Bagi masyarakat yang tinggal di Jawa, kata misuh tentu bukanlah suatu hal yang asing. Bagi yang belum tahu, misuh itu artinya mengumpat. Hampir mayoritas masyarakat kita mengangap kalau misuh merupakan hal yang tabu dan tidak patut diucapkan karena terdengar kasar dan sering bertentangan dengan norma kesopanan. Ragam kata yang masuk kategori pisuhan sebenarnya sangat banyak, dari mulai nama-nama binatang hingga hal-hal jorok di ranah seksualitas. Saya sebagai orang Jawa pun kadang heran, masyarakat Jawa yang terkenal kalem dengan tutur kata yang santun ternyata memiliki khasanah pisuhan amat kaya. Misuh sebenarnya tidak hanya ada di Jawa, daerah lain pun tentu memiliki kata-kata umpatan khasnya sendiri, tapi kata seorang teman yang berasal dari Bandung, “Enak ya jadi orang Jawa mah mantep gitu kalo misuh”
Kapan pertama kalinya kamu berani misuh? Hehe, setiap orang tentu memiliki jawaban berbeda, bahkan mungkin ada yang belum pernah misuh sama sekali. Saya pribadi mengenal pisuhan dari teman-teman sejak SD. Bapak saya marah ketika ada anaknya yang berani ngomong kasar, sehingga waktu itu saya menganggap misuh adalah sejelek-jeleknya kata yang keluar dari mulut, kita akan mendapat dosa besar ketika mengucapkannya. Seiring berjalannya waktu, kosakata pisuhan yang saya punya justru bertambah, puncaknya mungkin ketika kuliah. Selama berkuliah di Semarang, saya akrab dengan banyak teman dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa kata yang dianggap kasar di kota saya, ada yang ternyata merupakan hal biasa di kota mereka, begitupun sebaliknya. Misuh menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan antar teman. Ketika diucapkan tanpa nada tinggi, pisuhan menjelma bumbu pelengkap kalimat bahkan tidak terdengar seperti mengumpat. Jadilah tanpa sadar kita semakin terbiasa bahkan membudaya.
Saya pernah iseng bertanya pada seorang teman kenapa dia sering menambahkan istilah yang cenderung kasar di tiap kalimatnya seperti, “Aku telat ik bgst!”, “asw tugasku rung rampung”. Jawaban dia sederhana, “cangkemku wes bodol, njaluk diruqyah iki hahahaa”. Lanjutnya, “Lha piye ya, enak sih, misuh ki sebuah ungkapan hati ben iso legowo. Jal nek koe pas mangkel misuho mesti ketagihan, hahaha”. Edan!
Tidak dapat dipungkiri bahwa misuh kerap dilakukan untuk mengungkapkan emosi diri sebagai bentuk ‘pereda stress’. Dilansir dari Sains Kompas.com, mengumpat disebut dapat menjadi penetral emosi, seseorang yang mengumpat ketika sedih atau marah mungkin sedang mengalami proses katarsis atau pelepasan dari ketegangan emosi. Selain itu, menurut seorang psikolog terkemuka, Timothy Jay, umpatan juga merupakan bentuk komunikasi yang tidak bisa dilakukan oleh kata-kata lain. Pantas saja ketika perasaan dan pikiran sedang kacau, misuh bisa menjelma stress-release atau pereda nyeri dari rasa sakit yang tak berdarah, heuheuu. Nikmat memang. Rasanya nggak puas kalau sebuah masalah belum dipisuhi, kalau kata mas-mas korban perselingkuhan sih “Losssskee wae cuuk!!!”
Karena misuh masih dianggap sebagai hal tabu dan kerap bersinggungan dengan norma kesopanan, ada baiknya kita belajar untuk lebih cerdas dalam memposisikan diri. Memang, misuh kadang muncul sebagai wujud pengungkapan emosi diri, tapi ya harus tahu tempat juga. Sah-sah saja ketika kita mengumpat di depan teman-teman dekat yang sudah paham bagaimana kondisi kita, namun ketika misuh dilakukan tidak pada tempatnya, kita mungkin akan dicap sebagai manusia yang tidak tahu sopan santun, jorok, tidak berpendidikan, tidak berakhlak, daaaaan masih banyak lagi.
Suka ataupun tidak suka, nyatanya pisuhan sangat akrab dengan kehidupan kita. Dunia permisuhan selamanya akan tetap eksis, mungkin akan semakin banyak pembaharuan untuk memperluas jagad misuh-misuh. Suka ataupun tidak suka, tiap orang punya hak untuk melakukannya, tapi menurut wejangan mama sih, “podo-podo mangap lambene, kenopo ora dinggo ngomong sing apik”.
Pekalongan, 02/01/20 (amaliam)