SERDADU RAPUH
Dentum ketuk para hantu
menyerupai mereka yang berlarian
di tepian perang.
Bersembunyi
di balik manusia lainnya,
berharap tak lebih dahulu
disapa kematian.
Kini aku ada di sela-sela jemarimu
yang jatuh sebagai darah
mengalir pelan dan hangat, lalu tumpah.
Kau dan yang lain terbirit-birit
masih dan akan selalu begitu
menuju pelabuhan yang buntu
sampai tak ada lagi
pilihan ganda untuk selamatkan nyawa
sedang aku masih terjaga
menunggu kalian di depan
pintu megah keemasan
untuk kita hancurkan.
Aku ini tak mampu berdiri
maka jadilah penompangku bila mau
atau; duluanlah saja
biar kususun lagi tulang-tulang kaki
yang bertebaran dan tak bertuan
atau; bunuh aku sekarang
tapi kutitipkan padamu dengan sungguh
biji pengharapan paling terang
yang sedari awal puisi ini kugenggam
tolong tanam dan siram
di padang rumput yang tak ada hitam
sambil diajak bicara
tentang bagaimana
aku berjuang membawanya.
— Bandung, A.









