Timur Ke Barat, Jelajah Tanah Banten
“il besok berangkat jam set. 7 dari st. pondok ranji, JANGAN TELAT!” Jumat 23.00 wib
Sabtu 27 Juli 19 pukul 4.15 wib seperti biasa kebelet jadi alasan tubuh ini bangun dari tidurnya. Pukul 5.15 setelah menunaikan seluruh kewajiban mulai dari bersih diri hingga shalat subuh, aplikasi grab jadi andalan tuk melaju ke st tanah abang. sampai di st tanah abang pukul 05.52 wib, o tidak saya ketinggalan kereta. Yap kereta jurusan Rangkasbitung berangkat tepat pukul 05.50, oke saya langsung cek wa untuk mengabarkan keterlambatan saya. Ternyata 2 rekan saya, Ka Nca dan Aqil belum sampai di st pd ranji, pyuh lega.
FYI ini adalah kali pertama dalam sejarah perjalanan, saya jadi yang pertama datang ditempat janjian, cool right haha. Selesai dhuha dan meneruskan melangitkan doa doa agar pengeran sayang ilmi (kalau sayang kan semua dimudahkan, aamiin), barulah kami bertiga berangkat menuju rangkas.
Sesampainya di st rangkasbitung kami melanjutkan perjalanan menuju terminal dengan angkot 01, warna merah dan hitam, harusnya bayar 3k tapi kami bayar 5k untuk satu orang. Setelah itu naik angkot biru jurusan terminal, bayar 10k. Untung ada bapak ojek yang bertanya pada kami, kalau tidak kami bakal naik bis arah ke jakarta, hadeh dasar anak milenial malu bertanya ya diem aja wkwk.
Baru memulai perjalanan, bis mogok, mungkin mesinnya kepanasan. Ga SMA ga kerja tetep aja nemu bis mogok hahah. Dalam bis ada ibu dengan dua putri, sulung 3th dan adiknya 1,5th. Jiwa perempuan saya terpanggil untuk membantu ibu tadi menuntun anaknya dan ikut membawa barang bawaannya, hahah untungnya anaknya ga takut sama diri ini. O ya ongkos bis 15k saja sampai ke Labuhan (saya kira pelabuhan ternyata bukan ckck).
Perjalanan menempuh waktu 1,5 jam. Selama perjalanan saya tidur, karena tau kalau Labuan adalah tujuan terakhir bis ini, jadi ga akan kebablas. Sesampainya kami di terminal Labuan, makan adalah hal pertama yang terpikir oleh kami yang belum sarapan ini (brunch lah istilahnya hihi). Makan prasmanan di warteg pinggir jalan yang masakannya wenak dan murah (10k, dapat kripik yang udangnya melimpah dg. sayur nangka) membuat kami semakin berenergi menyambung perjalanan menuju makam Syekh Aswani.
Dengan angkot Kami menuju makam, 4k saja. Setelah sampai di makam Syekh Aswani kami langsung shalat dhuhur lalu lanjut ziarah (ps: bawa uang receh yang banyak karena banyak sekali sumbangan yang harus dilalui, pss kalau ga ngasih ga boleh masuk, jadi ngasi aja walau sangat sedikit sekali). Di makam kami bersama rombongan peziarah yang nampaknya dari pondok pesantren. Wiridnya keras sekali, bikin kaget hehe, tapi unik dan meyakinkan saya betapa doa yang dipanjatkan haruslah dengan mantap, yakin dg. penuh keberserahan hati. Keluar dari makam kami dicegat peminta- minta,mungkin agak tidak waras, nahasnya saya ketinggalan rombongan, jadilah saya sbg. sasaran pemaksaan, alhamdulillahnya diri ini terbiasa lari (dari kejaran mas mas) hehe ga deng.
Dibelakang makam ada pantai yang lumayan cantik untuk bersua foto. Lumayan untuk sejenak menikmati suasana. Setelah puas dengan foto yang didapat, kami melanjutkan perjalanan angkot menuju Pantai Carita yang konon indah dengan pasir putihnya. Dalam angkot kami bertemu dengan pelajar yang masih kelas 3 dan kelas 6 sd, salut sih kecil kecil sudah mandiri dalam cari ilmu.
Wao syhekale, suasana Pantai Carita dengan pasirnya yang putih mengingatkan saya dengan suasana pantai di Bali. Suasana pantai yang indah tapi sibuk dengan wisatawannya. Ada banana boat, ada perahu yang bisa mengantarkan wisatawan ke tengah laut untuk menikmati suasana, juga penjual cendera mata yang berjejer rapi sepanjang pemandangan. Kebetulan saat kami datang ada acara festival musik, jadilah suasana riuh dengan alunan musik dan gelak tawa anak- anak yang ramai kesana kemari.
Pukul 15.11 Kami lanjut perjalanan menuju pusat kota, Cilegon. Selama dua setengah jam perjalanan, laut menjadi pemandangan mahal yang jadi cuci mata kami bertiga. Dari mulai tidur sampai ketiduran dan bangun lagi, pemandangan masih laut, rasanya pingin pulang rumah karena ingat perjalanan pulang kalau lewat tuban (apasih mi, tu kan nyasar lagi tulisannya, haha mon maap ya). Selama perjalanan kami sangat bahagia, sampainya di cilegon, eng ing eng kami terkaget kaget dan terheran- heran. Tarif angkot yang kami naiki adalah semahal harga diri kami, haha ga deng, 30k per orang. wah sekali ya wkwk bikin naik pitam.
Ya udahlah ya toh juga perjalanannya menyenangkan (aslinya dalam hati masih nggrundel wkwk). Akhirnya kami lanjutkan perjalan menuju Merak dengan Grab. Toh sama saja tarifnya kalaupun kami memilih naik angkot. Kami sampai di Merak pukul 17.30 wib. Sempat kebingungan karena kami sudah lama nda kesini dan Merak juga sudah Pemugaran, untunglah kami sempat melihat papan bertuliskan Makam Syekh Jamaludin +-500m terpampang di pintu masuk. Sampai di dekat makam kami memilih berfoto dulu mumpung di area pelabuhan yang sedang golden hour.
Makam Syekh Jamaludin terbangun gagah tak kalah dengan megahnya pelabuhan Merak. Diri ini jadi Mbatin “Gusti ki slalu penuh kasih sayang, semua ada yang jaga, Lautpun ternyata nda luput dari Wali Penjaga”. Setelah khitmad memanjatkan doa doa, kami shalat di masjid yang tempat wudhu dan kamar kecilnya banyak dan bersih, bangunan masjidnya pun epik, dibuat sama tinggi dan setipe dengan makam”
Niat hati ingin memanjakan perut di Dunkin tapi apalah daya ternyata sudah tutup, akhirnya kami membeli pengganjal di xxmart dekat pintu masuk pelabuhan, pisang dan air putih wikwik. Sebenarnya kami ingin menuju Lebak Bulus tapi ternyata bis terakhir pukul 18.00 wib akhirnya kami memilih bis ac dengan tujuan Kampung Rambutan dengan tarif 30k. Sampai di Bintaro tepat pukul 02.00 wib, dan kami yang putri memilih istirahat di pondok mahasiswa Raudlatul Imanny. (ilm/rzq)














