Cerpen: Surat Seorang Ibu
Nggak tahu kenapa, tiba-tiba Ibu ingin menyampaikan sesuatu ke kamu, Nak.
Dan setelah Ibu pikir-pikir, ini adalah pesan paling penting untuk semua anak-anak Ibu kelak, termasuk kamu.
Nak, ini foto Ibu waktu lagi semangat-semangatnya belajar Al-Qur'an. Ibu rela dibentak guru demi agar bisa naik ke level berikutnya. Nangis-nangis nggak keruan gara-gara merasa otaknya sudah mentok perkara mengingat. Ibu bahkan sampai merasa menjadi perempuan paling bebal dan bodoh sedunia. Terkadang, rasa minder bisa datang secepat itu, Nak.
Tapi kata guru Ibu, sebenarnya ujian paling riskan bagi remaja seusia Ibu yang waktu itu dua puluhan-something adalah ujian perasaan, Nak.
Tahu nggak, Nak, ujian perasaan itu seperti apa? Ternyata, ujian perasaan bukan ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan. Atau yang selama ini diam-diam kita pendam tanpa ia yang kita cintai tak pernah menyadari. Ujian perasaan bukan ketika yang kita cintai ternyata mencintai yang lain—bahkan tanpa ia tahu kita ternyata mencintainya.
Awal dari ujian perasaan itu bukan ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan. Seolah mencintai sendirian, merindui sendirian lalu perlahan perasaan itu mengepul sendirian. Bukan pula ketika cinta itu dikhianati. Juga bukan ketika yang kita cintai mencintai orang lain.
Bahwa ujian perasaan itu adalah Orang yang kamu suka, ternyata juga orang yang suka kamu. Lalu rasa suka—yang kemudian berubah menjadi cinta—tersebut menjadi gerbang pintu makhluk-makhluk hitam mulai menyusup secara perlahan ke dalam hati dan pikiran. Akhirnya kita kehilangan fokus dan ditelan kebiadaban fana. Padahal ia belum saatnya karena belum diikrarkan secara sah di hadapan orangtua, pada saksi dan Tuhan sendiri.
Dulu, Nak, waktu lagi semangat-semangatnya belajar Qur’an itu, sialnya Ibu malah jatuh cinta dengan seorang lelaki. Singkatnya Ibu baru sadar ternyata hati Ibu telah dipatahkan dan berakhir dengan hafalan Ibu yang langsung berantakan dan acak-acakan.
Ibu remuk seremuk-semuknya. Ibu nangis sesenggukan, Ibu menyesal, Ibu malu sama Allah, juga sama Rosul. Ibu merasa hina, Nak. Masalah Qur’an memang sampai segitunya, Nak.
Sampai pada satu titik, waktu itu Ibu lalu berjanji pada diri sendiri untuk nggak bakal lagi jatuh cinta kepada lelaki manapun sebelum amanah ini selesai. Dan… cuma akan menerima lamaran dari lelaki yang benar-benar memperjuangkan Ibu dengan cara yang baik. Bukan dengan romantis-romantisan fana yang menjerumuskan seperti itu.
Nak, pesan Ibu, nanti kalau sudah memutuskan untuk menghafal Al-Qur'an, nggak usah dulu ngurusin perasaan menye-menye ke lawan jenis, ya, Nak. Tidak baik untuk kesehatan hati. Jangan ulangin lagi hal buruk yang pernah Ibu alami. Nanti menyesal. Cukup sebagai pembelajaran saja, Nak.
Oh, iya. Kemudian waktu itu Ibu berjanji untuk bersemangat dan berjuang lebih keras lagi untuk terus mendekat kepada Al-Qur'an hingga selesai, tuntas.
Sampai pada satu titik puncak. Ketika Ibu sedang cinta-cintanya kepada Al-Qur’an Ibu, Allah malah memberi kejutan dengan mempertemukan Ibu ketemu Ayah. Dan akhirnya, tak lama kemudian, kami menikah, deh. Hehehe.
Semoga semangat juang Ibu menular ke kamu dan adik-adikmu, ya, Nak.
Surat diselipkan di antara buku bacaan bersama selembar foto si Ibu bersama kawannya, tepat setelah sehari Akad dilangsungkan.
Hari itu, Nabila yang bercita-cita ingin dipanggil anaknya dengan Ibu, memahami, bahwa untuk mendapatkan cinta manusia, dapatkan dulu cinta Allah. Karena melalui rasa cinta kepada Allah, manusia akan dengan sendirinya mencintainya.












