sampai "akhirnya" #edisikerja
Emang ya, kalau udah ada niat baik. Niat lurus, pasti. Ada… aja, ujiannya.
Ku pernah denger, kita itu akan diuji berdasarkan apa yang kita pinta. Tingkatan ujiannya pun akan disesuaikan dari apa yang kita minta dengan sungguh maupun dengan segera. Pernah ga, ngerasa “ya Allah.. capek.. berat..” dimana, kita lagi usaha-usahanya banget nih untuk mencapai hal tersebut. Ya.. begitu. Itu lah ujiannya. Entah, capek fisik, berat hati, lemah iman, ataupun lelah pikiran. Memang semuanya ga ada yang mudah, tapi karena kita lagi butuuuh banget nih, sama hal tersebut, seringkali kita mengabaikan hal-hal yang Allah beri kepada kita. Tanpa kita sadarinya. Misal, lagi fokus-fokusnya kerjaan; isi pikirannya, banyak ide tapi belum sempet tersalurkan. Akhirnya kepala pening dan mumet. Waktunya cuma 24 jam tapi pengennya segera rampung. Akhirnya gelisah, berasa dikejar waktu. Badan pegel harus pulang pergi kantor. Akhirnya, nyampe rumah tetap harus pijet-pijet kaki sendiri. Tapi? Pernah kah kamu menyadari sisi yang lainnya? Coba berhenti sejenak. Diam dan mengamati diri sendiri. Tarik nafas dalam sambil pejamkan mata. Bagaimana cara Allah menggerakan badanmu agar bisa sampai ke kantor dengan selamat. Bagaimana cara Allah mengendalikan pikiranmu untuk terus berpikir kreatif dan menjadi sibuk dihari-harimu itu. Bagaimana cara Allah tetap menggerakkanmu untuk tetap shalat meski jadwal kerjaan sedang padat. Bagaimana jika, memang itulah beberapa dari banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita, tapi seringkali kita melupakannya. Kan?
Bersabarlah, ya. Sebentar lagi. Ini perjuangannya, sampai “akhirnya” yang kita mau. Kita maunya, banyak ide, tersalurkan dengan mindful terbiasa menulis brainstorming. Akhirnya bisa jadi bahan diskusi harian ke partner ataupun rekan kerja. Kita maunya, 24 jam bisa membaginya antara kerjaan, pribadi, dan keluarga, sehingga akhirnya? Ada yang bisa bantu mengerjakan dengan mendelegasikannya ataupun bantu mendengarkan dengan menceritakannya. Kita maunya, pulang pergi kantor pegelnya naik turun transportasi publik, akhirnya bisa mereda dengan pijatan partner yang sudah menunggu di rumah.
Ada hal yang memang untuk mencapai “akhirnya”, kita mesti berlelah-lelah dulu, sebelum akhirnya berleha-leha. Jadi, bersabar sebentar ya. Kita yakini pada diri kita sendiri, bahwa kita mampu untuk mencapai apa yang kita tuju.
-sea.













