Sejatinya ramadhan selalu membawa pada kerinduan yang dalam. Menyelimuti rasa yang teramat syahdu pada tiap tiap kalbu.
Welcome back Ramadhan. Terima kasih sudah mau berjumpa denganku lagi. Meski semakin dewasa arti dan vibes Ramadhan selalu berbeda, namun tidak pernah memudarkan rasa bersyukurku. Dan kali ini aku lebih sering tersenyum. Entah karena langit sore yang terasa lebih lembut, atau karena sadar bahwa hingga hari ini, aku masih pulang ke rumah yang sama.
Rumah yang dari dulu tidak pernah berpindah, tidak pernah meninggalkanku meski aku yang kadang ingin berlari jauh. Dindingnya masih itu, lantainya masih itu, bahkan suara pintunya ketika dibuka pun masih dengan bunyi yang sama. Aneh ya, hal-hal sederhana seperti itu justru bikin lega.
Aku masih berbuka di meja yang sama. Masih mendengar suara yang sama memanggil dari dapur. Masih melihat wajah-wajah yang sudah hafal bagaimana caraku diam, bagaimana caraku tertawa, bahkan bagaimana caraku kesal. Di rumah ini, aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Mereka sudah tahu.
Mungkin jika aku ditanya, ingin pulang ke mana Ramadhan kali ini, jawabannya sederhana. Aku hanya ingin beberapa kenangan baik di Ramadhan sebelumnya menyapa lagi di rumah ini. Atau harapan-harapan kecil yang selalu dipanjatkan seisi rumah, pelan-pelan, satu per satu, menemukan jalannya untuk terwujud, pergi ke rumah Allah (baitullah) a.k.a Umroh bersama orang orang di rumah misalnya. Aamiin.
Ramadhan membuat rumah terasa lebih ramai, tapi juga lebih hangat. Ada suara piring, ada wangi gorengan, ada obrolan yang kadang tidak penting tapi selalu dirindukan. Aku sering duduk sebentar, melihat sekitar, dan sadar ternyata selama ini aku tidak benar-benar kehilangan apa-apa. Tempat pulangku tetap ada.
Kadang aku berpikir, rumah bukan hanya soal bangunan. Ia seperti pelukan yang tidak terlihat. Tempat di mana aku boleh lelah tanpa takut dihakimi. Tempat di mana aku bisa menjadi versi paling jujur dari diriku sendiri, tanpa perlu terlihat kuat setiap waktu.
Ramadhan ini, aku tidak sedang mencari rumah baru (tapi cari rumah calon boleh lah boleh). Aku hanya sedang belajar mensyukuri rumah yang dari dulu sudah ada. Yang menyaksikan tumbuhku, salahku, tangisku, dan tawaku.
Dan kalau suatu hari nanti aku harus melangkah lebih jauh, rasanya aku akan tetap membawa rumah ini di dalam hati. Karena rumah yang ingin aku pulangi ternyata bukan tempat yang berbeda melainkan tempat yang sejak awal tidak pernah berhenti menungguku kembali.