FORNDOM - Faþir (Official Full Album 2020)
seen from Canada
seen from Kazakhstan
seen from China
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from Netherlands
seen from China
seen from Germany
seen from United States
seen from Japan
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Iraq

seen from Germany
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from China
FORNDOM - Faþir (Official Full Album 2020)
Naura and friends #naura #fathir #swim #latepost
Latepost#gramedia#balikpapan#anak#wiken#alif#fathir#adilah#atif#fadilah#rahman#mom#kids
Perniagaan Yang Tidak Akan Pernah Rugi (QS. Fathir 29)
A'udzubillahi min as-syaithanirrajim, Bismillahirrahmanirrahim.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan “membelanjakan” sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah merugi, Surah Fatir (35:29)
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Surah Fatir (35:30)
Ayat di atas merupakan petunjuk jelas dari Ilahana Azza Wa Jall, petunjuk dengan untaian kalimat yang sangat indah.
Kata “anfaquu” banyak diterjemahkan dengan kata “menafkahkan”, semestinya “anfaqu” lebih tepat diterjemahkan dengan “meng-infaq-an” atau kaitannya dengan ayat ini lebih tepat diartikan (dalam bahasa Indonesia) dengan kata “belanja.”
Anfaquu memiliki suku kata na fa qa/na fa qan, yang berarti habis/laris/digemari. Dan Anfaquu atau “meng-infaq-an” asalnya dari kata “Al Infaqu” yang berarti “perbelanjaan.”
Sedangkan jika menggunakan kata “menafkahkan” maka yang digunakan adalah “Na fa qaha” berarti biaya hidup atau tunjangan yang diberikan.
Hakikat makna belanja adalah, kita membeli sesuatu yang kita butuhkan, dan kita mencarinya/mendatangi tempat/lokasinya. Contoh; ketika beras habis, kita harus “beli atau belanja” beras, di tukang beras. Karena kita butuh maka kita rela pergi untuk membeli. Kalo pun bukan kita yg jalan atau belanja, tetap ada effort utk kita yang mendatangi toko, bukan toko yang mendatangi kita ketika kita hendak belanja. Atau contoh lain, ketika belanja bulanan dengan istri, kita yang pergi ke supermarket/mall/dsb, bukan tempat pembelanjaannya yang mendatangi kita.
Jika kita sudah memahami bahwa “anfaquu” itu adalah “membelanjakan” pertanyaan berikutnya adalah membelanjakan kemana? Atau dimana toko nya?
Ini yang membedakan antara infaq dan shadaqah. Infaq dibelanjakan kepada “Faqir” sedangkan shadaqah kepada “Miskin.” Siapa itu Faqir? Faqir yang berasal dari kata fu qa ra adalah:
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui. Surah Al-Baqarah (2:273)
Sekarang mari kembali ke ayat di atas (Fathir: 29), apa yang Allah Azza wa jalla firmankan? “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan “membelanjakan” sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah merugi,“
Ketika sudah memahami apa itu infaq dan faqir, maka jika benar-benar ingin mendapatkan perniagaan yang tidak akan penah rugi maka “kita yang pergi mencari dan menghampiri mereka para Al-Faqir, lalu kita belanjakan sebagian dari penghasilan kita kepada mereka, karena mereka tidak akan menghampiri kita apalagi meminta kepada kita.”
Keindahan ayat ini dilengkapi dengan kalimat “…perniagaan yang tidak akan merugi,” kenapa Allah tidak bilang “… perniagaan yang akan selalu untung?” Jika ditulis selalu untung maka akan melawan sunnatullah, karena dalam perniagaan atau perdagangan pun juga kena imbas dari efek musim (kemarau atau hujan atau musim lainnya). Masing2 produk pasti memiliki “kekuatan/kelemahan” disesuaikan dengan setiap musim. Tetapi mereka yang menjalankan tiga hal seperti yang dijelaskan di ayat ini, setidaknya mereka tidak akan pernah rugi dikala yang lainnya rugi.
Penafsiran lainnya juga bisa secara arti dari ketiga ibadah tersebut (mengaji, shalat, dan infaq) ada salah satu bentuk kegiatan yang dimisalkan sebagai perdagangan yang tidak akan pernah merugikan kita dari segi apapun.
Sebetulnya, hal ini bukan hal baru. Jika kita kembalikan makna ayat ini ke sejarah, mari kita ingat bagaimana sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menginfaqan seluruh hartanya untuk Islam dengan cara beliau yang mendatangi Baginda Rasul secara langsung. Atau kisah Al Imam Husein RA berkeliling Madinah membagikan sendiri hasil panen kurma nya dengan cara membebaskan orang2 untuk mengambilnya, baru sisanya yang beliau bawa pulang. Atau ketika Al Imam Ali Zainal Abidin RA berkeliling di malam hari seorang diri untuk membagikan beras/gandum. Dan banyak contoh lainnya, dimana mereka (para panutan td) yang mencari pari faqir untuk membelanjakan harta mereka.
Semoga kita dapat memetik hikmah dari tulisan di atas dan mengamalkan petunjuk dari-Nya. Dan insyaAllah kita semua mendapatkan “perniagaan yang tidak pernah merugi” dari ALLAH RABB AL-ALAMIN.
Alafuw minkum. Wallahu ‘alam bissawwab.
——————————————————
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Orang-orang yang menginfaqan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Surah Al-Baqarah (2:274)
#Fathir's #Cookies (Taken with Instagram)