Mbak de, pernah ga kecewa sm ortu? Kalo prnh, gmn cara mengatasinya? Gmn manajemen kecewa versi mbak dea, terutama itu pd ortu?
Jawab pertanyaan kayak gini tuh pekiwuh sih, Non. Bagaimanapun, orang tua saya juga sudah berjasa banget menemani saya sampai saya tumbuh menjadi saya yang sekarang. Jadi mau cerita tentang kekecewaan kok rasanya wkwk.
Mungkin saya dididik di budaya jawa yang lekat banget dengan idiom:
Mikul dhuwur, mendem jeruh. Jadi hal semacam ini sangat sensitif untuk dibicarakan.
Makanya, sebelum kita bicara jauh, kamu perlu memahami bahwa orang tua kamu, kamu, orang tua saya dan saya adalah manusia. Manusia tuh kalo hidup bersama manusia lain dalam jangka waktu lama, pasti pernah saling membahagiakan dan saling mengecewakan juga.
So, saya berpikir bahwa semua orang tua pernah mengecewakan anak dan semua anak pernah mengecewakan orang tua. It's an inevitable hooman thing. Hanya saja, levelnya beda. Ada yang bearable dan bisa diselesaikan sendiri. Ada yang unbearable dan butuh bantuan profesional.
Saya sampai sekarang tidak bisa mengkomunikasikan kekecewaan saya kepada orang tua saya. Saya nggak tega kalau misal beliau harus mendengar hal tersebut dari saya. Di sisi lain, jasa mereka ke saya juga jauh lebih besar dibanding rasa kecewa yang ditinggalkan.
Lantas apakah dengan berpikir demikian, rasa kecewa saya tiba-tiba hilang? Enggak juga. Saya juga manusia yang kalau hatinya terluka, nggak bisa hilang sedetik atau dua detik. Saya berusaha bersabar akan hal itu sampai suatu saat saya bisa memaklumi semuanya. Saya memilih langkah ini karena kekecewaan saya masih bearable ya. Kalo udah parah banget, mungkin butuh penyikapan yang berbeda.
Ada satu kejadian yang membuat saya berpikir bahwa saling mengecewakan adalah hal manusiawi. Suatu malam, temen saya nelfon sambil nangis. Pas saya nanya masalahnya apa, ternyata waktu itu beliau dan anaknya yang masih balita sama-sama tantrum. Dia menyesal sudah membentak anaknya.
Biar kamu bisa bayangin, saat itu temen saya habis pulang kerja. Di kantor ada masalah. Pas sampe rumah, rumah masih berantakan. Sementara anaknya belum tidur dan minta makan. Pas udah dimasakin, anaknya nggak mau makan.
Saya nggak mewajarkan membentak anak. Tapi saya menyadari bahwa parenting itu berat sekali. Teman saya itu orang yang baik dan baiknya bukan pencitraan. Orang yang baik bangetpun ternyata juga tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna.
Jadi, saya belajar memaklumi. Mungkin sewaktu saya kecil, orang tua saya sama clueless-nya dengan teman saya saat menjadi orang tua.
Semakin dewasa, sudut pandang saya terhadap orang tua saya jauh berubah. Waktu kecil, saya memandang mereka seperti superman yang kuat banget dan selalu mengayomi anak-anaknya. Pas saya dewasa, saya memandang beliau sebagai manusia pada umumnya. Punya rasa sedih, bahagia, luka batin dst dst. Kadang, luka batin mereka juga membawa pengaruh ke gaya parentingnya. Lantas pada siapa kesalahan ini ditimpakan? Pada kakek nenek kita yang ngasih luka batin ke orang tua kita? Atau bagaimana?
Saya berhenti mencari. Sudah bukan waktunya mikir tentang salahnya ada dimana. Semua orang tua pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi hanya ada sedikit kemungkinan bagi mereka untuk intentionally jahat ke anak-anaknya. Salah itu manusiawi.
Setelah memahami ini, saya pelan-pelan berusaha mencari inner child saya agar saya tidak lagi mendewasa dengan luka. Setelah itu, saya baru memperbaiki hubungan dengan orang tua saya.
Honestly, apa yang terjadi dalam keluarga saya membuat saya takut untuk menikah. Sekarang saya masih takut. Tapi setidaknya, saya sudah berusaha belajar untuk membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar saya. It takes process. Butuh kesabaran panjang.
Saya merasa usaha untuk menyembuhkan luka inner child itu penting karena saya tidak mau kalau misal kelak saya punya anak, cara saya mendidik anak jadi dipengaruhi oleh luka batin di alam bawah sadar saya.
Misalkan kita jadi anak yang selalu dikekang sama ortu, mungkin kita jadi berpikir bahwa parenting terbaik adalah dengan membebaskan anak dengan sebebas-bebasnya tanpa ada rasa peduli mereka berjalan kemana.
Atau kalau nggak gitu, kita menjebak anak kita ke dalam lingkaran setan: parenting yang mengekang turun-temurun.
Ini cuma contoh :D Bukan masalah personal saya.
Terakhir, tidak ada parenting yang sempurna. Bisa aja yang diterapkan orang tua kita ke kita adalah parenting yang menurut mereka terbaik karena informasi yang tersedia waktu itu ya hanya sebatas itu.
Ada banyak orang tua yang merasa bahwa menyemangati anak dengan membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain adalah hal yang wajar. Tapi pas anaknya dewasa, mereka baru tau bahwa hal tersebut bisa meninggalkan luka. Bagaimanapun, mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Kita tidak bisa berpura-pura untuk tidak terluka. Tapi menyerang orang tua kita dengan kesalahan-kesalahan mereka tanpa mengapresiasi kebaikan mereka ya nggak fair juga. Di titik ini, kita perlu banget buat belajar adil ke diri kita dan orang tua kita.
Di masa depan, mungkin aja kita melakukan hal yang sama. Meskipun di sekitar kita ada banyak sekali teori parenting. Maka dari itu, selesai sholat, jangan lupa berdoa kepada Allah.
Kita doakan kebaikan untuk orang tua kita, diri kita sendiri, calon pasangan kita dan anak-anak kita meskipun belum lahir. Mintalah hidayah, agar kalau suatu saat kita saling melukai, kita diberi petunjuk untuk memahami dan saling memaafkan. Jika kelak luka batin kita dan anak-anak kita membawa pada hal-hal yang buruk, semoga Allah memberi kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Hidup pada akhirnya berujung pada kepasrahan. Silahkan overthinking di siang hari atau menjelang tidur, tapi pas sholat, jangan lupa doa :)