Goes to kustomfest 2013! Dab dab!!!!! #thrwbck #dienakinaja #hantulaut #kustomfest #kamu
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from T1
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from China
seen from China
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Azerbaijan
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from Canada

seen from United States
Goes to kustomfest 2013! Dab dab!!!!! #thrwbck #dienakinaja #hantulaut #kustomfest #kamu
Jikalau
Mungkin di antara sekian banyak lelaki sial sekaligus gombal, aku adalah salah satunya. Sial namun gombal, sungguh bukan kombinasi yang baik. Aku seringkali mendapat penolakan dari banyak perempuan yang kusukai. Sebagian besarnya bahkan menolak sebelum sempat kudekati. Menyedihkan, mungkin. Tapi aku selalu mengaggapnya sebagai hiburan belaka. Lihatlah orang-orang hebat di muka bumi, penolakan justru membuat mereka menang gemilang di kemudian. Lagipula, mereka yang menolak tanpa mencoba adalah tipikal orang yang membeli buku hanya karena sampulnya. Orang seperti ini tak mengerti bahwa besarnya gunung sering tertutup oleh lautan.
Ditolak atau diterima sudah menjadi bagian spekulasi bisnis berpacaran, bagiku. Bahkan terkadang ia menjadi amat remeh-temeh. Kadang spekulasi itu sama seperti beli rokok di satu warung yang ternyata tak jual, maka secara praktis masih banyak warung lain yang menyediakan. Jadi patah hati bagiku nihil. Kalau pun ada, itu aku saja yang sedang berlebihan. Meski begitu, selalu kubisikkan pada diri: kecewalah pada rasa kecewamu itu, sebab tiada berguna menaruh kecewa pada sesuatu yang remeh-temeh. Namun, dalam pada itu semua, aduhai sungguh, kecewa hanyalah sebentar saja, tak lebih dari segelas kopi dituang ke dalam dua baris sajak atau puisi, setelah itu semua akan terlupa dengan sendiri. Tak membekas kecuali dalam ingatan.
Memang, aku pun tahu siapa diriku. Aku tak menganggap diriku istimewa atau lebih pantas dalam segalanya, tidak. Aku hanyalah lelaki biasa-biasa saja dengan karakter biasa saja pula, hanya meskipun demikian, aku sedang dalam proses Casanova haha, maksudku dalam proses perbaikan. Banyak yang harus diperbaiki dalam diriku ini. Aku sadar dengan rendahnya kredibilitasku dalam urusan berasmara. Nilai jualku terlalu kecil dibandingkan lelaki lain, terutama jika menakar obsesi sebagian besar perempuan di sini, which is ironically so funny. Jadi wajar saja banyak perempuan yang tak cukup berkenan. Ini bukan masalah besar bagiku, karena aku memarket diri hanya untuk segmen tertentu saja. Aku hanya ingin pasar tertentu saja sebagai konsumen, sebab konsumen berkelas akan menjaga nilai trademark sebuah produk. Marketing strategy, you knowlah. Hahaha
Meskipun kredibiltasku rendah, nilaiku cukuplah tinggi, setidaknya bagi diriku sendiri. Banyak perempuan yang tak mampu melihat nilai itu. Mungkin karena selera mereka berbeda, atau sudut pandang mereka yang terlalu memanjakan mata. It’s okay. Selama tak ada kerugian besar bagiku it’s not a big deal. Lagipula pacaran bagiku cuma untuk senang-senang saja, bukan untuk alasan serius yang sekaligus meletus, misalnya seperti ‘jatuh bangun aku mencintaimu’ atau yang ‘bila ku mati kau juga mati’. Bagiku itu sungguh gombal yang berlebihan, atau malah kebodohan yang direncanakan.
Banyak perempuan yang menolak, bukan berarti sedikit yang menerima, mungkin seimbang. Banyak juga perempuan menginginkanku menjadi kekasih. Tapi jahatnya, aku tidak pernah benar-benar mencintai mereka, aku hanya suka. Entah cantiknya atau seksinya mereka yang membuatku suka, yang jelas tak pernah sampai membuatku jatuh cinta. Aku justru sering memanfaatkan situasi semacam ini sebagai pemuas hasratku saja. Maaf, mungkin ini terdengar amat menyebalkan, tetapi inilah gunanya menulis, sebagai bentuk kejujuran yang tertuang dalam guratan.
