Narasi dalam Mimpi (Episode 4)
Sepasang sayap. Merekah indah dalam tatap matahari. Berkilau dalam sinar kagum mata yang tak henti berdecak. Tidak ada kerutan. Tidak ada celah untuk dicela. Kesempurnaan tanpa batas yang bisa dideskripsikan manusia.
Sepasang sayap. Mengudara. Melebarkan bulu-bulu halusnya. Menyebabkan bayang-bayang pada jejak tanah di bawahnya. Ia ciptakan tempat berteduh bagi sesiapa yang mengikutinya terbang dari bawah. Sedang ia bisa membawa segala beban mengudara, menghempasnya ke tempat dimana tak bisa lagi kau temukan.
Sepasang sayap. Merupakan perwujudan doa-doa panjang tanpa henti yang dilabuhkan tiap manusia. Ia gemerlap dalam taburan harap dari segala makhluk yang bergantung padanya. Kekuatan untuk menjangkau langit diperolehnya dari rapal penuh ratap di malam-malam panjang.
Sepasang sayap. Membawa keajaiban. Membebaskan manusia dari sesak kenyataan yang tertanam di bumi. Harapan yang dilambungkan bersama kepaknya membentang, bersinar terang dimana-mana.
Sepasang sayap. Tempatku mengadu pada langit. Tentang bumi yang terus memenjarakanku. Tentang kaki yang tak mampu lagi menapak lebih jauh. Tentang dia yang membuatku tetap bertahan dalam rantai penantian. Aku belum lepas darinya. Masih kutunggu sepasang sayap yang mampu mengangkat segala derita dan rasa sesak.
Sepasang sayap. Jalan terakhirku untuk bertemu dengannya.