Sungguh rasanya kelelahan, kewalahan.. Saat otak menyuruhku berhenti, hati malah menyemangatiku untuk lanjutkan saja.
Dibalikmatahari

seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from Yemen
seen from Netherlands
seen from Poland
seen from United States

seen from France
seen from Australia

seen from China
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Dominican Republic
seen from Austria

seen from Kazakhstan
seen from Croatia
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from China
Sungguh rasanya kelelahan, kewalahan.. Saat otak menyuruhku berhenti, hati malah menyemangatiku untuk lanjutkan saja.
Dibalikmatahari
Menjadi teman
Aku hanya memiliki sedikit teman, apalagi sahabat... Lebih sedikit lagi. Menjadi seorang teman itu bukan perkara mudah, makanya aku tidak melabel-kan semua orang yang aku kenal sebagai temanku. Bagiku, seorang teman tidak menuntut apapun. Dia menjadi teman bukan karena menginginkan adanya simbiosis mutualisme, namun atas dasar ketulusan dan kepercayaan. Jika sudah tulus dan percaya, pasti simbiosis itu akan terasa dengan sendirinya. Bagiku, seorang sahabat bukanlah menjadi seseorang yang banyak cerita dan ngoceh sana sini namun dia haruslah a good listener untuk sahabatnya. Dia juga orang yang menutupi aib sahabatnya, bukan malah mengumbar kemana-mana. Mungkin menurut kalian mencari teman dan berteman itu hal yang mudah, ya memang mudah. Yang sulit adalah "menjadi teman" bagi orang lain, "menjadi sahabat" bagi orang lain.. Karena berteman atau bersahabat berarti juga berkomitmen satu sama lain kan?
Sahabat itu, orang yang bahkan tak perlu bertanya banyak hal namun bisa tahu segalanya. Sahabat itu, orang yang tahu kapan harus memaksa kita berkata jujur dan kapan harus membiarkan kita menyimpan semuanya sendiri. Sahabat itu, takkan mempermasalahkan apabila kita hanya datang disaat butuh kemudian pergi disaat kita bahagia karena mereka akan tetap ikut merasa senang apabila kita menikmati kebahagiaan kita. Sahabat itu, takkan pernah benar-benar marah karena rasa sayang mereka jauh lebih besar. Ketulusan dan keikhlasan memang dua hal yang sangat penting dalam landasan persahabatan.
Dibalikmatahari
Keperawanan?
Kemarin saya dengar pembicaraan beberapa perempuan yang sedang ngerumpi di warung bakso dekat rumah, dan salah satu dari mereka menangis sambil bercerita bisik-bisik. Karena warung bakso tersebut kecil jadi meski bicara dengan bisik-bisik, tetap saja bisa terdengar oleh yang lain. Saya sebenarnya tidak menguping, hanya saja saya dengar beberapa kata yang disebutkan perempuan yang sedang menangis itu diantaranya adalah "pacar" "mantan" "putus" dan "keperawanan". Ya, untuk kalian yang tidak ikut mendengarkan saja mungkin bisa langsung paham apa sebenarnya benang merah dari percakapan mereka. Benar sekali, perempuan yang sedang menangis itu sedang bercerita tentang "keperawanan"nya yang telah diambil oleh mantan pacarnya kemudian saat dia punya pacar baru dan pacarnya mengajak si perempuan untuk "ehem" lalu setelah itu sang pacar tau jika perempuan itu sudah tidak perawan. Dan akhirnya si pacar memutuskan si perempuan tersebut dengan alasan dia tidak ingin punya pacar yang "tidak baik-baik" dan "tidak perawan". Seandainya saya yang jadi sahabat-sahabat si perempuan itu, saya sudah pasti datengin cowoknya dan saya tampar sekeras-kerasnya. Sekarang coba pikir, seandainya si pacar ya kita sebut aja si A. Seandainya si A ingin punya pacar yang perawan lalu kenapa si cewek ini digarap juga? Padahal pun awalnya si cowok itu tidak tahu bahwa si cewek tidak perawan, dia tau ya karena udah ngincipin si cewek ini ya kan? haloooo, otaknya pindah di dengkul atau di sikut? Saya tidak sepenuhnya membela si cewek dan tidak sepenuhnya membela si cowok. Dimana-mana, menjadi posisi si cewek tersebut sangatlah serba salah karena apa? Saat si cewek punya suami nanti, suaminya akan tau bahwa si cewek ini sudah pernah "berhubungan" dengan pria lain. Tapi si cewek belum tentu tau kan apakah si cowok ini masih awam atau expert? Karena memang tanda-tandanya tidak mudah terlihat pada cowok. Hanya saja pesan saya untuk para laki-laki di luar sana yang mungkin sedang menetapkan standar yang tinggi dalam mencari calon pendamping hidup. Sah sah saja bagi kalian yang ingin punya istri sholihah, rajin mengaji, rajin shalat, masih polos, dan lain-lain. Namun yang perlu diingat adalah; apakah kalian sudah pantas menjadi sosok suami bagi wanita yang seperti itu?, apakah kalian sudah berkaca pada diri kalian sendiri?, apakah salah apabila ada seseorang yang mempunyai masa lalu buruk kemudian datang pada kalian dan ingin berhijrah berdua?, apakah keperawanan sebegitu penting bagi kalian? Jika ada dua pilihan, apabila ada "mantan orang baik" dan "mantan orang jahat" yang datang pada anda.. Anda pilih yang mana? Terakhir untuk wanita-wanita yang sudah pernah "berhubungan" atau wanita yang merasa dirinya tidak pantas mendapatkan suami idaman karena "kekurangannya".. Jangan berpikiran seperti itu, Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan dan setiap kejadian hidup yang kalian lalui itu bukan tanpa alasan. Baik buruk yang kalian lakukan semasa hidup pasti memiliki hikmah dibaliknya. Jadi janganlah berkecil hati karena akan ada seseorang yang menerima kamu apa adanya dan mampu membimbing kamu ke jalan kebaikan asalkan kamu benar-benar ingin dan berusaha. Lalu untuk wanita-wanita yang sekiranya masih "polos" ya, jagalah semua itu karena meskipun ada kata-kata "laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik", pada dasarnya lelaki brengsek pun menginginkan wanita yang baik-baik. -dibalikmatahari
Ngefans sama temen sendiri😂
Aku hanya akan terus berlari mengejarmu hingga aku lelah. Namun saat aku telah benar-benar lelah nanti dan kamu tetap berlari, maaf aku harus berhenti
Dibalikmatahari
Istri yang baik
Aku memiliki banyak cita-cita, di banyak bidang pula. Karir, masa depan, hubungan pertemanan, keluarga, dan lain-lain. Namun ada satu cita-cita duniawi yang harus tercapai sesulit apapun usahanya, dan aku berusaha serta mendoakan cita-cita tersebut. Aku ingin menjadi seorang istri yang sholihah, dan sosok ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Hanya itu saja impianku yang ingin aku wujudkan. Aku ingin saat suami pergi kerja, satu hal yang ada dipikirannya adalah mengerjakan pekerjaan dengan baik kemudian segera pulang kerumah agar segera bertemu denganku lagi. Saat suami sedang marah, aku adalah satu-satunya orang yang dapat meredam amarahnya. Saat suami sedang sedih, aku adalah satu-satunya orang yang akan menghapus air matanya. Saat suami sedang lelah, aku adalah satu-satunya yang dapat menjadi pegangannya. Aku ingin menjadi saksi bagaimana susahnya berjuang bersama dari bawah, lalu tersenyum diatas bersama-sama. Aku ingin menjadi sosok istri yang sabar, yang mana saat suami marah justru dia lebih nyaman dirumah. Aku ingin menjadi sosok istri yang pemaaf, yang selalu memaafkan setiap kesalahan dan lalu mendoakannya. Aku ingin menjadi sosok istri yang dapat dibanggakan.. Bukan paras, ataupun jabatan&title-nya. Namun tutur kata, kelembutan, ketabahan, dan rasa keibuan. Aku ingin menjadi istri yang sopan, yang tidak pernah meninggikan suaranya. Aku ingin menjadi istri yang tau diri, yang selalu menutupi aib keluarganya. Tak hanya itu saja, aku juga ingin menjadi sosok Ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Yang tak pernah marah berlebihan dan tak pernah main tangan. Yang dapat menjadi ibu, kakak, sekaligus sahabat untuk anaknya. Yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang serta pedoman agama yang kuat. Tak ada doa dan harapan yang terlalu banyak serta terlalu tinggi, selama kita mau berusaha serta berdoa kepada-Nya. Amin yarobbal 'alamin.
Dan hari ini akan berlalu begitu saja, seperti yang sebelum-sebelumnya.
Dibalikmatahari