2019. Tahun Pemantik. tak salah judul pembuka awal tahun 2019 yang didengungkan.
kamu pikir, kamu sudah jadi manusia hebat saat lepas dari bangku kuliah, merasa semua hal kamu pahami dan mengerti, bahwa kamu sudah merasakan berbagai pengalaman, dan kamu siap menjalani hidup pada fase yang baru. ternyata kamu salah kan anissa? :)
masih segar diingatan, kamu, 22 tahun. berada dipersimpangan, dihadapkan pada pilihan hidup yang memang mempengaruhi keseluruhan hidupmu nantinya(?) hal yang tidak pernah kamu pikirkan melesat menjadi realita yang tak terbantahkan. menjadi seorang ASN, di perantauan. benar-benar merubah semua runtutan hidup. Disinilah bermula. menjadi anissa yang “lebih mandiri” melakukan perjalanan antar pulau sendiri, keluar bandung keluar dari zona yang sudah sangat terlalu nyaman, dikelilingi hangatnya keluarga, indahnya persahabatan, hingar bingar kota, dan romantisme Bandung. fase ini pula memperlihatkan lemahnya dirimu,
anissa. kamu itu lemah, tidak berdaya, ada Dzat yang Kuasa, Yang Maha Hebat. Hidupmu di GenggamNya. tapi kamu hebat, jujur patut diapresiasi, kamu bisa menghadapi itu semua, well done anissa :)
Waktunya perpisahan kamu dengan rekan kerjamu di Bandung, pasti sesungguhnya kamu berat melepas itu semua? benar kan? tapi kamu tetap menjalankan garis takdir itu, berharap yang terbaik, lagi pula dari awal kamu sudah menggantungkan semua pada Allah kan? dan kamu memastikan tidak ada langkah yang tidak diminta pertimbangan NYA. kamu berdoa kan?
karena... jika kamu memang dan selalu melibatkan-NYA dalam langkahmu, yakinlah bahwa dia adalah Maha Hebat yang selalu Mendengar , Pengabul Doa, dan Pengatur urusan terbaik melebihi apapun, jadi dirimu ga usah takut dengan apapun yang terjadi karena ada yang selalu memastikan apapun keadaan mu hidupmu akan baik-baik saja :)
Perjalanan baru mu di mulai! kamu mulai kaget dengan suasana rumah baru, kantor tempat kerjamu di tengah hutan, jalanan yang sepi, penduduk desa yang berbeda, tidak ada mall apalagi bioskop, belum punya teman, tidak ada temoat kajian, tidak ada salman, tidak ada ini itu, dan keluhan mu memuncak setiap harinya. berapa banyak tangisan yang bercucuran itu, seminggu pertama kau hanya menangis dan menelpon ibumu menyalahkan nya, menyalahkan takdir yang memabwamu kesini, kau menyesal,
tapi kamu tetap menjalaninya Anissa, kamu bisa meneruskan ini semua, kamu pasti tidak menyangka kamu telah melewati ini kan? saat kamu menuliskan ini kamu sudah dipenghujung 2019, dan kamu tetap bertahan.
dibulan- bulan ini jadi fase adaptasimu yang luar biasa. kamu mulai belajar mengenal saudara-saudaramu yang belum pernah kamu temui, belajar dengan suasana yang baru, mencuci bajumu sendiri, mempersiapkan semua sendiri, menerima tempat kerjamu yang tak seideal yang kamu bayangkan, orang-orang dengan latar belakang yang belum pernah kamu temui.
kamu mulai membuka hatimu, kamu jengah dengan semua perasaan negatif itu, menurutmu bila selalu terpuruk kamu akan dapat apa? kamu mulai mencari, mencari makna, mencari apa yang bisa kamu perbuat, mulai menerka apa saja hikmah, pelajaran yang bisa kamu ambil, bahwa sesungguhnya tidak mungkin kamu ditempatkan dibumi ini bila tidak ada artinya, bila kamu tidak bisa mengambil sesuatu dari ini semua.
