Camar mengudara di langit sore bermahkota jingga
Aku dan kau adalah dua anak manusia yang tak mampu menghindari pukau senja
Sesaat, dadaku digelitik barisan lengkung bulu lentik nan cantik
Dari sepasang mata yang menerbitkan purnama dalam tatapnya
Ada senandung yang aku tahu kelak akan kurindukan mengalun pelan dari desah napasmu
Sesuatu yang mungkin akan kukenang sebagai sebaik-baiknya lagu
“Kau datang”, kataku tanpa mampu sembunyikan sipu
Sementara kau hanya balas mengangguk, memperlihatkan senyum yang berhasil memporak-porandakan isi dadaku
Semesta menghidangkan malam dengan gigil yang sama seperti sebelumnya
Dan isi kepalamu tetaplah menjadi satu-satunya rasi bintang yang aku suka
Seperti menyimak sebuah buku, di antara lembar-lembar cerita, kau tak pernah kehabisan pesona
Jadikan dingin yang merusak enggan merasuk ke dalam raga
O, tuan
Kaulah penyedia dekap paling jauh yang menjadi satu-satunya tempat kuingin jatuh
Kaulah pencipta kenang senyala kunang pada keningku
Kaulah keajaiban, hangat kebahagiaan yang mencuri air mataku perlahan-lahan
Kaulah deras yang meregas segala cemas
Maka setelah ucapan selamat tinggal, aku tak pulang
Memandang gemintang yang hampir lindang dengan tatap paling malang
Di kepalaku, berdenyut malam yang terlalu pekat
Di langitnya, kau satu-satunya purnama yang kuingat
Adakah cinta telah memelukku?
Sambil bersenandung, kuterbangkan doa-doa sederhana
Sesederhana desis angin di telingaku yang tak henti membisikkan namamu
“Tuhan, kekalkan aku dalam degupnya sebagaimana Engkau berbaik hati melekatkan ia dalam ingatku”
Moga semesta mengaminkan
______________________
ps: Terima kasih, tuan.
Maaf, lancang menyelipkan dua buah kulit kerang di kantungmu semalam saat kau sibuk melihat-lihat buku yang aku pinjamkan. Ayah menjemput, tuan. Beliau mengajakku kembali ke kota untuk menyelesaikan studiku. Esok sebelum senja menghilang, aku tunggu kau kembali datang.
Bawa satu kulit kerang dan simpan yang lainnya jika sama kau rasakan cinta. Atau tak usah datang, dan biarkan aku melahap malam terakhirku di tepi pantai dengan memoar indah percakapan kita.
Jogjakarta, 11 November 2014
Ara
===========================
senja itu, cinta telah menang
ibuku pasti tak percaya
saat kubilang ada perempuan menawan
sedap dipandang, melekat di ingatan
hampir melebihi ibu
kalau saja ibu bukan ibu
sudah kubilang pesona perempuan itu yang pertama
tapi tak apa—apa
nomor dua dari ibu yang pertama
berarti teristimewa
perempuan itu kau, —tentu saja
kemarin senja, di tepi pantai yang ditinggal nelayan pulang
cinta telah menang
kita adalah sepasang tangan bergenggaman
melahap senja membenam dilahap malam
sepasang kecup yang saling melumat aduh
saling merengkuh dalam peluk bersauh
o, nona
betapa cinta tak pernah salah memeluk kita
menyembuhkan setiap luka yang meraja
pelipur bagi lara-lara yang gulana
pembunuh sepi yang menyekap kita berdua
percayalah,
kaulah yang merangkul jantung
saat debar kehilangan detak
kaulah penopang sendi
saat aku tak mampu berdiri
maka,
kupersembahkan untukmu
segenggam hati
terbuat dari kesetiaan dan ketabahan
satu yang menggenapi
pada setiap hari-hari
aku
: mencintaimu
________________________
*ps:
terima kasih untuk cinta yang kau tawarkan.
kau datang saat aku sedang merasa teramat kesepian.
omong-omong, aku menyelipkan iPod berisi lagu-lagu kesukaanku dan foto-foto kita beberapa hari lalu. mainkanlah lagu-lagu cinta, semoga menjadi teman perjalananmu menuju kota. berhati-hatilah dalam perjalananmu. tunggu aku di sana, aku akan datang bahkan sebelum kau sempat merindukanku. i love you, keyla.