Ramadhan Journal: 1. Pemilik Doa yang Mustajab
Suatu hari Marwan bin Hakam, kakek dari Umar ibn Abdul Aziz berkata dari atas mimbar,
“Harta negara ini adalah harta kami (Bani Umayyah), terserah kepada kami mau diberikan kepada siapa”
Lalu seorang lelaki radhiallahu ‘anhu berdiri dan mengatakan “kalau begitu aku akan berdoa kepada Allah”, sekedip kemudian Ibn Hakam melompat dari atas mimbar dan memeluk lelaki itu seraya berkata “jangan wahai Abu Ishaq, jangan berdoa. Demi Allah harta ini adalah milik Allah dan akan dibagikan sesuai dengan aturan Allah”
Bagaimana rasanya mengancam seorang penguasa dengan doa?
Laki-laki ini radhiallahu ‘anhu menjalani sisa usianya dengan doa-doa yang selalu terkabul. Beliau radhiallahu ‘anhu adalah satu dari Assabiqunal Awwalun. Tidak lama setelah Khadijah, Abu Bakar, Ali Ibn Abi Thalib dan Zaid Ibn Haritsah radhiallahu ‘anhuma ‘ajmain. Beliau memeluk islam ketika berusia dua belas tahun melalui wasilah dakwah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Beliau merupakan seorang anak yang penuh bakti dan cinta kasih kepada Ibunya. Ketika beliau memeluk Islam, sang Ibu melakukan protes dengan mogok makan selama beberapa hari berturut-turut. Beliau terus saja membujuk sang Ibu untuk makan, menyiapkan makanan hangat untuknya namun sang Ibu tetap pada pendiriannya. Dalam kondisi payah sang Ibu mengancam bahwa ia tidak akan makan hingga meninggal dan beliau radhiallahu ‘anhu akan dicela sebab durhaka kepada ibunya. Lalu Allah menuntun lisan beliau untuk menjawab demikian
“Wahai ibunda janganlah engkau melakukan demikian, karena aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun”. Maka ibuku pun sehari dan semalam diam tidak makan, sehingga tatkala keesokan paginya ia dalam kondisi sangat payah. Lalu ia tetap bertahan hingga hari berikutnya tidak makan. Maka pada pagi harinya kondisinya semakin sangat parah. Tatkala aku melihat kondisi tersebut maka aku berkata, “Wahai ibunda, ketahuilah, demi Allah, seandainya engkau memiliki 100 nyawa lalu nyawa tersebut keluar satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkankan agamaku karena sebab apapun, jika kau mau maka makanlah dan jika kau mau maka tidak usah makan!”. Maka ibukupun makan”
Peristiwa ini menjadi asbabun nuzul surah Luqman ayat 15, yang artinya:
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." — Luqman: 15
Maha Benar Allah telah mengabadikan kemenangan beliau radhiallahu ‘anhu dalam perang psikologis melawan Ibunya dan menjadi contoh bagi seluruh muslimin untuk tetap mengikhtiarkan bakti tanpa menyekutukan Allah.
Suatu hari di antara perang Badar Sughra ketika tengah menjagai kemah Rasulullahﷺ, beliau berinisiatif untuk menyiapkan air wudhu bagi Rasulullahﷺ untuk melaksanakan qiyamul lail. Mendapati hal ini, Rasulullahﷺ merasa senang dan berkata “Apa yang kamu inginkan? Aku akan doakan untukmu”. Lalu dengan pemikiran amat strategis beliau radhiallahu ‘anhu menjawab “Wahai Rasulullah doakanlah agar semua doaku mustajab” Kemudian Rasulullahﷺ mendoakannya dan berpesan padanya agar menjaga apa yang ia makan.
Beliau radhiallahu ‘anhu merupakan pemanah terbaik sepanjang masa. Tidak sembarang orang dapat mengangkat busur yang beliau gunakan. Diriwayatkan oleh Ali Ibn Abi Thalib, tiada seorang pun yang pernah mendapatkan jaminan sebaik yang beliau dapatkan dari Rasulullahﷺ ketika hendak memanah di Perang Uhud. Satu anak panah yang beliau lesatkan dapat menewaskan tiga musuh Allah sekaligus.
Tidak hanya itu, ketika penduduk Madinah beramai-ramai membanggakan Khali (paman dari pihak Ibu) yang mereka punya, Rasulullahﷺ juga membanggakan beliau sebab walau terpaut hampir tiga puluh tahun lebih muda dibanding usia Rasulullahﷺ, beliau adalah Khali bagi Rasulullaahﷺ. Beliau radhiallahu ‘anhu adalah bangsawan dari Bani Zuhrah, suku asal Ibunda Rasulullahﷺ
Setelah memimpin pasukan yang memenangkan perang melawan Persia, beliau diangkat menjadi gubernur wilayah Kuffah oleh Amirul Mukminin pertama umat Islam. Ketika Umar mendatangi masjid-masjid untuk menginspeksi kinerja beliau, terdapat seseorang pada satu masjid yang dimakmurkan oleh Bani Abes mengatakan bahwa beliau berkinerja buruk. Mengambil posisi di belakang saat perang, tidak adil dalam membagi harta dan tidak becus dalam shalat.
Menanggapi hal ini beliau menjawab segala tuduhan dan mengakhiri dengan doa “ya Allah kalau ia jujur ingin menasehatiku maka panjangkanlah umurnya, luaskanlah rezekinya dan berkahilah hidupnya. Tetapi jika ia berdusta atau mencari muka maka panjangkanlah umurnya, sempitkanlah rezekinya dan hinakanlah usia tuanya.”
Maka delapan puluh tahun kemudian ada seorang tua yang rambutnya putih keseluruhan, alis dan jenggotnya menyatu dan memutih, meminta-minta dan kerap menggoda gadis muda yang melintas sehingga orang-orang mencaci makinya. Tua dan terhina.
Beliau merupakan satu orang yang namanya disebut langsung oleh Umar Ibn Khattab di pembaringannya, merupakan satu dari hanya segelintir orang yang Umar tunjuk sebagai majelis syura untuk menentukan penggantinya.
Beliau menghabiskan usianya dengan berdakwah ke banyak negara, kemudian menjadi yang terakhir wafat dari kalangan Assabiqunal Awwalun.
Radhiyallahu ‘anhu, Saad Ibn Abi Waqqash