🌿 "Rumah Tangga Dua Pujangga";
Raka : Suami, penyuka rasa yang percaya bahwa kopi dan cinta punya kadar gula yang sama: tergantung siapa yang menyeduh.
Nira : Istri, penulis puisi yang bisa membuat daftar belanja terdengar seperti mantra cinta.
Adegan 1: Pagi di Rumah Kata
(Cahaya lembut menembus tirai. Raka masih meringkuk di kasur, sementara Nira sedang menyingkap tirai jendela meminta mentari masuk ke dalam rumah)
Nira: "Wahai suami belahan jiwa yang sering lupa waktu, matahari sudah menulis paragraf pertamanya di langit, kau masih saja jadi tanda koma di kasur empuk itu.."
Raka: (berguling malas)"Biarkan aku jadi koma sebentar lagi, Sayang. Karena setiap bangun, aku takut hari ini tak seindah puisimu kemarin malam.."
Nira: "Halah, alasan klasik penyair malas. Bangunlah, kopi sudah kusiapkan. Hitam pekatnya seperti nasib dompet kita menjelang akhir bulan.."
Raka: "Ah, kopi buatanmu selalu membuatku jatuh cinta berulang-ulang, walau tanpa gula, rasanya manis… karena bibirmu dulu yang mencicipinya.."
Nira: (sambil menatap sinis tapi senyum kecil muncul) "Kalau saja cinta bisa dibayar dengan rayuan, kita tak akan pernah mengeluarkan uang untuk membayar listrik.."
Adegan 2: Siang di Dapur Cinta
(Dapur ramai dengan aroma bawang tumis dan suara sutil dan wajan yang menari.)
Nira: "Hari ini kau ingin makan apa, Raka? Antara nasi goreng romantis atau mie instan puitis?"
Raka: "Mie instan saja Sayang. Karena cinta sejati tak harus serumit bumbu-bumbu yang harus kau racik, kadang dia cukup diseduh tiga menit."
Nira: "Haha, dasar lelaki pandai berhemat! Baiklah, mie instan puitisku satu porsi, dan satu porsi lagi dengan penuh harapan supaya dapur kita tak kehabisan ide."
Raka: "Ah, setiap sendok yang kau aduk, begitu indah dan rasanya begitu meresap, seperti bait puisi yang kau racik di wajan kehidupan kita."
Nira: "hmmm, makin pandai merayu rupanya.. Tahukah kamu jika Ada rasa bahagia yang tak bisa diterjemahkan kata, ketika setiap suapanmu menjadi pujian tanpa suara."
Raka: "Baiklah, mari kita makan, bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk menegaskan bahwa cinta juga butuh lauk, bukan hanya kata-kata tanpa makna."
Adegan 3: Sore yang Melankolis
(Mereka duduk di teras, menatap langit senja.)
Raka: "Lihat, Sayang. Senja itu seperti kita, indah, hangat, tapi cepat sekali hilang kalau nggak dijaga."
Nira: "Benar. Makanya jangan sibuk main ponsel tiap sore, biar senja nggak cemburu."
Raka: “Baiklah Sayang, kuletakkan dunia maya yang masih kugenggam ini. Kini hanya ada aku, kau, dan senja ini. Sebab yang kuinginkan hanya satu: esok tetap kutemukan kamu, masih di hidupku, masih di dadaku.”
Nira: (ketawa kecil)"tapi jangan lupakan tagihan listrik yang besok jatuh tempo."
Adegan 4: Malam, Saat Puisi Menjadi Nyata
(Lampu temaram. Mereka duduk di ruang tamu, Raka menulis di buku catatan, Nira membaca)
Nira: "Kau menulis apa, Raka? "
Raka: "Sebuah puisi untukmu. Judulnya: “Perempuan yang Menggoreng Mimpi dan Menghidangkannya dengan Sambal Cinta.”"
Nira: (tertawa keras) "Wah, itu puisi atau resep masakan gagal?"
Raka: "Keduanya, Sayang. Karena di rumah ini, setiap masakan yang kau masak adalah metafora pernikahan. Kadang asin, kadang gosong, tapi selalu ada rasa untuk bertahan".
Nira: (tersenyum lembut) "Kalau begitu, mari kita hidupkan lagi puisinya besok. Karena malam ini aku cuma ingin merebah di pelukmu, dan tetap dekap aku dengan hangat cintamu, bukan dengan renungan."
Raka: "Baiklah, bidadariku. Mari kita rebah bersama, biar mimpi yang melanjutkan kisah kita malam ini."
(Lampu meredup. Mereka tertawa kecil, Ia bersandar di bahunya, sementara dunia di luar jendela perlahan tenggelam dalam malam yang semakin meninggi, seperti nada penutup dari hari yang sempurna, sederhana, tapi penuh makna)
“Cinta tak perlu megah, cukup dua hati yang bersyair setiap hari, kadang lewat tawa, kadang lewat cuci piring bergantian.”