Aku selalu sebajingan itu, tak pernah aku jatuh merana atau sedih berkepanjangan disebabkan perempuan. Aku sungguh tak mengenal hal-hal semacam itu. Aku selalu tegas dalam mengatur perasaan, sehingga aku tak pernah sedih apalagi galau. Pernah sekali waktu aku sempat berpikir jatuh cinta. Ini terjadi ketika aku baru saja mengenal seorang perempuan yang cantiknya tak terbantahkan. Fenomenal. Namanya Dee. She really got my attention.
Dee adalah adik tingkatku di kampus. Dia ini cantiknya tak sekedar bualan, asli anugrah Tuhan, bukan rekayasa tangan-tangan korean. Cantiknya fit dengan segala zaman peradaban. Tak heran, jika kujelaskan mungkin akan terdengar berlebihan, tapi cantiknya sungguh tak terperikan. Leonardo Da Vinci sekalipun tak mampu lukiskan. Sekedar gambaran: kulitnya putih kekuningan bak kayu jati belanda tanpa corak, urat-uratnya tergurat samar-samar bagaikan garis-garis peta yg tiada ujungnya, hanya menyesatkan. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, lekukannya tubuhnya terlalu mencuri dan mudah membuatmu tergagap. Matanya hitam pekat menyerupai batu akik, setiap kali memantulkan cahaya segera berkaca-kaca, saat itulah kau merasa sedang menatap surga. Senyumnya manis tak terkira memperdaya, sekali kau disenyumi olehnya, waktu serasa berhenti seketika itu juga, kau terkutuk mematung tak kuasa. Tatapan genitnya yg seolah tanpa dibuat-buat itu, segera membuat hati kau berdenyut syahdu, akan lupa kau pada kewajibanmu. Bibirnya merah bukan buatan, membuat sendi-sendimu menggigil kawan. Hingga pada pokoknya, dia menyimpan banyak kriteria perempuan idaman. Ketika melihatnya, orang yang hanya menilai fisik, pasti langsung terbakar cintanya.
Aku pun sempat berpikir jatuh cinta dengan Dee adik tingkatku itu. Ada getaran-getaran tak biasa setiap kali melihatnya. Ada dentuman-dentuman lagu india setiap kali jumpa bertegur sapa. Ada beberapa hukum fisika berparade tak biasa, hingga reaksi kimia bergelora dalam dada, setiap kali menyangkut dia. Tak sungkan jangtung ini berdegub lebih cepat dari biasanya. Aku mulai menyukai lagu-lagu kesukaannya, mulai menirukan gaya-gaya dan tutur bicaranya yang–oh my goodness–biasa saja! Haha. Aku jatuh cinta dengan perempuan yang bahkan belum kukenali bentuk sukmanya? Murahan sekali aku ini. Namun beruntung sekali, setelah kutinjau dan kurumuskan kembali, yang cenderung mencintai justru sisi busukku saja. Lebihlah justru nafsu yang sedang berkobar liar di pikiranku itu. Jelas saja ini godaan iblis tingkat sarjana.
Aku sebenarnya sudah cukup terlatih mengendalikan nafsu. Cantik saja takkan membuatku lunak. Namun kecantikan Dee bukanlah biasa, itulah mungkin bentuk nyata godaan paling gila, fasilitas para iblis sekaligus narkoba bagi manusia. Beruntung aku tak jatuh cinta padanya. Dulu sebelum cukup mengerti dan sedang lugu-lugunya, aku sebenarnya pernah jatuh cinta dengan satu perempuan yang pernah jadi pacarku. Anggap saja namanya Er.
Er ini adalah kenalan dari temanku di kampung. Dulu waktu dia duduk di kelas 3 SMP di sekolahnya, dia termasuk gadis terfavorit di sana. Temanku ini pun suka dengan dia, hanya suka. Tapi karena alasan tak cukup berani, dia urung mendekati, malah menyarankanku. Sampai suatu ketika, dikenalkanlah aku dengan gadis ini, kami pun bertukar nomer telfon. Aku yang sejak pertama jumpa itu sudah suka, langsung menikmati setiap obrolan kami via sms. Kami pun mulai sering telfon-telfonan. Aku merasa senang sekali dan bergairah, nyaman aku dibuatnya. Setiap hari aku menghubungi dia, mengabari dia, menanyakan dia sudah makan atau belum. Sedang apa dan di mana adalah rutinitas obrolan kami kala itu, tak jemu. Aku benar-benar terbawa suasana, sampai-sampai aku yang polos itu mulai ketergantungan. Aku terus menagih kabar tanpa sabar, dan menuntut jumpa dengan tergesa. Tak ingin sedetik pun terlewat tanpa dia. Konyol sekali. Kini biarlah itu menjadi pelajaran.
