Diary story (Part 1)
“Malam ku tak lagi sunyi, hariku tak lagi sendiri. Dia di sini, cahayaku kembali.”
Begitulah kira kira gambaran hati sang Diary. Hari hari yang biasaya ia lalui dengan penuh kesendirian, malam yang ia lewati dengan penuh kesunyian, serta getirnya kerinduan yang harus ia rasakan, kini berubah menjadi dingin sedingin embun nan membasahi hati yang pernah tersakiti.
Tiga puluh hari menjadi hari terberat yang dirasakan. 720 jam yang penuh dengagn perjuangan, pengorbanan, penghianatan, serta penderitaan. Lalu 43.200 detik yang diisi dengan ketidak-percayaan diri, rasa pesimis, dan menutup bagian dengan kesedihan. Problematika hidup menghimpit raga dan nuraninya, di saat yang bersamaan, cinta yang dibanggakan berhianat dan tak lagi memberikan perlindungan. Rasa kasih dan sayang pun menenggelamkannya dalam keterpurukan.
Mahaf Putra Faisal, rasanya, enggan untuk dirinya mengingat cerita, sukar bagi dirinya merangkai untai peristiwa. Tak sudi, tak sudi ingatannya kembali tak rela kenangannya menyapa. Ia tak mau lagi menggenal rasa. Ingin ia kubur selamanya, mengubur dirinya, mengubur cintanya agar kelak, ia lupa akan semuanya. Baginya, cinta datang secara tiba-tiba, lalu pergi tanpa berkata.
Malam itu hujan turun dengan sangat lebatnya. Hembusan angin yang hebat menerpa batang - batang pohon di luaran sana. Mahaf berdiri di samping jendela ruang kerja, matanya menatap rintik hujan yang turun membasahi kaca jendela. Perlahan, tangan kanannya di angkat, mengusap jendela yang tak lagi jelas tertimbun embun di depan mukanya. Jari telunjuknya mengarah ke satu titik hujan yang menempel di jendela. Ia pandangi begitu lama. Hatinya tak begitu menentu padahal suasana terbilang syahdu. Matanya berbinar dan hampir menjatuhkan air kesedihannya. Rupanya, sosok ayahnya datang mengingat peristiwa yang pernah ia saksikan.
Kala itu Mahaf dan teman - temannya sedang bersiap melakukan sebuah pertunjukkan Teater untuk merayakan hari kelulusannya dari sekolah dasar. Banyak pengunjung yang hadir kala itu. tentu saja, kebanyakan mereka adalah orang tua dari semua murid di sekolahan itu. Penampilan mereka begitu rapih dan apik dipandang mata. yang laki - laki memakai batik, sedangkan para wanita memakai kebaya dengan selendang halus bak kain sutera. berbeda dengan mereka, ibuku datang dengan memakai daster bermotif bunga dengan kerudung “ninja” berwarna jingga. Ia duduk di bangku tengah tanpa ditemani pasangannya.
“Mana si bapak?” hati Mahaf bertanya.
Sang ibu tersenyum melambaikan tangannya sembari berkata “Adek bisa..!!” Keresek plastik berwarna merah yang ia bawa, diletakkannya di kursi sebelah. ia sengaja sebagai pertanda bahwa tempat duduk itu sudah ada yang punya.
Pertunjukkan pun dimulai. Ceritanya sederhana namun penuh makna. Yakni, peperangan Indonesia dalam meraih kata merdeka. Berbeda dengan tema dan cerita. Bagi Mahaf, ini pertunjukan yang tiada guna. Ia malu, meski tak semua mata tertuju padanya. iyah, Mahaf hanya berperan sebagai pohon yang bergoyang sebagai saksi bisu pertempuran ‘45
Dari kejauhan, pintu aula tiba - tiba terbuka.
“Rupanya itu si bapak” kata Mahaf.