kamu harus jujur, banyak yang bisa kamu petik kan sejauh itu? difase ini kamu banyak mengambil hikmah yang berserakan itu, kamu memungutnya satu persatu, mengupasnya, merenunginya dan akhirnya menyadari ini semua adalah tahapan mu menuju kedewasaan.
kamu memang belum sepenuhnya menerima, tapi lambat laun hatimu luluh juga ya?
kamu mulai mendapatkan ritme hidup yang sebelumnya tidak pernah kamu rasakan, kamu mendaptkan kesempatan ‘beristirahat’ dari riuhnya rumah selama ini, kamu punya banyak waktu! kamu bisa membaca Al-Quran sebebas yang kamu mau, bisa baca buku sepuas yang kamu bisa, berteman dengan orang- orang baik, menjelajahi tempat-tempat baru, mengamati dan mengambil pelajaran dari orang-orang disekitar, bahwa hidup semajemuk itu, kamu dikawasan yang berbeda!
dan kamu bisa merasakan homesick! yang selama ini mungkin ingin kamu coba wkwk astagfirullah,
akhirnya kamu mengerti arti pertemuan, rindu yang berat, dan membuat momen perjumpaan menjadi hal yang sangat membahagiakan, apalagi arti keluarga untukmu menjadi sangat besar. selamat anissa,
kamu bisa dapat pelajaran itu yang mungkin jika kamu masih di Bandung tak akan dapat sebanyak ini. hayoo kamu harus jujur ya!
September-Oktober-November
pengalaman baru yang belum pernah kamu rasakan terjadi di bulan-bulan ini,
kamu dapat pelatihan dasar yang mengharuskan kamu di karantina selama hampir satu bulan, bertemu dengan lebih banyak lagi orang, mengunjungi berbagai tempat, sampai kamu mengenal orang-orang dalam lingkaran mu secara lebih dekat.
perjalanan yang menarik, sampai kamu mendapatkan konflik dengan salah satu teman mu, terjadi pertengkaran hebat, lagi-lagi kamu memang bertumbuh, dan kamu harus berbangga karena kataksismu adalah menangis, sehingga ketika emosimu memuncak kamu marah dengan menangis, kamu masih bisa berfikir jernih ketika masalah tiba-tiba menghantam mu seperti langit tiba-tiba runtuh,
masih ingatkah dirimu pada kejadian itu? kejadian seseorang melabrakmu, memakimu, ditambah fitnah dirimu di medsos? dan mungkin kejadian ini malah banyak memberimu pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik. menempatkan diri merendah mengalah untuk menang? kamu bisa lebih dewasa dari umurmu anissa, dan kamu sadar sekarang kan?
bahwa dewasa bukan berbilang umur, tetaplah menjadi baik, itulah yang menjadikan kita waras sebagai manusia
tapi disini, keteguhanmu sebagai muslimah sedang diuji, diuji melalui lingkungan yang tak sehomogen dulu, diuji melalui ketaatanmu pada ALLAH. sejauh mana kamu bertahan dengan godaan Syaithon. diuji dengan ketahananamu memperjuangkan mimpi-mimpimu, terus belanjut sampai akhir tahun 2019.
semoga Allah selalu menjagamu, tidak pernah meninggalkanmu walau sekejap, begitu pula dengan mu, harusnya kau yang menjaga selalu Allah, dan Dia akan Menjagamu.
Banyak hal yang direnungi, Desemberrmu kini
semua lalu lalang, berkeliaran difikiranmu
mengajakmu menari hendak kepalang
kau coba rajut untaian benang kusut
sambung satu persatu tidak tersulut
tapi adakah celotehan kata mulut?
bahwa dunia seisinya akan baik-baik saja menurut
bukan kata hati yang selalu menuntut
tapi pasti ada DIA, ALLAH yang menentukan turut.
berbaiklah pada dirimu sendiri
bukan mengasingkan menjauhi
apalagi hingga jatuh memukuli
kita coba untuk diri peduli
bahwa kamu pantas untuk disayangi
selamat Desember, semoga kamu dipertemukan dengan Januari