Cerita Tentang Rumah di Seribu Ombak
Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang. (Erwin Arnada – Rumah di Seribu Ombak)
Kejadian kehilangan dompet di Sumbawa tempo hari, sebenarnya membuat saya sedikit enggan melanjutkan trip. Sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan menuju Lovina dan akan hanya menumpang beberapa hari di rumah adik, Tomo, sambil menunggu jadwal kembali ke Yogyakarta. Tetapi, Bulan melarang saya melakukan itu, “Jangan karena dompet hilang, terus berhenti travelingnya. Dilajutkan saja. Sudah lama juga ‘kan ingin ke Lovina?” ucapnya memberi semangat dan berharap saya terus melanjutkan perjalanan. Dia pun meminjamkan uangnya supaya rencana ke Lovina bisa berjalan sesuai rencana. Maka, jadilah saya di sini, berada di sembilanpuluh kilometer Utara Kuta; Lovina, tempat yang sudah lama ingin dikunjungi.
Selesai dengan wisata lumba-lumba pagi tadi, hari ini saya berencana berkeliling Lovina, mendatangi satu persatu tempat-tempat yang tercatat di dalam buku Rumah di Seribu Ombak karya Erwin Arnada. Buku yang begitu merasuk ke dalam hati sehingga ingin sekali mengunjungi Lovina. Buku yang menceritakan tentang persahabatan dua bocah dengan segala perbedaannya yang bagai bagai langit dan laut. Buku yang berisi bagaimana toleransi itu indah dipandang.
Saya sangat suka bepergian mengunjungi tempa-tempat yang ditulis di dalam sebuah buku. Pernah, suatu kala, melakukan napak tilas buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels milik Pramoedya Ananta Toer, beberapa tahun lalu. Saya datangi satu persatu, tempat-tempat yang dikisahkan Pram, yang menarik perhatian, yang begitu mengena di hati, serta keingin-tahuan apakah tempat yang ditulis tersebut masih bertahan atau tidak. Keberhasilan penulis menceritakan kisah itulah yang membuat saya ingin sekali merasakan ruh sebuah buku, sebuah tempat, ruh cerita.
Begitu pula yang saya rasakan ketika membaca Rumah di Seribu Ombak. Siang ini, dalam panas tropis Lovina, saya akan menyusup ke setiap kata yang ditulis pada buku ini, mencari apakah bisa menemukan Yanik dan Samihi walau hanya dalam bayangan. Berhubung tidak bisa menyewa kendaraan karena tidak ada kartu identitas sebagai jaminan, saya hanya menyusuri tempat-tempat yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Siang yang menyengat, sinar matahari terasa menusuk kulit, saya berjalan menyusuri trotoar Jalan Raya Seririt, Singaraja. Lovina memang bukan destinasi utama Bali, belum barangkali. Di sepanjang jalan, etalase-etalase toko atau resto atau café tidak semeriah Legian, Ubud, atau Seminyak. Lovina berhasil membuat saya memiliki kisah lain Bali yang, bisa jadi, begitu banal. Banal yang, kali ini, istimewa.
Saya terus berjalan sembari sesekali melihat peta digital pada gawai, mengeja satu persatu canang yang selalu diletakkan di area paling utama; mencium tiap aroma sesajen pada sanggah-sanggah. Sayang, kali ini saya tidak melihat lengkung-lengkung cantik penjor yang menghiasi langit-langit jalan raya, belum Galungan.
Saya terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah simpang empat dengan deretan warung, toko sovenir khas Singaraja. Simpang tempat Samihi mengayuh si perak menuju pantai untuk mencari kerang dan binatang laut. Saya berhenti sejenak di simpang itu, melihat peta digital pada gawai dan mencocokkan dengan rute yang terpampang pada papan penunjuk arah, Pasar Besar Singaraja: lurus.
Saya berjalan lurus dan kemudian berbelok ke kanan menuju Pasar Besar Singaraja. Pasar yang mengingatkan Samihi tentang sahabatnya itu lebih mirip pedagang sayur ketika Yanik mengenakan kopiah yang kebesaran. Pasar dengan cerita Idul Fitri yang lucu namun penuh arti.
Saya menyusuri tenda-tenda luar para pedagang pasar yang sedang tidak ramai itu. Buah dan sayur yang memerah, menguning, dan menghijau sesuka hati, sedap dipandang.
Sepintas saja saya menyusuri luar pasar. Pada simpang pasar, saya kemudian berbelok ke Utara, berjalan menuju pantai.
Tak jauh setelah berbelok, saya menghampiri tukang sate yang menjajakan dagangannya dengan sepeda motor. Ia sedang berhenti di pinggir jalan. Masih di area pasar, saya berhenti sejenak untuk makan. Makan dengan lahap. Lapar ternyata.
“Waduh, air terjunnya sudah kering, Mbak.” ucap tukang sate ketika saya bertanya tentang Air Terjun Sing-sing. “Kalau saja naik kendaraan, lebih baik pergi ke Air terjun Git-git. Bagus. Saya pernah ke sana. Hanya saja jauh, Mbak. Tidak mungkin jalan kaki.” sambungnya kemudian.
