KARAT
Kau tahu, besi tidak mati karena satu hantaman palu godam. Ia menyerah pada proses yang lebih intim, lebih sabar. Pada ciuman gerimis yang tak pernah berhenti. Pada bisikan lembap udara malam yang tak pernah benar-benar pergi.
Selama ini, kau berjalan dengan ilusi baja. Kau pikir kau adalah menara yang ditempa dalam api, yang menertawakan badai. Kau menerima satu, dua pukulan, dan tulang-tulangmu masih bernyanyi lagu tentang kekuatan.
Kau lupa. Bahkan baja pun punya dosa asal bernama karat.
Masalah pertama hanyalah setetes embun pagi. Kau menyekanya tanpa berpikir. Masalah kedua adalah kabut tipis yang turun saat senja. Kau berjalan menembusnya. Kau pikir matahari esok akan mengeringkan segalanya.
Tapi matahari tidak pernah datang lagi. Dan hujan itu menetap, bukan sebagai badai, tapi sebagai tangisan tanpa suara yang konstan.
Perlahan, tanpa izin, tanpa pengumuman, ia mulai muncul. Bukan sebagai luka yang menganga, tapi sebagai penyakit kulit. Sebuah ruam berwarna tembaga di permukaanmu yang dulu berkilau. Sebuah patina kehancuran yang menyamar sebagai kedewasaan.
Lalu suatu hari, sebuah sentuhan datang. Bukan pukulan. Bukan dorongan. Hanya sebuah senggolan ringan dari jari seorang kawan, yang seharusnya terasa seperti kehangatan.
Dan kau hancur.
Bukan patah. Bukan retak. Kau luruh menjadi serbuk. Menjadi debu merah yang beterbangan, yang dulu pernah menjadi sesuatu yang kokoh.
Ledakanmu bukanlah sebuah pertunjukan kekuatan. Itu adalah pengakuan terakhir dari kerapuhanmu. Itu adalah desahan dari logam yang telah lelah, yang akhirnya menyerah bukan pada kekerasan palu, tapi pada kelembutan air yang tanpa ampun.
Roni. | 22 Agustus 2025











