Untuk Hardiknas tahun ini saya memilih kutipan dari Nanang Modip: "Disuruh ngarang malah mikir, disuruh mikir malah ngarang." Saya kira itu tak hadir dari alam bawah sadar pikiran para pelajar Indonesia. Seluruh elemen pendidikan kita harus terus berevaluasi untuk memecahkan persoalan di atas. Jangan sampai para penerus bangsa (saya diantaranya) mengarang jalan keluar atas persoalan ekonomi-sosial-politik-budaya Indonesia, alih-alih berpikir. Tentu, isu pendidikan kita yang masih jauh dari ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan harus terus digalakan. Bahkan, kita harus benar-benar, dalam artian tidak setengah-setengah, bergabung dengan gerakan mewujudkan pendidikan tersebut. Juga yang tak kalah penting bagi saya, menerjemahkan dan mengembangkan persoalan pendidikan tersebut ke ranah yang paling kecil dan konkret. Semisal persoalan bahasa dan sastra. Karena itu berkaitan dengan akademik saya. Sampai saat ini, saya masih heran dengan keberhasilan siswa dalam pelajaran matematika, kimia, fisika dan lainnya sebagai ukuran kecerdasan siswa. Apakah ia yang tak begitu paham dengan elektron, bilangan prima, dan unsur periodik tapi pandai menulis puisi dan prosa bukan siswa yang pandai? Juga harus jadi bahan koreksi untuk kita semua bahwa prestasi siswa bukan hanya datang dari olimpiade matematika atau fisika, haruslah kita mulai membuka mata pada prestasi siswa dalam menulis dan membaca puisi. Saya kira, banyak sekali kegiatan yang menyelenggarakan kegiatan sastra untuk siswa. Tapi tetap dipandang sebelah mata. Alasannya tentu saja kurang bergengsi dan hadiahnya yang tak besar. Sebab, sponsor untuk kegiatan sastra tidak sebanyak kegiatan lainnya. Bukankah budaya adalah ukuran utama atas peradaban suatu bangsa? Barangkali itulah mengapa bangsa kita kurang beradab. Dalam hal ini bisa dilihat bagaimana bangsa kita belum mau mengakui telah melakukan dosa pembantaian masal. Bangsa kita belum mengembalikan aktivis-aktivis 98 yang diculik kepada keluarganya. Dengan menyesal, saya harus katakan bahwa bangsa kita dengan aparatus negaranya masih memenjarakan pikiran dan imajinasi masyarakatnya. Mengsubordinasikan prestasi lain di bawah prestasi eksak adalah bukti kongkret. Namun, bukan berarti eksak tidaklah penting. Saya kira haruslah berimbang. Sehingga membuka seluas-luasnya cakrawala ilmu pengetahuan kita. Sekali lagi selamat hari pendidikan nasional 2016. Saya rindu demo dan berorasi di depan gedung rektorat.