itu sangat melelahkan kawan.
Jangan jauh-jauh, nanti Allah kangen
sebuah judul buku yang pernah aku baca karya Harun Tsaqif.
Semoga kita selalu berusaha untuk merenovasi pondasi ketaatan, semakin mendekatkan hati pada kebaikan, melekatkan raga pada sisi kemuliaan juga mendidik jiwa pada ladang-ladang kesholihan. Jangan jauh-jauh ya
~Faa