Dengan kaki yang berjinjit, ayah Mahaf melangkah ke barisan kursi tengah dengan berhati - hati. Ia tak mau langkah dan tubuhnya menyenggol peonton lainnya. Tak lama si ayah duduk di kursi samping ibu. Kursi yang sedari tadi ibu gunakan sebagi tempat untuk menaruh plastik keresek berwarna merah. Dengan nafas yang sedikit terengah - engah, si ayah pun tersenyu sembari melambaikan tangan kanannya.
Rupanya, si Ayah bergegas datang walau waktu kerjanya belum kunjung usai. Ayah Mahaf hanya seorang supir. Makanya, Mahaf sangat maklum jika ia terlambat untuk hadir di pertunjukkan. Jangankan telat, tak hadir pun Mahaf tak apa. Mahaf mengerti jika pekerjaan ayahnya yang berhadapan langsung dengan kepentingan pelanggan, akan terasa sulit jika harus dihentikan ditenggah jalan.
Pertunjukkan pun selesai. Tepuk tangan riuh bergema di aula desa. sorak dan suitan orang saling bersahutan. Bangga akan anaknya, bangga akan putra putrinya. Di perjalanan pulang, Mahaf digendong bapak. mereka berdua berjalan menapakki jalanan desa, sedangkan Mahaf, Wajahnya kusut. Bibirnya ditekuk cemberut.
“Adek hebat..!!” kata si ayah. “TIdak semua orang loh, yang mampu dan bisa menjadi saksi, apalagi saksi kemerdekaan. Iya kan bu?” lanjut si ayah sembari meminta persetujuan sang ibu.
Si ibu hanya tersenyum melihat raut muka si Mahaf. Buatnya, lebih terlihat lucu dibanding terlihat sangar saat Mahaf kesal.
“Apaan?” Jawab Mahaf. “Adek malu, yah. Temen - temen adek pada jadi pendekar, jadi kesatria, yang jadi penjajah juga bagus bagus bajunya. Masa adek cuma beringin. Adek gak mau ikut lagi. Nggak mau ikutan drama lagi.” Jelas Mahaf.
Keduanya tertawa. Benar - benar bahagia menyadari anak bungsunya sudah semakin beranjak dewasa.
“Dek...”, ucap si ayah. “Dalam hidup, kita tidak bisa memilih akan menjadi seperti apa dan siapa kita nanti. Saat doa tak terjadi seperti yang kita pinta, dan dunia yang tak seperti kita kira, jangan pernah sekali pun menutup mata, jangan sekali pun menyerah walau bergeser mundur satu langkah. Hadapi..!! Lihat..! Bukan cuma bahagia yang membentuk adek sekarang. Bukan pula suka cita yang menjelma. Melainkan kecewa dan putus asa dengan apa yang kita pinta pada dunia. Semua terjadi tidak sesuai dengan lantunan doa. Lalu adek hadapi dan lewati hingga membentuk diri atas usaha yang dilewati.”
“Mikirnya sulit yah?” tanya ibu ke Mahaf sembari membuka isi keresek berwarna merah yang sedari tadi ia bawa “Udah, maem dulu nih.” sembari tangannya menyuapi kue donat ke mulut Mahaf.
Kembali di ruang kerjanya, Mahaf kembali tersenyum.
Ia memang tak begitu mengerti apa yang bapak maksudkan kala itu, usianya yang baru beranjak 12 tahun tak akan mampu mencerna pemahaman orang tua. Namun tatkala beranjak dewasa, Mahaf paham akan suatu hal. Jika gembira bisa berubah duka, begitu pun dengan kecewa, ia pasti akan menjadi bahagia.
Mahaf beranjak ke meja kerjanya. Membuka kembali catatan di laptopnya. Memulihkan kembali sampah yang dibuangnya...
Inilah Mahaf. Mahaf yang kembali melangkahkan kaki setelah 30 hari mati suri akan cinta yang sempat ia kagumi...











