Di Atas Kedua Kaki
Manusia hidup dengan impiannya.
Dengan harapan-harapan yang dibangun di atas kedua kakinya.
Setiap perjalanan membawa ukurannya sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu dibandingkan. Karena sejak awal, jalan yang ditempuh tiap orang tidak pernah sama.
Ada yang melaluinya dengan langkah yang perlahan, ada yang setengah berlari, ada yang sedang diam berpikir kapan harus mulai melangkah.
Langkah-langkah ini kemudian akan menjadi jejak. Jejak yang membantu kita mengenali arah yang dituju. Arah yang perlahan-lahan menjadi tujuan dan kemudian mereka sebut sebagai impian.
Dan beberapa, menyebutnya sebagai bahagia.
Tapi kalian tahu kan? Langkah tiap orang berbeda? Apa yang kita temui di tiap persimpangan berbeda. Peristiwa yang kita alami selama perjalanan pun berbeda.
Pada akhirnya, perjalanan itu menjadi bagian dari kita. Menjadi bagian dari tiap keputusan, menjadi bagian dari tiap impian, menjadi bagian dari tiap pengharapan.
Jika impian kita dan mereka berbeda, tentu saja masuk akal. Jika "makna bahagia" tiap orang berbeda, untuk apa memaksa orang lain mengikuti makna yang kita bangun untuk diri kita sendiri?
Jika bahagiamu adalah sebuah istana, mungkin bagi yang lain sebuah rumah kecil yang nyaman sudah cukup. Jika bahagiamu adalah dikenal semua orang, mungkin bagi yang lain tenang saja sudah cukup.
Mungkin, bagi yang lain.. merasa cukup adalah impian terbaiknya.
Jadi... Bermimpi saja.
Atur langkahmu sesuai dengan jejak yang kamu punya. Tidak perlu merasa kurang, tidak perlu membandingkan, tidak perlu merendahkan, tidak perlu menyalahkan.
Sayangnya, terkadang kita lupa.
Kita terlalu sibuk membandingkan. Menjadikan hidup kita sebagai standar bagi orang lain.
Atau menjadikan"makna bahagia" orang lain, menjadi "makna bahagia" kita.
Kita menjadi lebih sibuk melihat langkah orang lain, daripada melihat arah langkah kaki kita sendiri.
Tanpa sadar, kita mulai percaya bahwa hidup memiliki standar yang harus dicapai. Bahkan media sosial membuat kita yakin bahwa hidup memiliki suatu standar yang harus kita kejar.
Padahal, standar hidup tidak lahir dari kata-kata influencer atau quote yang sedang ramai saat ini. Bukan soal pengalaman orang lain, bukan soal jejak orang lain. Bukan soal pencapain, bukan soal kegagalan orang lain.
Hiduplah. Jalani saja. Dengan impianmu. dengan makna bahagiamu.
Pada akhirnya, tiap orang sedang mengambil langkahnya masing-masing dan yang tersisa hanyalah langkah paling jujur yang pernah kita pilih.













