Renungan dibalik gempa bumi
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi dari Sa'id bin Abu Burdah dari Bapaknya dari Abu Musa ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Umatku adalah umat yang terhormat, di akhirat tidak akan mendapatkan siksa, siksa mereka adalah di dunia; yakni dengan adanya fitnah, gempa bumi dan peperangan.” (HR. Abu Daud 3730. Shohih).
______________________
STOP POINT
Dalam redaksi lain dengan esensi yg sama yg diriwayatkan imam Ahmad, umat islam selain terhormat, umat islam pun dinyatakan sebagai umat marhumah/ yg terkasihi (HR. Ahmad No. 18847 dan 18917)
Maka, gempa, meski ia dapat menjadi wasilah agar kita takut dan tersadar, ia juga menjadi wasilah untuk membuat kita menjadi terhormat dan dikasihi dengan dijadikannya gempa sebagai ujian/teguran/adzab di muka bumi untuk menghapus dosa dosa kita.
Sejatinya, ujian apapun yg dialami, jika disikapi dengan benar dan sesuai dengan yg dicontohkan rosul, maka ia meningkatkan derajat kita, menghapus dosa dosa, hingga berat timbangan diakhirat hanya diisi oleh kebaikan saja.
Maka perbanyaklah kebaikan, karna begitu ringkihnya kita dan butuhnya kita akan pertolongan Alloh.
Gempa kemarin sedikit banyak menyadarkan kita bahwa dengan irodah Alloh, segala sesuatu bisa terjadi, dan begitu dekatnya kita dengan kematian. Maka bertakwalah kepada Alloh dengan sebaik baik ketakwaan, dan berbekallah.
Jangan setelah berlalunya teguran, berlalu pula ketaatan kita dan kembalilah kita kembali pada kebiasaan yg tak diridhoi.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Haaj 11)
















