Katanya tidak ada yang tidak mungkin, asalkan mau terus berusaha, selalu memberikan yang terbaik. Tapi ingat itu semua juga butuh waktu, jadi kesabaran juga menjadi kunci penting untuk menjadikan segalanya mungkin. 💙

seen from Malaysia
seen from China
seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Pakistan
seen from Pakistan
seen from United States

seen from Austria
seen from Japan
seen from China
seen from United States

seen from Germany

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
seen from India
Katanya tidak ada yang tidak mungkin, asalkan mau terus berusaha, selalu memberikan yang terbaik. Tapi ingat itu semua juga butuh waktu, jadi kesabaran juga menjadi kunci penting untuk menjadikan segalanya mungkin. 💙
water, pigment, and a bit of patience. 🌊
there’s something so honest about watercolor. you can’t really hide the mistakes; you just have to learn to dance with them. this piece felt like a quiet conversation between the brush and the paper.
Musik this! Musik that! Kolektif this! Kolektif that!.. stop your fuckin' bullshit, big mouth!!
Emang musik mati kalau ga ada kamu dan teman-teman KORPORASI-mu yang pake embel embel kolektif di sana? Emang seberapa berpengaruh kamu dan teman-temanmu yang berusaha menjadi tengkulak dengan ngebayar rendah band-band lokal ke korporasi yang lagi kamu jilatin lubang boolnya? Emang kota ini butuh kamu dan "kolektif"-mu? Emang kota ini diselamatkan industri kreatifnya oleh tangan-tangan seperti kalian? Emang sebegitu penting koneksi orang-orang ibukota yang juga sok penting itu ke kota ini?Emang temen-temenku butuh itu? Emang kami butuh itu? Emang aku butuh kalian? TUNGGU DULU!!!!!
EMANG SIAPA KALIAN? para rasul? juru selamat? pembawa kayu salib industri musik lokal?
Kalian cuma komplotan orang-orang kaya atau ironinya beberapa dari kalian cuman orang-orang miskin dari kelas yang sama sepertiku tapi dengan gaya selangit yang mencoba fit in dengan teman-teman kayanya agar cuma terlihat seperti orang-orang penting bukan? Sebagian besar dari kalian bahkan tidak punya etos kerja kolektif!
Aku ingat sekali, suatu waktu diskusi diadakan oleh media yang juga sebenernya gak jelas juga arahnya ini, dengan beberapa speaker berisi orang-orang congkak di sebuah bar hotel bintang 5. Seperti dugaanku semua orang yang menjadi speaker semua isinya orang orang boring dan sok penting (tentu saja jika kalian bukan orang dengan dua sifat di atas gak akan mau menjadi speaker di sana haha). Satu di antara mereka berbicara dengan mulut besarnya soal koneksinya dengan band-band besar ibukota dan jasanya membawa mereka ke mari dan karena jasanya kota ini jadi seolah jadi jalur perdagangan penting bagi industri musik. Satu di antaranya yang lagi-lagi juga bermulut besar berbicara soal kolektif yang dia bangun dari bawah blah blah blah, di kepalaku aku cuma menjawab "bukannya kamu salah satu bootlicker brand HS Sampoerna bahkan dari acara pertamamu ya??"
Jika saja tidak ada bir gratis di sana aku juga gak sudi untuk mendengarkan gerombolan mulut besar itu saling menceritakan pencapaian-pencapaian palsu yang mereka bangun jauh di dalam kepala mereka sendiri.
Tetapi minum 3 gelas bir gratis sambil mendengarkan omong kosong rasul-rasul juru selamat dan tengkulak-tengkulak ini nampaknya enak juga hahhaha, setidaknya perasaan terhiburku terbayarkan.
Sungguh indah sekali kota ini dan diskusinya dengan juru selamat dan tengkulak yang saling bergandengan tangan.
Yang Utama