Belakangan, saat aku pacaran tak ada yang aku benar-benar cinta. Mungkin hanya sebatas suka, atau kagum. Kagum juga seringnya bukan karena hebatnya sifat atau pembawaan mereka, melainkan kebanyakan karena suka memandangi dan ingin memeluk bahkan menciumi mereka. Ah sungguh brengsek aku ini. Tapi begitulah faktanya kebanyakan lelaki di dunia ini, kebanyakan hanya nafsu belaka, tak ada sebutirpun cinta. Cinta hanyalah alasan kami untuk berlindung agar bisa diterima. Maka kalian para wanita, berhatilah, bahwa lelaki manapun yang menyatakan cinta belum tentu adanya, bisa jadi isinya hanya tahi kuda. Dan itu juga barangkali termasuk diriku, tapi hanya beberapa, tidak semua. Kebanyakan justru karena senang dan ingin mengekang, eh bukan, melindungi maksudnya. Pfft
Dunia berpacaran seperti ini terus aku jalani hingga saat ini. Semakin hari semakin mahir saja aku dengan pikiran busukku itu, makin menyatu seiring waktu, makin membuatku brengsek saja. Tapi percintaan tahi kuda macam ini kian hari kian membosankan, membuatku makin kesepian. Sebab kebanyakan perempuan yang aku kencani, sulit buatku berbagi. Mungkin benar kata orang-orang, cantik bukanlah segalanya. Sebab bercinta bukanlah semata soal memanjakan mata, melainkan melibatkan semua indra. Lebih dari itu, ia juga termasuk segumpal daging di dalam dada. Kecantikan fisik hanya akan membuat lelaki makin brengsek. Harusnya perempuan menutupi cantiknya saja.
Seiring waktu berlalu, rasa bosan tak mampu kubendung lagi. Kebosanan pada pola yang sama membuat manusia ingin mencoba hal baru, atau kadang, berhenti sama sekali dengan irama yang begitu-begitu saja. Ini terjadi padaku belakangan ini. Rasa bosan ini kian memuncak menjadi klimaks. Tapi di sela-sela keinginan untuk merubah hidup lebih berarti, sisi brengsek dalam diri ini kadang muncul kembali, hingga seringnya, aku terjun lagi ke pola yang sama sampai menemukan bosan lagi. Bosan bangkit, brengsek muncul. Brengsek bosan, sadar sebentar. Kemudian masuk lagi ke pola bosan sampai brengsek muncul lagi. Sadar sebentar lagi, terulang lagi. Begitu-begitu saja.
Sampai suatu ketika, aku bertemu kembali dengan perempuan yang aku sudah kenal sejak lama. Lama sekali, lebih lama dari lahirnya seorang penulis hebat bernama Fahri Musanji. Nama perempuan ini agak rumit dan panjang, yang dalam bahasa yunani kunonya berarti Mezu. Dia pernah aku dekati dan aku sempat ditolak olehnya, mentah-mentah tanpa uji coba. Dulu waktu aku ditolak, aku belumlah sebusuk ini, aku sedang lugu dan belum mengerti cara mengendalikan diri. Alhasil aku cukup merasa kecewa dan sedih atas penolakannya.
Namun pertemuan singkat kami mengundang tanda tanya. Aku nyaris tak mengenalinya lagi. Dia sudah banyak berubahnya, lebih dewasa. Pandangannya tentang hidup kini mengesankan. Kuperhatikan sekeliling dan gerak-geriknya, sekiranya ada jin yang salah masuk ke tubuhnya, pastilah ia jin yang bijaksana. Aneh, berbeda sekali dari yang dulu. Apakah gerangan sesuatu yang merasuki dirinya? Atau inikah bukti teori evolusinya Darwin itu? Ah aku mulai mengada-ada. Juga Darwin mengada-ada. Obrolan kami yang hangat-hangat canggung itu membuatku tambah penasaran, aku ketagihan dan ingin rasa bercekrama lebih lama. Ditambah dengan kopi aceh yang dia seduhkan membuat suasana makin menyenangkan. Ah dia pandai sekali mengutarakan jangan, ‘jangan sungkan’.