***
Lepas makan sate di pinggir jalan dan obrolan ringan dengan si tukang sate, saya melanjutkan berjalan menuju arah pantai, melupakan keinginan mengunjungi Air Terjun Sing-sing—tempat Samihi belajar berenang—yang ternyata sudah mengering dan juga Air terjun Git-git yang katanya sangat bagus itu. Saya lupakan dan terus berjalan menuju pantai.
Mendekati pantai, tampak hamparan kebun kelapa yang berdiri berjajar. Kebun kelapa tempat Yanik dan Samihi ikut ngulah semal: tradisi mengusir tupai yang menjadi hama pohon kelapa. Pohon yang batangnya terukir nama Yanik dan Samihi. Pohon yang malai-malainya gemulai merayu bersamaan datangnya angin. Saya berjalan mendekat dan terus mendekat hingga akhirnya sampai di bibir pantai. Panas bukan kepalang.
Berdiri di pinggir pantai, kembali melihat peta di gawai, saya berada agak jauh di sisi Barat area wisata bekas pelabuhan Buleleng. Mengarahkan pandangan ke area wisata itu, tidak dirasa menarik hati, saya berjalan menuju Barat, kembali ke arah awal.
Memasuki area pantai dengan sisa pohon kelapa yang masih hadir di setiap lautan, saya lepaskan alas kaki karena dirasa sangat berat berjalan dengan pasir yang kering dan lepas. Beberapa orang bapak sedang asyik duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon kelapa. Saya berjalan menghampiri, bertanya apakah ada jalan tembus menuju Pantai Lovina. “Jalan terus saja, Mbak.” jawab mereka ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih, saya kembali berjalan menyusuri pantai. Tapi tak disangka, pasir hitam yang lembut itu begitu panasnya, menusuk-nusuk telapak kaki. Langkah yang lambat pada awalnya itu berubah menjadi jinjit kaki yang pendek nan cepat. Sial! Serba salah, menggerutu sendirian. Tak kuat karena panas, dengan sigap kemudian berjalan mendekati bibir pantai dengan pasir yang basah terkena ombak. Ah, ini lebih baik, sedikit hangat, saya bercakap dengan diri sendiri.
Melambatkan langkah kembali, berjalan pada bibir pantai dengan pasir basah, menyapu pandangan pada lautan dan segala sudut pantai. Masih bisa dirasai udara yang sama dengan kemarin sore, pantai dengan seribu ombak yang mengalun damai; pantai dengan cerita persahabatan, toleransi, dan perjuangan melawan ketakutan. Saya punguti kerang-kerang yang dirasa menarik dan memasukkannya ke dalam kantong kanan tas.
Pada setengah perjalanan, saya berada di sebuah kampung nelayan. Kampung yang, barangkali, di dalamnya ada rumah Yanik. Pada jalan setapak beton-beton pra cetak, saya kembali mengenakan alas kaki; beberapa orang tampak sedang bercengkerama di sebuah pondok kayu sederhana. Melewati mereka sembari mengucap permisi yang disusul oleh sungging senyum merekah dari bibir-bibir sederhana, sesederhana lantai rumah dari tanah dengan lepa tahi sapi, rumah dengan canang di bagian utama, sesederhana aroma sajen yang tersisa pada sanggah-sanggah yang telah lewat. Lalu setelah tapak beton pra cetak kampung nelayan tersebut habis, yang tersisa adalah pura dalem tempat segala larik sajak doa terlantunkan.
***
Mengamati setiap bekas tapak kaki yang tertinggal di pantai yang kemudian menghilang disapu ombak; menghayati gemuruh ribuan ombak yang mengulun damai; menghirup udara laut dalam-dalam, saya tiba di dermaga yang sama dengan kemarin sore.
Matahari yang selalu sama kali ini bersinar lebih redup dari sebelumnya. Memberi bayangan pada riak-riak gelombang lautan sana. Menembus sampai ke dasar tempat lumba-lumba bergerombol berenang memangsa plangton-plangton. Lumba-lumba idaman Yanik yang juga menyelam tak pernah kembali.
Berjalan menyusuri tempat yang belum pernah didatangi, bertegur-sapa dengan penduduk setempat barang sepintas lalu, merupakan perjalanan yang, sebenarnya, bukan untuk mengenal orang lain, tetapi sebuah perkenalan terhadap diri sendiri, berdamai dengan riuh ketakutan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa, segala sesuatu yang diinginkan berada di balik sebuah ketakutan. Dan saya ingin berdamai dengan itu, berdamai dengan sebuah ketakutan yang kali ini, dengan seribu ombak.
Sementara, rumah adalah sebuah tempat untuk kembali ketika rasa takut sudah berhasil diusir, tempat untuk menyimpan rasa bahagia yang kemudian sirna berganti duka, tempat pamungkas.












