Hati Paling Belati
Sesekali aku ingin berhenti menulis tentangmu, sebab sadar bagaimanapun kutumpahkan rasa ini di secarik putih ruang pena, tetap saja bait demi bait yang tertuang tak mampu membuatmu berpaling untuk melihat betapa berantakannya seisi hatiku yang dipenuhi segala hal tentangmu. Abaimu, diammu bahkan tatap yang sedikitpun tak sudi kau titipkan padaku membuat luka-luka kian berantai mengurai derai.
Sesekali aku ingin berhenti mengayuh rasaku menuju labuhan rasamu, membiarkan langkah ini sekarat hingga mencintaimu tak lagi berat saat sadar bahwa dermaga yang ingin kutuju terlalu jauh untuk kutempuh.
Sesekali aku ingin berpaling lalu melapang dada, membiarkan sketsa mimpiku menjadi buram. Sebilah asa tak lagi sanggup menopang rasa yang kian remuk, seolah liang ketiadaan menggali kematian untuk rindu-rindu yang terbiar.
Hanya sesekali, karna setelahnya berkali-kali aku tetap menguntai aksara cinta di penggalan sajak harap untukmu. Aku tetap melaju derap menuju saung hatimu meski tertatih dan berdarah, dan terus menatapmu dengan hati paling belati.
Balikpapan, 21 Okt 2023











