Berdamai dengan Masa Lalu
“Boleh aku bertanya padamu?”
Kau terdiam, sembari memutarkan sedotan Orange Juice yang sisa setengah gelas lagi.
“Kapan pertama kalinya kamu mengenal Cinta?”
Dahi mu mengernyit, “Kok tumben nanyain itu? Biasanya ga mau bahas soal cinta-cintaan…”
Aku tersenyum. “Jawab dulu, nanti kuberi tahu alasannya…”.
Mata mu memandang keatas, lesung pipi itu tampak lagi, ahh kamu memang tak berubah, tetap cantik seperti dulu…
“Mau aku jawab jujur, atau pura-pura?”, katamu manja.
Aku sedang tak ingin bercanda untuk saat ini, ku tatap tajam matanya. Kamu langsung membenarkan posisi dudukmu, kau pun paham jika aku seperti ini berarti tandanya serius.
“Kamu tahu, semua orang punya masa lalu, begitu pun aku. Khimar yang aku pakai ini,- sambil kau pegang kain baju jingga itu- tak serta merta betah dan nyaman aku pakai begitu saja. Penampilan ku dulu tak seperti ini, jauh dari identitas seorang muslimah seutuhnya…
Yes. Aku berhasil membuat mu serius kali ini, aku tak berkedip menatap mu. Seolah meminta mu untuk melanjutkan.
“Awal kuliah, aku adalah wanita penuh obsesi duniawi. Ingin dilihat, diperhatikan, terkenal dimata teman-teman, berbangga diri dan angkuh terhadap yang ku punya. Sampai aku menemukan seorang Pria tampan (menurutku secara kasat mata), yang datang mendekatiku lalu menyatakan perasaaan nya. Siapa yang tak tergoda oleh pesona bak pangeran berkuda putih di dunia nyata, apalagi kabarnya dia adalah model papan atas, lebih tepatnya kakak tingkat satu fakultas di kampus.”
Aku melipatkan jari-jemariku diatas meja, mulai tenggelam dengan alur cerita yang dia sampaikan.
“Awalnya ku kira inilah yang namanya cinta, bisa menjalin hubungan dengan seorang pria tampan penuh pesona. Bermesraan dan jalan berdua siang hingga larut malam. Makan dan nonton bioskop setiap weekend, pokoknya tiada hari tanpa berdua. Nafsu yang dibungkus cinta, ternyata pria tampan itu hanya memakai topeng saja. Dibalik pesona dan ketenaran nya dikalangan anak muda, ada keburukan-keburukan yang Allah tampakkan padaku. Seolah pria itu tak baik bagiku, hingga akhirnya aku putuskan hubungan nista tersebut. Cukup bagiku untuk mengetahui kebodohan dimasa lalu, semoga kau paham inilah masa lalu ku dalam mengartikan cinta.”
Kau berdehem sejenak, tatapan itu membuatku meleleh, sejenak waktu serasa berhenti. Aku ingin menekan tombol ‘pause’ dan beberapa menit saja memandang mu dari dekat.
“Sekarang giliran mu, kenalkan lah dirimu sebenarnya…”.
“Berilah aku pertanyaan, biar aku bisa memulai ceritaku…”.
Telunjuk mu beradu dengan dagu, tangan mu berkesiap, matamu memandang ke sudut kiri atas.
“Ceritakan pula pengalaman mu soalan dirimu di masa lalu?”.
“Heh, pertanyaan yang lain kek”, sergah ku.
Kamu menggeleng. Sambil mengedip-ngedipkan mata, bulu matamu lentik, - ah aku jangan sampai melamun lagi- , “Aku mau nya nanya itu, please…”.
Aku lagi-lagi mengalah. “Oke, baiklah”.
“Yang kau lihat didepan matamu ini, dulu adalah pria pendiam. Sampai akhirya lingkungan lah yang membuatnya jadi sosok berbeda. Karena masalah ibu dan ayah yang cekcok terus setiap waktu, membuatku jadi seorang anak yang memilih dunia luar sebagai tempat bermain. Buat apa di rumah, kalau yang kudapati hanya omelan, bentakan, makian, rumah semi neraka, menurutku…”
Muka mu mulai terhanyut di alur cerita yang aku lisankan.
“Akhirnya, aku jadi anak jalanan ibukota. Beberapa kali kabur dari rumah, ketahuan memukul anak orang, di kejar dan disangka maling, sampai beberapa kali harus di tangkap petugas satpol PP. Untungnya, aku tak sampai berinteraksi dengan minuman keras dan obat-obatan. Oh ya, soal cinta pada lawan jenis, aku tak punya track record yang baik. Sampailah aku diperlihatkan oleh pemandangan malam itu dibawah lampu taman yang temaram. Saat jiwa ku kosong dan hampa, di trotoar jalanan ada anak kecil berbaju kaos putih yang sudah berubah hitam warna nya, dipinggirnya ada gerobak dorong. Tak lama ada seorang ayah yang datang sembari membawa potongan roti. Saat sang ayah menyodorkan pada anaknya, lalu sang anak pun membelah roti itu jadi potongan yang lebih kecil. Ia kasihkan ke ayahnya, sembari menyuapkan roti ke mulut ayahnya. Wajah lapar itu tak bisa disembunyikan, walau sang anak tersenyum dan memeluk erat ayahnya. Seketika… Aku langsung teringat ibu dan ayah di rumah, sayangnya berita bahwa mereka bercerai sampai ke telingaku. Dan… Hingga sekarang aku masih berusaha untuk menerima kenyataan ini, menyesali masa lalu ku yang kelam.”
Pipimu akhirnya basah. Ku ambil tissue, dan ku susut air matamu.
“Kenapa, kok jadi kamu yang nangis?”
“Sedih”.
“Maafkan, aku tak bermaksud membuat mu sedih…”.
“Ah, tak apa. Wanita memang suka terbawa suasana, ya”.
Langit senja menyapa, tak berlama-lama kami pun keluar dari restoran dan menuju pesisir pantai untuk melihat sunset bersama.
Kami duduk berdua, aku menyenderkan kepala ke pundak mu. Udara pantai membuat diriku semakin nyaman berdekatan.
“Mas, bagaimana sikap kita terhadap masa lalu?”
Aku menjawab nya, “Seburuk apa pun masa lalu kita, jangan pernah memusuhinya. Berdamailah dengan masa lalu, agar ia tak menganggu masa depan”.
“Iiiih, so sweet… Kau mencubit pinggang ku,”
“Adu..duuuh, sakit…”
“Ehh, aku jadi belajar tentang percakapan kita sore ini. Belajar bahwa Masa lalu nya adek, miliknya adek. Masa lalunya mas, miliknya mas. Sedangkan masa depan adalah milik kita bersama”.
“Waaaaah, sweet banget…”.
“Ada yang lebih sweet mas, tuh lihat sunset nya udah muncul. Selfie dulu yuk?”
“Ayok…”
***
Nanya: Apa yang kamu bisa ambil dari tulisan ini? Silahkan berikan jawaban di kolom komen yaa… *Semoga ndak salah focus :D
Bandung, 3 Maret 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara.










