Dunia Lain (Fenomenologi, Bagian III)
Aku masih bisa memahami beberapa konsep seperti ruang dan bentuk menggunakan indra yang lain, sayangnya aku tidak bisa memahami konsep yang memang eksklusif hanya bisa dipahami oleh indra visual.
Kalau misalkan aku buta sejak lahir, mungkin banyak pertanyaan yang bisa muncul dikepalaku. Apa itu gelap? apa itu terang? bagaimana siang? Bagaimana malam? kenapa malam dingin? kenapa siang selalu panas?
Aku hanya bisa memahami lewat gejala, seperti kapan waktu malam terjadi? Yaitu saat udara mulai dingin. Kapan waktu siang terjadi? Yaitu saat udara mulai panas. Oh, aku mulai paham dari sana.
Kenapa orang-orang terpana dengan langit malam? mereka bilang karena penuh bintang. Lalu, bintang itu seperti apa? Apa yang membuatnya indah? Mereka bilang karena berkilauan. Lalu berkilauan itu seperti apa? Mereka menjawab seperti kembang api. Namun yang aku tahu kembang api hanyalah suara yang berisik dan membuat kaget.
Kenapa orang-orang juga terpana dengan gunung-gunung? Mereka menjawab karena gunung dari kejauhan berwarna biru. Apa itu biru? Bagaimana aku bisa memahami warna biru? Mereka menjawab biru itu menenangkan. Baiklah, aku mulai sedikit paham, melihat gunung membuat mereka merasakan ketenangan.
Kenapa orang-orang takut dengan gelap? apa itu gelap? mereka bilang gelap itu menakutkan. Baiklah aku tahu takut itu bagaimana, seperti aku takut ketika menuruni tangga. Tapi tetap aku tidak paham, kenapa gelap menakutkan? Katanya gelap itu sering muncul hantu, hantu itu berwajah mengerikan. Lalu apakah melihat hantu itu sebegitu menakutkannya sebagaimana aku takut jatuh dari tangga? Entahlah, aku tidak paham.
Benar, disini aku merasa terisolasi, aku tidak bisa memahami seutuhnya dunia “orang-orang yang berpenglihatan”.