Jika hari ini Anda meninggal, ingin dikenang seperti apa?
Dalam hidup, semua orang memiliki pilihan. Anda memilih pekerjaan, pasangan, komunitas, kegiatan, dan sebagainya. Tentu pilihan ini tak sepenuhnya bebas, bisa jadi dipengaruhi oleh banyak faktor di sekitar. Akan tetapi, hingga kadar tertentu, kita selalu punya pilihan.
Pernahkah Anda mempertimbangkan dan mempertanyakan, apakah pilihan ini sudah sejalan dengan tujuan hidup? Apakah semua yang kulakukan membawaku lebih dekat dengan tujuan itu?
Jangan-jangan, tujuan hidup saja belum punya. Lalu, apakah hidup mengalir begitu saja? Menikmati satu demi satu momen yang berlalu dalam keseharian?
Banyak sekali orang yang hidupnya terjebak dalam mengejar kesenangan dan kepuasan. Terkadang lebih dari itu, mengejar kerakusan. Makan selalu mencari yang termahal dan terenak. Liburan yang terindah dan terjauh. Belanja barang terbatas dan eksklusif. Dunia mendorong kita untuk menjadi konsumtif dan mengejar hal-hal yang tak ada habisnya. Apakah kita terjebak di lingkaran setan ini? Apakah lupa kalau kita bisa memilih untuk keluar dari siklus itu (walaupun sulit)?
Banyak juga orang yang tenggelam dalam kesedihannya. Berbagai macam penyesalan, kegundahan, dan kegalauan menyelimuti hari-hari. Seandainya saya seperti A, seandainya dulu saya mengambil langkah B, seandainya situasi dan kondisi tidak seperti saat ini... Ada begitu banyak hal yang membuat hidup kita muram. Tidak mudah juga untuk bangkit dari kondisi ini. Namun, mau sampai kapan seperti itu?
Kembali ke pertanyaan pertama, kalau hari ini Anda meninggal, sudah siapkah? Sudahkah hidup sesuai nilai-nilai yang kau percaya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering mengunjungi benak. Karena itu, secara rutin pula saya melakukan koreksi. Sudahkah saya memilih langkah yang tepat? Sudahkah saya mengambil pilihan yang membawa lebih dekat ke tujuan hidup? Permenungan ini tak pernah mudah, tetapi harus diresapi dengan baik. Tanpa pegangan kuat, hidup kita hanya senantiasa terombang-ambing arus, entah akan hanyut ke mana.
Pikiran-pikiran ini menjadi lebih penting di masa seperti kini. Saat dunia makin kacau dan dipenuhi orang-orang bodoh yang berkuasa. Saat nurani lebih dibutuhkan karena setan dan godaan duniawi muncul dalam berbagai macam rupa.
Tanyalah pada lubuk hatimu. Bagaimanakah hidup dan pilihan-pilihanku selama ini? Sudahkah mencerminkan hakikat kita sebagai manusia?
Semoga kita selalu sempat memikirkan hal-hal seperti ini. Karena inilah yang utama, yang terpenting dalam hidup.
sungguhan, deh. apa yang menurut kita penting, belum tentu sama pentingnya buat orang lain. prinsip ini sering terlupakan waktu aku mulai bingung, kecewa, sedih ... "kok kayaknya cuma aku doang yang nganggep ini masalah ya? kok dia biasa aja, sih?"
ujung-ujungnya itu lagi. mungkin buat dia memang hal yang kurisaukan itu nggak penting.
pada banyak kesempatan, prinsip ini justifikasi yang masuk akal. walaupun menurutku, pada kasus yang melibatkan kerja sama beberapa orang, kesepakatan di awal adalah penentunya. sejak awal, kita menganggap ini hal yang penting atau tidak? kalau begini, kuncinya ya, komunikasi.
kalau kasusnya hal-hal yang tidak menyangkut kerja sama dan kesepakatan, bisa jadi memang karena orang lain punya pandangan berbeda soal prioritas dan urgensi sesuatu yang kita anggap berprioritas tinggi serta berurgensi besar.
Sal
Karena salah satu bagian dari doaku, adalah menjadi bagian dari doamu..