Perjalanan Gemili
Tanggal 13 Januari 2019, saya dan suami resmi menyandang status baru sebagai orangtua. Putri pertama kami, Gemili, lahir melalui operasi sesar setelah selama 24 jam saya menjalani induksi tanpa ada kemajuan yang berarti. Setelah sempat transfusi darah, merasakan kesakitan yang luar biasa saat kepala Gemili diraba di mulut rahim, ikhlas saat air ketuban mulai berkurang, dan khawatir karena detak jantung Gemili mulai melemah setiap kontraksi, saya akhirnya memilih jalan operasi.
Menengok lagi ke sembilan bulan terakhir, perjalanan hamil bagi saya ajaib. Awalnya, saya kira, menjalani kehamilan hanyalah tentang menjaga kesehatan kehamilan itu sendiri. Ternyata, lebih dari itu, kehamilan adalah perjalanan menemukan diri sendiri.
Trimester Pertama
Trimester pertama adalah trimester yang paling heboh. Saya mual, enek, dan super malas (terutama soal mandi). Saya tidak tahan dengan wangi-wangian, sehingga harus menggunakan masker ketika beraktivitas agar tidak ngomel-ngomel ketika mencium wangi parfum orang lain. Saya marah-marah pada suami karena dia ketahuan mandi menggunakan sabun yang saya benci wanginya. Saya mual saat harus Lebaran ke luar kota, sampai-sampai ada momen di mana saya tidak bisa ikut makan malam ke restoran bareng keluarga karena sakit di kamar hotel. Saya kerap terbangun di tengah malam akibat mimpi buruk, atau berteriak kesakitan karena kram kaki. Syukurnya, meski kerap merasa mual, saya tidak kehilangan nafsu makan sama sekali.
Di trimester ini, saya akhirnya memutuskan menggunakan kacamata. Untuk pertama kalinya, saya memeriksakan mata saya yang sudah lama minus ini demi keperluan melahirkan normal. Sebelumnya, saya sama sekali tidak berminat pakai kacamata meski saya tahu saya butuh, hanya karena saya malas ribet lepas-pakai di sela-sela kegiatan. Ternyata, pakai kacamata itu tidak serepot yang saya bayangkan.
Perubahan drastis yang saya alami: Saya mendadak membenci kosmetik dan segala hal tentang penampilan. Saya yang biasanya rutin menyisihkan uang untuk menyenangkan diri sendiri setiap bulannya, tiba-tiba menghindari pusat perbelanjaan karena pusing dengan keramaian (Bahkan saya tidak ke bioskop sama sekali sampai melahirkan). Dalam sekejap saja, saya merasa bahwa baju, tas, sepatu, dan kosmetik yang saya miliki sudah cukup. Saya puas dengan barang-barang yang saya punya dan tidak berminat untuk menambah koleksi lagi.
Mulai dari trimester ini juga, saya dan suami mencanangkan program “Makan Enak”, di mana setiap selesai melakukan kontrol bulanan, kami akan makan di restoran yang sesuai dengan “ngidam” saya. Hal ini bertujuan supaya saya bisa menjaga suasana hati tetap senang selama kehamilan. Meski kedengaran klise, bahagia itu memang sederhana, kok.
Trimester Kedua
Memasuki trimester kedua, banyak titik balik yang terjadi pada diri saya. Saya aktif memasak dan menyetir, dua hal yang sebelumnya sangat jarang saya lakukan. Saya yang sebelumnya cuma bisa masak yang gampang-gampang, tiba-tiba mulai menciptakan macam-macam variasi makanan (Meskipun masih sulit dapat nilai 10 dari suami). Saya yang sebelumnya ketakutan menghadapi jalanan, mendadak berani membawa kendaraan setiap hari untuk beraktivitas. Ternyata, saya bisa lebih dari apa yang saya bayangkan.
Pada trimester ini, saya juga belajar untuk lebih rileks. Selama ini, saya adalah orang yang ‘galak’ terhadap diri sendiri. Jika ada sesuatu yang ingin dilakukan, saya harus lakukan saat itu juga. Jika ada hal yang harus dikerjakan, saya memasang tenggat waktu untuk diri sendiri dan akan sangat kecewa jika saya tidak bisa memenuhi target yang saya buat sendiri. Di trimester kedua ini, saya mudah sekali mengantuk dan berdampak pada lambatnya ritme kerja. Target saya kerap tidak tercapai pada hari yang saya tentukan, dan saya secara mengejutkan memaklumi diri saya sendiri. Saya kemudian sadar bahwa tidak apa-apa untuk sekali-sekali lebih santai, sebelum kemudian bertempur lagi, jika sudah siap.
