Pembangunan Kampus (II) : Antara Akademik dan RGA
Tulisan kedua dari serial Pembangunan Kampus Tulisan pertama, Pembangunan Kampus (I) : Prioritas dan Transparansi Tulisan ketiga, Pembangunan Kampus (III) : Hibah, Jalan Terbaik Saat Ini
Trend pembangunan kampus di Indonesia saat ini tidak lagi hanya pada fasilitas akademik saja seperti gedung kuliah dan laboratorium (padahal 2 hal ini masih butuh banget di-upgrade). Tapi akhir-akhir ini banyak kampus mulai membangun fasilitas untuk menambah sumber pendanaan bagi jalannya kegiatan di kampus. Anggaran pendidikan tinggi yang pada pemerintahan saat ini terus turun setiap tahun padahal jumlah perguruan tinggi negeri terus bertambah, memaksa kampus untuk memutar otak mencari sumber pendanaan lain.
Beberapa kampus terutama yang berstatus PTN-BH memulai membangun fasilitas revenue generating activities (RGA). Apa itu? Kalau diterjemahkan kira-kira artinya aktivitas yang menghasilkan pendapatan. Kenapa harus ada RGA? karena jika yang dinaikkan adalah sumber pendanaan dari biaya pendidikan bakal bertentangan dengan semangat pemerataan pendidikan bagi semua kalangan termasuk pendidikan tinggi. Karena PTN-BH diperbolehkan membuka usaha maka RGA seharusnya menjadi potensi pendapatan lain yang hanya bisa diperoleh secara maksimal oleh pengelola kampus yang kreatif dan sungguh-sungguh.
Undip sendiri saat ini memiliki 3 kawasan besar yaitu kawasan Pleburan, kawasan Tembalang dan kawasan Teluk Awur. Kegiatan akademik dan kemahasiswaan bakal dipusatkan di kawasan Tembalang sebagai kampus utama. Sedangkan kawasan Pleburan yang merupakan kampus lama dan kawasan Teluk Awur yang berada di Jepara direncanakan akan dibangun fasilitas penunjang RGA.
Kawasan Pleburan terletak di jantung Kota Semarang, dekat dengan area Jalan Pahlawan dan Simpang Lima yang menjadi pusat kota (dan wisata) Semarang. Dengan alasan itu beberapa kali pengelola Undip menyampaikan bakal memanfaatkan kawasan ini untuk RGA dalam bentuk Convention Hall dan Hotel. Bahkan rencana pengembangan kawasan Pleburan yang kabarnya mulai dibangun pada tahun 2018 sudah sempat dipublikasikan meskipun belum sampai pada tahap Detail Engineering Design (DED).
Cuma Gedung Pascasarjana dan Auditorium Imam Bardjo serta kolam di depannya yang dipertahankan, sisanya di-demolish dan dibangun ulang.
Sedangkan kawasan Teluk Awur berada di Kabupaten Jepara dan terletak di daerah pantai dan pesisir. Selama ini kawasan tersebut digunakan untuk kegiatan akademik mahasiswa FPIK karena posisinya yang berada di dekat Laut Jawa. Kawasan ini rencananya akan dibangun menjadi Marine Science Techno Park (MSTP). Selain sebagai fasilitas penunjang RGA, MSTP juga akan menjadi Pusat Teknologi dan Inkubasi Bisnis Berbasis Teknologi Kelautan. Master Plan MSTP sendiri sudah ditampilkan pada Rapat Terbuka Dies Natalis Undip ke 59 tahun lalu.
Kalau dari master plan sih lumayan banyak juga gedung dengan tipe tower.
Lalu dengan semua rancangan tersebut timbul berbagai pertanyaan terutama dari mahasiswa, namun bermuara pada satu tema “Kok Undip lebih fokus bangun hotel dan hall daripada bangun fasilitas pendidikan?”. Ya, fakta nya di lapangan memang fasilitas akademik di Undip banyak yang belum memadai jika melihat visi Undip menjadi an excellent research university. Sekali lagi, excellent, unggul, bukan biasa-biasa saja. Program Studi/Fakultas ada yang belum memiliki kampus, alat laboratorium yang out of date dan belum mendapatkan akreditasi. Bahkan masih ada gedung perkuliahan yang mengalami banjir saat dilanda hujan deras.
Banjir memasuki laboratorium milik program studi D3 Teknik Mesin di kawasan kampus Pleburan.
Maka pengelola Undip akan berada pada pilihan. Mana yang lebih diprioritaskan? Fasilitas akademik atau Fasilitas RGA? Di satu sisi fasilitas akademik yang baik jelas akan menunjang kualitas pendidikan serta penelitian Undip menuju “cita-cita” World Class University (WCU). Di sisi lain pembangunan-pembangunan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit dan untuk menambah pemasukan RGA adalah salah satu jalannya. Pilihan-pilihan ini diambil tentu tidak semudah memutuskan antara menghancurkan semua barracks demi mega creeps atau langsung menghancurkan tower tier 4 dan ancient pada permainan DotA 2.
Ketika kita berbicara perguruan tinggi, tentu akademik adalah hal utama dan seharusnya menjadi prioritas. Sudah seharusnya fasilitas akademik menjadi perhatian utama pengelola universitas. Maka usulan-usulan pembangunan terutama yang dananya berasal dari APBN serta Biaya Pendidikan harus diarahkan pada pembangunan fasilitas akademik dan kemahasiswaan. Dengan begitu uang negara serta uang mahasiswa yang masuk ke kampus jelas akan dirasakan oleh mahasiswa sendiri dalam bentuk fasilitas akademik dan kemahasiswaan.
Lalu bagaimana dengan fasilitas RGA? Kalau dilihat dari rancangan kawasan Pleburan dan Teluk Awur di atas sih tentu bakal butuh biaya yang tak sedikit. Maka untuk fasilitas seperti ini diarahkan pada sumber ketiga seperti hibah pemerintah, hibah CSR ataupun kerjasama. Disini lah sisi kreativitas dan kemampuan pengelola kampus diuji. Mampukah pengelola membangun kampus bukan dengan uangnya sendiri tapi menggunakan uang pihak ketiga yang mempunyai relasi kuat dengan kampus. Dengan pembagian fokus seperti ini fasilitas akademik dan RGA dapat berjalan bareng. Dan jangan lupa tujuan akhirnya, fasilitas-fasilitas RGA ini harus memberikan pemasukan dana yang nantinya bakal digunakan untuk pembangunan fasilitas akademik.
Tulisan kali ini saya tutup dengan sebuah impian. Bahwa adanya otonomi bahwa kampus boleh membuka usaha bukan dalam rangka komersialisasi pendidikan. Tetapi usaha-usaha tersebut hadir dalam rangka menghasilkan pendapatan bagi kampus sehingga biaya pendidikan bisa terus turun dan tidak menutup kemungkinan suatu saat pendidikan tinggi bisa murah dan berkualitas.
Semarang, 13 Maret 2017 YAPW


















