KERIDOAN TUHAN TERGANTUNG KERIDOAN ORANG TUA
Umar bin al-Ash berkata, Rasulullah bersabda, "Keridoan Tuhan tergantung keridoan orangtua, dan kemurkaan Tuhan tergantung keridoan orangtua."
DOSA ORANG SALEH AKIBAT DURHAKA
Malik bin Dinar berkata, "Aku pergi haji ke Bailullah dan menyelesaikan seluruh manasiknya. Malam harinya aku tidur. Seolah ada yang berseru, 'Wahai Malik, sampaikan berita gembira kepada penduduk al-Raqim bahwa mereka diampuni oleh Allah, kecuali Abdurrahman bin Muhammad al-Balkhi.'" Malik berkata, "Aku terbangun ketakutan. Kemudian aku tanyakan perihal itu. Seseorang mengatakan, 'Dia itu orang paling berilmu, paling zuhud, paling terkenal suka beribadah, rajin membaca al-Quran, menyantuni anak yatim, dan melaksanakan haji setiap tahun.' Setelah itu, aku mendatanginya. Ternyata, dia seorang pemuda yang kurus kering. Wajahnya pucat, tubuhnya dibalut selimut wol, yang jika engkau mengenakannya, niscaya akan terluka.
Setibanya di sana, aku menguluk salam, dan ia membalasnya. Ia berkata, 'Siapakah engkau?' Kujawab, 'Seseorang dari Bashrah.'Tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca, lalu menangis hingga ia jatuh pingsan.' Setelah siuman ia berkata, 'Adakah engkau ahli zuhud dari Bashrah, Malik bin Dinar, yang akan memberi tahuku kemurkaan Allah?' Aku katakan, 'Aku mendapatkan 'wahyu' setelah Rasulullah' Ia berkata, 'Wahai Malik, aku ini minum khamar di malam pertama bulan Ramadan. Aku pun mabuk. Ayahku mencari-cariku.' Seseorang memberi tahunya, 'Dia minum khamar.' Lantas, ayahku menemuiku sembari marah-marah dan membentakku. Entah mengapa aku menamparnya. Sembari menangis ia berkata, 'Allah tidak akan meridaimu, wahai Abdurrahman.' Di pagi harinya, ibuku memberi tahuku perihal kejadian tadi malam. Aku lantas membakar khamar-khamar itu. (Sebagai tebusannya,) aku memerdekakan setiap budak yang kumiliki. (Merasa belum cukup,) aku juga menyedekahkan harta karena Allah dan melaksanakan haji setiap tahun. Seseorang memberi tahuku tentang dâr al-bawâr (rumah kebinasaan), kemudian menangis. Aku pun ikut menangis. Ia berkata kepadaku, 'Wahai kisanak, andai kata ayahmu masih hidup, engkau masih beruntung. Namun, jika ayahmu sudah meninggal, sungguh engkau teramat celaka berkepanjangan.' Ia berkata kepada Malik, 'Alhamdulillah ia masih hidup, itu di tenda yang putih."'
Malik berkata, "Aku mendatanginya dan berdiri di depan pintunya. Ternyata, dia sudah sangat tua. Wajahnya pucat, tubuhnya ringkih. Namun demikian, menebar aroma wangi. Ia sedang membaca mushaf di hadapannya. Suaranya terdengar menyedihkan. Aku menguluk salam. Ia berdiri menghampiriku dan memelukku. Ia berkata kepadaku, 'Selamat datang, wahai Malik.' Aku bertanya-tanya, 'Bagaimana kamu bisa mengenaliku?' Ia berkata, 'Tadi malam aku memohon kepada Tuhanku untuk mempertemukanku denganmu. Maka, begitu melihatmu, aku langsung dapat mengenalimu. Apakah engkau ada keperluan?' Aku menjawab, 'Ya.' Ia berkata, 'Katakanlah.' Aku katakan, 'Perumpamaan dirimu ini seperti sedang di persidangan hari kiamat. Pikiranmu kacau. Tiba-tiba seorang pemuda dengan wajah pucat pasi dan tubuh ceking diambil Oleh malaikat, lalu diperintahkan untuk dijebloskan ke dalam neraka."'
Malik berkata, "Laki-laki tua itu menangis sejadi-jadinya. Ia berkata, 'Apakah maksudmu itu anakku, Abdurrahman?' Kujawab, 'Ya.' Ia berkata, 'Aku bersaksi kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya aku telah mangampuninya. Aku meridainya. Pergilah kepadanya dan sampaikan berita gembira ini. Beritahu dia aku akan datang kepadanya.' Aku pun datang dan memberi tahunya. Mendengar itu, pemuda tersebut senang bukan kepalang, hingga ia jatuh pingsan. Tidak lama berselang ayahnya datang dan berkata, ‘Wahai kekasihku, anakku, dan pelipur hatiku, Abdurrahman, Allah tidak akan menyiksamu atas perlakuanmu di masa lalu terhadapku.' Abdurrahman masih pingsan.
Si orang tua berkata kepadaku, 'Talqin kekasihku, anakku, dan pelipur hatiku dengan lä iläha illallåh dan Muhammad rasålullåh. ' Aku menalqininya dua kali, namun ia belum juga bisa mengatakannya. Kuulangi yang ketiga kali, barulah ia bisa mengucapkan. Setelah itu, ia membuka mata sembari berkata, 'Ayah, mendekatlah kepadaku. Balaslah perlakuanku, tamparlah aku yang telah bermaksiat kepada Allah dan orang tuanya.' Sang ayah bangun dan berkata, 'Wahai anakku, Allah telah melihatmu. Dia telah meridaimu dan mengampunimu. Aku pun meridaimu.'"
Malik berkata, "Wahai kekasihku, mengapa engkau tidak juga bersyahadat ketika kubimbing hingga dua kali?" Ia menjawab, "Sesungguhnya di dekat kepalaku ada salah satu malaikat yang mengeksekusi azab, tangannya memegang pentungan dari api. Begitu aku ingin mengucapkannya, dia melarangku hingga kemudian datang salah satu malaikat rahmat yang di tangannya membawa sehelai kain dari sutra hijau. Malaikat itu kemudian mengusapkannya ke wajahku sembari berkata, 'Ucapkanlah, tidak usah takut. Sesungguhnya Allah tełah meridaimu seiring keridoan orang tuamu terhadapmu.”'
Malik berkata, "Sang ibu dan saudarinya mendengar perihal itu, mereka kemudian datang disusul banyak orang. Mereka berdua berkata, 'Menyingkirlah, biarkan kami melihat Abdurrahman sebelum ia meninggal dunia.' Keduanya masuk. Melihat mereka, Abdurrahman jatuh pingsan, kemudian meninggal dunia, Sang ibu menangisinya. Saat itu, hampir setiap orang menangis. Belum pernah aku melihat pemandangan semacam itu untuk kedua kalinya. Semoga Allah merahmati mereka semua."






















