Bolehkah Kita Pakai Kostum Moana untuk Halloween?
Sejak sebulan belakangan, linimasa media sosial ramai dengan perdebatan ini. Satu pihak berargumen ini adalah “cultural appropriation”. Karena dengan memakai baju Moana, kita memakai produk kebudayaan Pasifik dan menggunakannya untuk lucu-lucuan. Tapi kemudian ada pula yang bilang bahwa itu lebay. Bahwa jika ada yang suka dengan karakter Moana, pakai saja kostumnya untuk Halloween.
Figure 1: Artikel Daily Mail yang mengupas bias di balik kostum Halloween.
Sebetulnya, tidak ada jawaban mudah. Dari kedua spektrum di atas, ada area abu-abu yang sangat luas. Kita harus melihatnya dalam kerangka yang lebih besar.
Istilah cultural appropriation memang menjadi ramai belakangan ini. Di Amerika Serikat, terutama menjelang Halloween, akan ada perdebatan tahunan tentang apakah ini appropriation atau bukan. Seperti misalnya kostum Pocahontas untuk anak-anak yang dikeluarkan Disney.
Cultural appropriation terjadi ketika orang dari kelompok yang diistimewakan (privileged) mengambil bagian dari kebudayaan lain yang marjinal atau minoritas, dan menggunakannya untuk keuntungan diri sendiri, tanpa pengetahuan mengenainya, di luar konteks dan maksud kebudayaan itu.
Figure 2: Kampanye "kami kebudayaan, bukan kostum” mendorong kesadaran akan cultural appropriation.
Lalu jika ada anak perempuan kulit putih menggunakan baju Moana, bagaimana? Okelah kalau memang anak tersebut menyukai karakter Moana. Kita tidak perlu memarahinya. Tetapi apakah orangtuanya mengerti bahwa baju tersebut dalam kebudayaan Pasifik adalah sesuatu yang bernilai, bukan sekedar kostum Halloween untuk lucu-lucuan saja? Di samping itu, bukankah film Moana sendiri merupakan eksploitasi raksasa Disney terhadap kebudayaan asli Pasifik?
Apakah ini berarti satu produk kebudayaan hanya boleh digunakan oleh orang dari budaya tersebut? Tidak juga. Pertukaran kebudayaan sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak Marcopolo menjelajahi jalur sutra sampai ke Cina kuno dan menemukan mie, keramik, dan lainnya. Apalagi di saat dunia terhubung lewat teknologi, komunikasi, dan imigrasi, mustahil kebudayaan eksklusif menjadi milik komunitas aslinya saja.
Di Mana Batas Appropriation dan Appreciation?
Semua orang pasti terpapar budaya asing: anime Jepang, film hantu Thailand, makanan Timur-Tengah, bahasa Skandinavia, atau musik Afrika. Bisa jadi ada yang menyukai produk kebudayaan lain. Hal ini alami, wajar, dan sah dilakukan.
Lalu di mana batasannya antara appropriation dan appreciation? Jawabannya terletak pada niat. Tapi bagaimana membaca niat ini? Hal itu terefleksi dalam sikap kita selama ini terhadap budaya lain.
Ketika kita menggunakan kebudayaan orang lain, apakah kita memperlakukannya dengan penuh hormat? Apakah kita memang mengagumi kebudayaan tersebut, mempelajari makna-makna di belakangnya, atau cuma sombong dan memakai kostum untuk seru-seruan saja? Pikirkan kesan yang akan orang tangkap: apakah orang akan mengagumi atau mengolok-olok budaya itu?
Baiklah. Ini saatnya studi beberapa kasus. Bagaimana dengan Mas Memet, asli Amerika, yang senang menggunakan batik karena dia pernah tinggal di Banyuwangi? Lalu bagaimana jika orang Mexico menggunakan baju sari untuk datang ke pernikahan temannya yang India?
Figure 3: Matthew “ Memet” Delaney mengajar bahasa Inggris di Banyuwangi, Jawa Timur, selama dua tahun lewat program Peace Corps.
Kita perlu pahami bahwa setiap kasus itu unik. Namun kita bisa melihat mereka telah menggunakannya sesuai peruntukannya.
Kemudian teman saya yang asli Bangka Belitung sangat mencintai musik country dan bahkan telah menciptakan sejumlah lagu country bersama teman Amerikanya? Bagaimana jika Silvia Smart, asli Amerika, membuka sekolah pencak silat di Beaverton, Oregon? Atau orang kulit hitam yang datang ke museum untuk melihat karya seni Jepang?
Figure 4: Zay Nova, asli Bangka Belitung, menekuni musik country sejak remaja.
Kita bisa melihat mereka telah mendedikasikan waktu untuk mempelajari kebudayaan itu. Selain itu, dengan mengobrol, kita dapat mengetahui apakah mereka mengagumi kebudayaan itu atau sebaliknya. Mereka bukan lucu-lucuan. Dengan demikian, kita dapat berkesimpulan, mereka menggunakan budaya orang lain dengan pantas.
Bagaimana dengan @londokampung yang dengan logat Jawanya membuat video mengetes orang Jawa berbahasa Inggris dan menertawakan mereka yang tidak lancar? Bagaimana jika saya yang bukan orang Papua menggunakan koteka untuk lari Marathon? Tentu kita sudah tahu jawabannya.
FIgure 5: Dave Jephcott membuat video komedi tentang kendala bahasa yang dialaminya ketika berbicara dengan orang yang tidak fasih berbahasa Inggris.
Ini bukan soal seru atau apa. Ini soal bias implisit, baik itu rasisme, seksisme, imperialisme, kolonialisme, prasangka, stigma, dan bentuk ketidakadilan pikiran lainnya.
Maka, ketika kita ingin pakai kostum Moana untuk Halloween, tanyakan pada hati kita sendiri, apakah kita memperlakukan kebudayaan itu dengan hormat? Putuskan dengan bijak. []