Hari ini aku dikirimi video yang isinya tentang sejumlah besar orang-orang berbaju putih melakukan demo anarkis dan pengrusakan sebuah rumah ibadah. Berkali-kali rumah itu dilempari, padahal sudah dijaga polisi lengkap dengan perisai. Aduh, plis deh.
Sebenernya temen-temen pernah berpikir nggak sih apa enaknya jadi mayoritas? Apakah kalo jadi mayoritas kita bisa jadi kaya? Nggak. Apakah kalo mayoritas kita bakal kebal hukum? Nggak juga, paling cuma beberapa pejabat yang bisa beli hukum. Apakah kalo mayoritas kita lebih diuntungkan secara hukum daripada minoritas? Hmm, nggak juga, itu udah ketinggalan zaman sebenarnya. Apakah kalo mayoritas kita bisa masuk surga? Loh, emang situ udah pernah mampir ke surga dan nanya-nanya sama Tuhan, lalu Tuhan bilang ‘kalo kamu mayoritas aku pesenin 1 kapling deh buat kamu di surga!’ atau semacamnya? Mana bukti faktualnya?
Nah, kalau semua jawaban tadi adalah ‘tidak’ dan meragukan semua, lalu kenapa banyak sekali orang mudah berbangga jadi mayoritas? Kenapa saking bangganya jadi mayoritas, lantas berlaku seenaknya kepada minoritas?
“Tapi menurut kitab kami, Tuhan meminta supaya kami bla bla bla...”
Tolong, deh. Kalau agama benar-benar membawa perdamaian dan rahmah, kenapa harus dengan kekerasan dan pembunuhan? Perintah kitab sucimu? Tau nggak sih latar belakang yang melandasi kenapa perintah itu dituliskan demikian? Lalu kalau kekerasan itu dilakukan atas nama agama, apakah semua akan menjadi damai dan benuh berkah? NGGAK. Konflik di Timur Tengah itu salah satu contohnya!
“Tapi ini sudah menjadi kewajiban kami untuk menyebarkan agama kami...”
Tolong, deh. Semua agama juga meminta pada penganutnya untuk menyebarkan ajaran agamanya. Nggak cuma di Islam, di Kristen dan agama lain juga ada kok! Tapi itu semua juga harus memperhatikan situasi dan kondisi. Kalau kamu menyebarkan agama kamu dengan kekerasan, bagaimana mungkin orang-orang akan tertarik dan menganut agama kamu? Apakah dengan menyebarkan agama kamu, bahkan dengan kekerasan sekalipun, kamu dijamin masuk surga?
“Tapi dulu agama anda juga bla bla bla...”
Ya itu kan dulu. Semua orang, kelompok, bahkan agama sekalipun punya kesalahan. Lalu untuk apa diungkit-ungkit lagi? Paham nggak sih gunanya kamu belajar sejarah? Bukankah sebenarnya agama kamu juga punya sejarah gelap? Kalau sejarah mengajarkan kita untuk melakukan kekejaman dan menyimpan dendam, kenapa sekarang di sekolah ada mata pelajaran sejarah dan ada mata kuliah sejarah di beberapa kampus?
Akhirnya, tolong, deh (lagi). Jangan menganggap ada golongan mayoritas dan minoritas. Semua orang dilahirkan sama dan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita semua sudah tahu kalau mayoritas dan minoritas adalah kebiasaan para penjajah. Jika kalian bangga menjadi mayoritas, tetapi lantas mau merendahkan golongan lain; selamat, Anda adalah kaum terjajah.