Amnesia
Note:
Terinspirasi dari Juan March yang hidup di RPF Indo Salem.
Lebih cocok disebut AU.
Diikutsertakan tantangan Deskripsi Interior #Kampus Fiksi.
Kepalanya mendongak, matanya memandangi interior ruangan itu. Familiar.
Dinding bercat kelabu dengan deretan pigura berisi foto-foto hitam putih. Lantai kayu yang berderit keras setiap kaki-kaki kursi diseret atasnya. Lampu gantung yang padam sebagian bergoyang mantap seolah siap jatuh.
Derap langkah seorang pelayan bergema. Disusul bunyi keramik menyentuh meja. Arah matanya turun dan mendapati secangkir kopi susu di hadapannya. Aroma yang kuat. Rasanya seperti setabung serum ingatan baru saja disuntikkan ke otaknya.
Ia pernah berada di tempat ini, duduk di kursi yang sama, meja bundar yang sama. Tapi ada yang kurang. Seseorang. Seharusnya duduk di hadapannya.
Tuk. Sebuah buku mendarat ringan di kepalanya, memecah kontemplasinya.
“Melamun lagi? Atau ada yang berhasil kauingat?”
Bahunya terangkat lemah. “Sedikit, tapi masih samar—”
Kata-katanya terhenti. Angin serasa berhembus pelan saat gadis yang datang kemari bersamanya itu melewati sisi kanannya lalu duduk di hadapannya. Keningnya berkerut.
Mereka sama-sama duduk di kursi tua yang sandarannya sudah patah hingga disambung dengan lakban hitam. Bantalan lengan pun sudah kusam dan sepertinya ditinggali oleh banyak kutu. Kaki kursinya tak seimbang hingga ia bisa bergoyang ke kanan dan kiri. Sama sekali tak nyaman. Tapi diduduki oleh Alana, kursi itu seolah berubah menjadi singgasana.
“Juan? Hei. Ada yang salah dengan mukaku?”
Matanya mengerjap. Cepat-cepat ia menggeleng. “Tidak, tidak ada yang aneh. Mukamu baik saja. Tapi... aku penasaran. Kita... pernah kemari?”
Alana memandanginya selama beberapa saat. Dalam diam. Hingga denting lonceng yang berbunyi pelan saat pintu terbuka membuatnya terlonjak kaget. Kepalanya menoleh cepat dan mendapati seorang pria tinggi, besar, dan mengenakan jaket kulit hitam yang baru saja masuk. Alisnya terangkat heran. Penampilan pria itu sama sekali tidak cocok di sini. Mungkin hanya pengendara motor yang tersesat dan ingin bertanya jalan?
“Apa yang kau ingat, Juan?”
Pertanyaan Alana mengembalikan fokusnya. Buku yang tadi sedang dibaca Alana kini telah diletakkan di atas meja. Novel kuno dengan lembaran kertas yang telah menguning, seolah menua bersama tempat itu.
“Aku merasa pernah ke sini. Dulu tempat ini indah....”
Dindingnya tak sekelabu sekarang. Pigura-pigura foto itu dulu menyilaukan karena digosok setiap hari, tanda bahwa sang pemilik bangga pada moyangnya. Lampu gantungnya dulu bercahaya kuning menerangi ruangan. Dan dulu ada piano yang senantiasa mengalunkan musik klasik dari sudut ruangan. Jika datang di siang hari, sinar mentari akan membias melalui jendela di sisi sang pianis, membuat hati terasa hangat setiap kali melihatnya.
Sekarang hanya ada jendela berdebu tebal dan parut hitam di dinding akibat dihantam oleh grand piano hitam yang megah. Hanya itu tanda bahwa piano itu pernah berada di sana.
“Dan kamu melengkapi keindahan tempat ini, Alana.” Ia berbisik kagum.
Gadis bernama Alana ini dulu tampak bagaikan putri kerajaan. Dengan gaun selutut berwarna biru langit, helaian hitam yang dibiarkan tergerai menutupi punggung, dan bibir berpulas merah muda yang menyempurnakan senyum manisnya.
Sama seperti senyum membius di bibir Alana sekarang.
“Ada lagi yang kau ingat, Juan?”
Ia memiringkan kepalanya, berusaha keras untuk mengingat apa yang terjadi pada hari itu saat mereka berkencan kemari. Dugaannya, pasti ada sesuatu yang menyenangkan. Tapi sekeras apapun otaknya berusaha, tak ada kepingan ingatan yang datang. Akhirnya, kepalanya menggeleng lemah.
“Biar kubantu mengingat.”
Jantungnya berdegup cepat, terpacu adrenalin. Alana yang tersenyum manis, berdiri dan melangkah ke belakangnya. Matanya mengikuti gerak-gerik Alana hingga yang ada di matanya hanya wajah Alana. Langit-langit yang warnanya putih gading dan gipsumnya sudah lepas di beberapa bagian, kini terlihat seperti papan catur. Ketika Alana melingkarkan lengan di lehernya, suhu tubuhnya meningkat tajam, padahal ruangan ini cukup sejuk dengan adanya ventilasi tinggi yang meniupkan angin malam.
“Alana—”
Tiba-tiba ingatan itu melesak ke otak kerasnya. Secepat kilat, dia melepaskan diri dan bangkit dari kursinya. Secangkir kopi yang belum disentuhnya sejak tadi tersenggol dan jatuh. Bunyi keramik pecah bergaung keras, tapi ia tidak peduli.
“Aku tidak bermaksud melakukan itu. Kau tahu, kan, Alana? Aku tidak mungkin melakukan—”
Sesuatu yang hangat membekap mulutnya. Sesuatu yang besar dan empuk menjadi sandaran punggungnya. Sesuatu yang kuat menahan kedua lengannya untuk tetap di belakang punggung. Pria besar tadi!
“Entahlah, Juan.”
Bahu Alana terangkat sedikit. Senyumnya miring, jelas merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Sebuah kamera yang entah dikeluarkan dari mana telah berada di tangan lentik... yang dulu sangat disayanginya.
“Beberapa foto aib takkan membuat pasarmu rusak, kan? Perempuan-perempuan bodoh akan tetap mengagumimu. Aku hanya... berusaha mengembalikan ingatanmu.”
Senyum Alana saat itu, garis-garis tipis di wajah Alana, beku yang merayapi tengkuknya... jelas bukan sesuatu yang bisa dilupakannya dengan mudah. Betapa sosok mengagumkan itu sekejap menjelma menjadi tua dan tak terawat di matanya. Sama seperti tempatnya berada sekarang.
Dan sosok Alana sekarang, membuatnya mudah untuk tak lagi jatuh hati. Jangan mengira bahwa ia adalah lelaki lemah yang tidak bisa meloloskan diri dari satu orang pria berbadan besar, Alana.