Di penghujung trimester kedua, saya divonis “kegendutan” oleh dokter saya, karena dalam sebulan saya bertambah berat badan hingga 5 kilogram (Seharusnya tidak boleh lebih dari 2,5 kilogram). Bukannya panik atau cemas, saya malah senang karena untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya dibilang kegendutan.
Trimester Ketiga
Trimester ketiga adalah fase kehamilan yang paling stabil karena rasa mual sudah lewat. Saya yang pada dasarnya memang suka makan, pada trimester ini semakin gila makan. Selama ini saya penggemar makanan ‘berat’, tapi pada trimester ini saya suka sekali mengemil. Makanan yang saya lahap juga mulai ‘melanggar aturan kehamilan’, tidak seperti trimester-trimester sebelumnya di mana saya cukup pemilih dalam hal makanan demi menjaga kandungan.
Meski sudah tidak diperbolehkan menyetir dan memasak karena mudah kelelahan dan berkeringat (Saya tidak bisa jauh-jauh dari AC dan kipas angin), trimester ketiga ini cukup menyenangkan karena rasa-rasanya tidak ada lagi yang saya ingin kejar dalam hidup ini, karena hidup yang saya jalani sekarang sudah lebih dari cukup. Saya justru lebih produktif karena kehamilan sudah terasa ringan, seperti menerbitkan buku dan berbisnis bareng suami. Meski demikian, minggu-minggu menjelang persalinan ternyata membuat deg-degan juga. Apalagi, anak kami belum mencapai berat badan yang ideal dan terlilit tali pusar satu simpul di leher. Kondisi ini membuat saya tidak karuan. Segala pikiran negatif langsung muncul di kepala. Saya langsung membaca beragam artikel dan berkonsultasi pada beberapa teman yang pernah melahirkan, untuk membantu pikiran saya agar lebih positif. Syukurnya, saya berhasil mencegah Gemili dari BBLR saat ia dilahirkan.
Beberapa saran untuk teman-teman yang sedang menjalani kehamilan pertama:
Lakukan hal yang membuat kamu nyaman. Jika tubuh ingin menjauh dari keramaian, jangan paksakan diri untuk berkumpul bersama teman-teman atau pergi ke tempat yang sebenarnya kamu hindari. Ketika sedang hamil, kenyamanan diri adalah segalanya.
Tentukan prioritas. Saat hamil, kesehatanmu adalah nomor satu. Jadi, apapun kegiatan yang sedang kamu jalani, pastikan tidak merugikan kehamilanmu. Misalnya, menjauhi asap rokok di tempat umum, langsung beristirahat jika tubuh mulai kelelahan, dan mulai makan makanan yang bernutrisi untuk janin (Meskipun itu berarti harus meninggalkan makanan favoritmu).
Ajak suami hamil berdua. Meski secara teknis janin ada di tubuhmu, nyatanya kamu tidak bisa sendirian menjalani kehamilan. Suami berperan penting dalam tumbuh kembang janin. Suami bisa menghentikan kebiasaan merokok (apabila perokok), ikut mengonsumsi makanan sehat, menciptakan suasana yang menyenangkan untuk berdua, beradaptasi dengan kondisi istri, dan lain sebagainya yang dapat mendukung kehamilanmu.
Hindari mengeluh di media sosial. Perjalanan hamil yang tidak selalu mulus kadang membuat kita ingin berkeluh kesah di media sosial. Saya pribadi tidak menyarankan kamu melakukannya. Selain tidak akan membuat perasaan kita lebih baik, aura negatif yang kita tampilkan di media sosial akan ‘permanen’. Saya mengatasinya dengan banyak belajar dari pengalaman orang lain dan percaya bahwa kesulitan yang dialami pasti bisa segera dilewati.
Syukuri hal kecil. Anak yang bahagia datang dari ibu yang bahagia. Syukuri segala hal yang kadang luput dari perhatian. Dalam pengalaman saya, saya tidak mengalami muntah dan kehilangan nafsu makan selama hamil. Saya betah berada di rumah meski harus ketinggalan film-film terbaru di bioskop dan tidak pergi berlibur. Saya merasa cukup dengan barang-barang saya meski tidak pernah belanja baju/sepatu/tas/kosmetik lagi. Hal-hal tersebut membuat saya sangat bersyukur.
Terakhir, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada keluarga dan teman-teman atas doa dan dukungannya, terutama suami yang tidak sedikit pun meninggalkan saya selama lima hari di rumah sakit. Perjalanan Gemili mulai dari awal hingga dilahirkan memang tak selamanya menyenangkan, ada kalanya air mata saya berderai, tapi berkat mereka, saya bisa melangkah pelan-pelan hingga ada di titik ini.
Salam,
Gisa

















