Garis Hidup oleh Sang Maha
unek-unek yang harus dituliskan usai sebuah pertemuan
Di mana saja, setiap saat, masing-masing orang memiliki kemungkinan tak terhingga entah bagaimana sebab dan caranya. Seperti bagan alur yang bertanya ya atau tidak, lalu di jawaban yang ya ada lagi pertanyaan ya atau tidak, dan di jawaban yang tidak pun ada lagi pertanyaan ya atau tidak. Ya begitu seterusnya. Aku percaya segala sesuatu sudah tertulis di lauh mahfuzh. Aku percaya segala sesuatu sudah digariskan Sang Maha. Bahwa seseorang mengenal atau tidak mengenal seseorang yang lain, adalah garis hidup. Bahwa jarak dan waktu bersatu padu memisahkan orang-orang, hingga sibuk dan nyaris lupa mereka pernah singgah di ruang tamu. Namun, di saat yang tidak pernah diharapkan sedikit pun, tiba-tiba orang-orang tersebut dipertemukan oleh Sang Maha. Mungkin, rasanya masih sama seperti dulu: canggung dan malu-malu. Sang Maha lihai membolak-balik hati. Ya, ragu-ragu, atau tidak. Hm, memangnya siapa yang bertanya? Apakah salah satu dari orang-orang tersebut berandai terlalu cepat? Apakah salah satu dari orang-orang tersebut berandai terlalu lambat? Yah tidak usahlah berandai-andai. Hanya Sang Maha yang tahu. Pada masa lalu yang penuh memori, orang-orang tersebut pernah saling bertukar cerita tentang masa depan yang masih misteri. Saling tahu mimpi-mimpi yang dikirim ke Sang Maha dan semesta tiap sunyi sepertiga malam menghampiri. Bahwa yang kita pikir akan jadi teman seumur hidup pun mungkin nyatanya hanya perantara hijrah untuk memperbaiki hidup. Seperti kata Fahd Pahdepie dalam bukunya berjudul Jodoh: "Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalihan perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya." Rezeki, jodoh, dan maut: entah dengan (si)apa terlebih dulu kita akan bertemu :) Terima kasih atas garis hidup yang telah Engkau tetapkan, wahai Sang Maha.














