Kata: Yang Tetap Setia Menjadi Senjata
Aku dilatih berbicara sejak bayi, agar lidahku mengenal dunia. Namun di usia dewasa, aku justru lebih percaya pada sunyi. Sebab kata-kata terlalu ringkih, mudah menjelma duri, mudah berubah jadi dosa.
Lebih baik kusimpan riuh itu di tinta. Di sana, kata bisa kuperhalus, kuhapus, kutata ulang. Sementara suara, sekali meluncur, hanya menyisakan luka yang tak bisa ditarik kembali.
Dan lihatlah, betapa murahnya bicara di hadapan tiran. Seberbusa apapun lidah, tetap dianggap buzzer, atau dicap kanak-kanak yang tak tahu apa-apa.
Barangkali benar: diam itu emas. Tapi emas tak selalu suci, kadang ia berkarat dalam kegelapan.
Maka, Tuhan, izinkan aku memilih jalanku sendiri: berdiri di belakang, diam di keramaian, namun riuh dalam tulisan.
Karena aku percaya, saat pedang tumpul, hanya kata yang tetap setia menjadi senjata.

















