Gelap gulita malam seperti kerajaan burung hantu. Istana orang—orang gila dan singgasana kaum wanita.
RAKA ABIMANYU, MARSHALL


#dc#dc comics#batman#bruce wayne#dick grayson#dc fanart#batfamily#batfam#tim drake

seen from China
seen from Singapore
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from Malaysia
seen from Russia

seen from United States
seen from Romania

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from Singapore
seen from Australia
seen from China

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Spain

seen from United Kingdom
Gelap gulita malam seperti kerajaan burung hantu. Istana orang—orang gila dan singgasana kaum wanita.
RAKA ABIMANYU, MARSHALL
Orang Indonesia
Di dalam mobil menuju Cilamaya, siang itu Iwan Fals berkumandang. Kami mendengarkan lagu-lagu dari album awal kehidupannya sampai ke album modern yang menurut Ibu saya sudah terlalu manja karena Bang Iwan sudah menjelang lansia.
Ibu dan Ayah saya adalah seorang aktivis mahasiswa tahun 80an yang kerjanya diskusi malam sambil mendengarkan lagu Iwan Fals, Queen, dan Simon & Garfunkel, sementara siangnya bakar-bakar ban di jalanan. Paling tidak, itu yang saya tangkap.
Om saya adalah mahasiswa tahun 90an bernama Budi yang dibesarkan dengan lagu Iwan Fals dari radio butut dan kaset kusut duplikat. Karena diputar berulang kali, memiliki duplikat kaset adalah kewajiban. Beliau adalah keponakan ipar Ibu saya.
Om Budi dan Tante Lya adalah orang Indonesia—dalam artian sebagai masyarakat madani Iwan Fals—yang mengasuh adik, membesarkan anak, dan menemani keponakannya dengan lagu Iwan Fals.
Saya hampir diberi nama Galang Rambu Anarki oleh Ibu dan Ayah. (Kebohongan dalam kalimat ini sebagai bumbu pembangun suasana).
“Om Budi pasti relate banget ya sama lagu ini” Kata saya saat “Sore Tugu Pancoran” diputar.
“Dulu Om Budi kan jualan juga buat duit sekolah. Sekarang mah ga ada jualan koran begitu”
“Iya sekarang anak-anak jualan ulekan sama Vitamin C, Bu”
———————————————————————–
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Bagian lirik “Sore Tugu Pancoran” kesukaan saya justru adalah pembukanya. Menurut saya dengan mudah seharusnya lagu ini masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi Rolling Stones Magazine. Dengan salah satu lirik terkuat yang pernah saya baca, lagu ini masuk ke dalam 150 lagu terfavorit saya saja.
“Melihat kemajuan sosial dan ekonomi itu gampang, kalau lagu Iwan Fals masih relevan, berarti ada yang kurang baik.” Kata Ibu.
———————————————————————–
Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali
Dari “Ujung Aspal Pondok Gede”. Lagu yang sangat terdengar ke-Bob-Dylan-Bob-Dylan-an. Meskipun saya tidak tahu kalau Iwan Fals dianalogikan dengan Bob Dylan, salah satu atau keduanya yang akan tersinggung.
“Nah ini menggambarkan banget situasi jaman Ibu waktu kecil, malah sejak sebelum-sebelumnya, waktu semua tanah dibeli murah, sawah-sawah habis, tanah-tanah orang Betawi dijual untuk dibikin jalan sama gedung-gedung”
Saya tidak tahu kalau Kemanggisan dan sekitarnya pernah menjadi hamparan sawah, dan Ibu mungkin pernah kehilangan sahabat masa kecilnya.
Nomor-nomor bagus lainnya berkumandang. Dari lagu cinta zaman Mas Iwan muda dan lagu cinta reuni bersama Rafika Duri. Satu hal yang terus mengganggu adalah rasa heran karena orang hebat ini memilih berkolaborasi dengan Momo Geisha dan Ariel Noah. Bukankah masih banyak musisi dan penulis lirik lain yang bukan Momo Geisha dan Ariel Noah? Memadu keajaiban lirik dengan Cholil ERK, berkolaborasi dengan Silampukau, merenungi masa tua bersama Ari Reda? Atau mungkin sesederhana ngeband dengan Fadly Padi dan Duta SO7. Apapun keputusannya, saya paham mengapa waktu konser Iwan Fals di Sabuga tahun lalu ada kerumunan dari Palembang, Jogja, dan sorakan-sorakan Kabupaten entah berantah. Mengambil jalan petualangan hanya untuk melihat Bang Iwan di panggung selama 50 menit. Mereka semua luar biasa. Apapun yang ada di pikiran mereka, yang jelas sama ajaibnya dengan yang terjadi di pikiran saya saat mempertaruhkan kelulusan tepat waktu dan menembus 2 negara hanya untuk 90 menit Coldplay.
Setulus-tulusnya cinta manusia, apakah mungkin adalah cinta pada musik?
“Ibu udah lama ingin nulis tentang Iwan Fals, takut keburu mati dia.”
Waktu Chrisye berpulang, Ibu menangis.
Kalau Ebiet G. Ade berangkat ke surga suatu hari nanti, Ayah pasti menangis.
Jika nanti Iwan Fals harus ikut, mungkin kami sekeluarga akan butuh liburan.
Gadis
Kita tetap membenci air mata
Tiada kabar tiada berita
Meski senja tak selalu tampak jingga
aku terus merindukanmu
Ah, kau Puan Kelana
mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara
sedang dunia punya luka yang sama
Kalau kata ERK Jatuh cinta itu biasa aja. Tapi, menurut Silampukau jatuh cinta tidak pernah biasa saja. Ia hadir tanpa direncanakan dan mampu menjelma berbagai jenis perasaan. Cinta itu bukan soal pengorbanan. Cinta itu tulus selayaknya doa panjang tanpa putus harapan.
Biarlah yang terbaik jadi manis dan pahit takkan jadi tangis
Cinta seharusnya tentang saling. Sama-sama merelakan diri untuk memberi dan merelakan diri untuk diberi. Namun, hanya memberi pun juga tak terlalu masalah. Mencintai itu satu hal, memiliki hal lain lagi. Matahari senantiasa memberi sinar, tanpa mengharap disinari kembali.
Cinta memang tak perlu berbalas Tak usah mengemis dan memelas
Album Magis Silampukau Dirilis Ulang Portside Records dalam Format Vinyl
Album folk lokal tercanggih sepanjang masa yang dilahirkan oleh Silampukau yaitu ‘Dosa, Kota, & Kenangan’ resmi dirilis dalam format vinyl berukuran 12 inch pada 19 November 2022. Rilisan vinyl debut album Silampukau ini digagas oleh record label baru asal Surabaya bernama Portside Records, yang mendedikasikan tiap rilisannya hanya berupa vinyl.
Portside Records menyatakan “…adalah suatu kehormatan bagi kami untuk menerbitkan album terbaik dari Surabaya, yang menyoal tentang pusparagam kisah-kisah yang tercecer di balik riuh-rendah suasana kota.”
Sebelumnya, sesi pre-order vinyl ini mendapat respon positif dari para penikmat tembang-tembang Silampukau ataupun para record store lokal. Sangat diluar dugaan juga 400 keping terjual sold out dalam waktu singkat dibeli oleh buyer individu dan juga reseller resmi yang tersebar di Indonesia.
Dosa, Kota, & Kenangan begitu magis bagi Kharis dan Eki sendiri, bagaimana mereka berdua menumpahkan segala emosinya terhadap rangkuman cerita-cerita yang ada di tiap sudut kota Surabaya. Observasi kaum urban akan merekam segala dosa, hingar-bingar, serta pusparagam bopeng yang luput ditulis ketika berbicara tentang kota Surabaya, semuanya dimasukan dalam album tersebut.
Beruntunglah wahai kalian yang sudah mendapatkan rilisan ini dari awal. Bagi yang telat order, bisa kunjungi laman Instagram @portside.records. Selamat berburu!
Simak artikel menarik tentang musik di pages ini dan jangan lupa follow akun media sosial Radioactive-Force via Instagram, Twitter, Facebook, dan juga subscribe channel YouTube kami yang bisa kalian cek di sini.
[click to enlarge]
20151102 - Lelagu - Chick n' Soup, Sungai, & Silampukau
Sajian Video Lirik ‘Lagu Rantau (Sambat Omah)’ Hidupkan Kembali Arsip Lama Silampukau
Mendengar nama Silampukau seraya rindu akan kampung halaman di Surabaya, yah tapi disini saya gak akan ngebahas beratnya kerinduan hal tersebut namun duo Eki dan Kharis ini akhirnya kembali muncul menyuguhkan sesuatu yang baru dalam lima bulan belakangan di tahun 2021. Setelah bulan Juni kemaren melepas single baru bertajuk Dendang Sangsi yang memasukan sentuhan alunan dangdut yang bikin kita terperdaya untuk mengajak goyang, di bulan Juli membuat video lirik Puan Kelana, dan kini mereka menebar video lirik selanjutnya yang diambil dari debut album penuhnya Dosa, Kota, dan Kenangan.
Silampukau membawa kita flashback lagi menuju album primadona Dosa, Kota, dan Kenangan dengan menyajikan Lagu Rantau (Sambat Omah) dalam kemasan video lirik. Masih sama dengan sebelumnya seperti pada single Puan Kelana, konsep goresan hasil karya ilustrator ternama dari Surabaya si Redi Murti berhasil ditampilkan dalam bentuk motion video yang epic. Banyak sekali penikmat ataupun pecinta musik menuai komentar akan album baru Silampukau, namun kelihatannya duo folk/pop ini memang ingin menabung karya-karya barunya yang nantinya bisa membuat sebuah kejutan yang benar-benar tidak mengecewakan. Apakah rentetan dari Dendang Sangsi, hingga kedua video lirik terbaru ini bisa menjawab adanya sinyal bagus dari Silampukau? Yah kita tunggu saja.
Nikmati video lirik Lagu Rantau (Sambat Omah) di sini.
Ditulis oleh Fadly Zakaria.M
Hari ke-7 Work From Home. Di tengah kesibukan bekerja, saat shuffle play Spotify sampai di lagu ini, saya berhenti mengetik. Mengalihkan perhatian dan mengajak otak saya menikmati musik. Menggoyangkan kepala sambil sesekali menyanyikan liriknya. Menatap layar laptop dan melayangkan jauh pikiran saya pada sebuah kesadaran betapa jauhnya saya dari “rumah”. 3 menit 43 detik berlalu, notifikasi Whatsapp sejak tadi tidak ragu mengganggu sepanjang lagu, jari kembali ke keyboard laptop dan 5 menit setelahnya saya tidak ingat lagi pada “rumah”.
Yogyakarta, 25 April 2020.
19:20