Ia sepakati untuk tak membahas masa silam, meski dalam hal ini dialah yang diuntungkan, aku iyakan. Untuk apa pula membahas masa lalu. Lagipula, aku penasaran, apa saja yang dia lakukan selama ini, siapa saja yang dia temui, bagaimana kuliahnya. Kuwawancarai dia dengan rentetan introgasi. Ingin rasanya kuambil flashdisk dan kucolok ke hidungnya, untuk kemudian kuambil data-data dalam kepalanya, agar tak perlu lagi bertanya haha. Aku yang sudah cukup bosan, bosan dengan percintaan tahi kuda, mulai bergairah kembali. Saat mengobrol aku hanya fokus pada kata-katanya yang mulai bijaksana dan menjanjikan. Physically, dia mungkin sudah tak secantik dulu, tapi suaranya tetaplah sama, dan jiwanya sungguh sudah lebih baik. Pikirannya mulai terbuka, sudah memiliki visi tentang hidupnya kelak harus seperti apa. Mengagumkan.
Aku mulai menyukai dia lagi. Betapa tidak? Perempuan kebanyakan dewasa ini takut sekali bermimpi. Sedang dia, aduhai pertiwi cita-citanya. Aku terkesan pada perkasa jiwanya, peduli hatinya pada sesama, yang dedikasinya untuk kebaikan manusia. Meski sedikit, ucapnya, asal berusaha. Aku takzim berkaca-kaca mendengarnya. Alangkah bangga rasanya mengenal dia. Hanya sedikit, pikirku, perempuan berbesar hati rela mengorbankan masa mudanya untuk kepentingan orang banyak, sungguh mulia. Aku merasa seakan-akan terlihat ada setengah masa depan di bola matanya, ada tempat untukku meletakkan kepercayaan di sana. Aku merasa seolah dia menaruh harapan pula kepadaku, agar aku tak lagi main-main menjalani hidup ini, agar seharusnya aku berubah dan menjadi orang yang bisa diandalkan.
Dia seperti tahu betapa brengseknya diriku, namun tetap bersedia menerima dan memaafkan, selama aku berniat untuk berubah. Paling tidak, ucapnya, kalau tak mampu berbuat baik maka jangan merusak. Ah nasihatnya membuatku malu. Meski begitu, dia tetap menaruh respect padaku selayaknya orang yang bisa diharapkan. Bagiku itu sudah cukup, cukup membuatku senang. Yang terpenting, aku merasa ada seseorang yang melihat nilai dalam diriku. Ada seseorang yang percaya dengan potensiku. Aku merasa kini dia bisa menjadi temanku berbagi, dialah seseorang yang tepat untukku menjadi percaya diri kembali. Aku mulai jatuh… Ah tak mungkin!
Bah, celaka! Perasaan gila ini membuatku butuh pikiran busuk itu, urgent. Aku tak mungkin membiarkan diriku melankolis seperti ini. Bukankah aku akan jadi Casanova? Ah sialan. Pikiran busuk itu kulatih sedemikian canggihnya bagai program komputer saja. Berita buruknya, mengapa kali ini berbeda. Aku memang bukan seorang ahli ilmu matematika, tapi mengenai program itu, aku tahu mekanisme mengolah datanya. Secara sistematika algoritma, ini bukanlah sesuatu yang biasa. Setiap koding yang kupasang pada programnya sudahlah akurat sesuai polanya. Biasanya efek samping yang ditimbulkannya setiap kali bergejolak dengan perempuan selalu menggebu liar dan terburu-buru membidik target. Tapi ada apa kali ini? Aneh sekali.
Apakah ini adalah pertanda aku harus membiarkan diri ini dibawa oleh perasaan? Lantas bagaimana proses Casanova-ku? Ah… tapi, Hey, bukankah aku memang takkan selamanya sebusuk itu, aku bisa saja membiarkan diri ini benar-benar jatuh cinta. Dan perempuan ini seolah mengisyaratkan dialah orangnya, orang yang tepat untukku menaruh harap. Baiklah, aku bimbang. Meski begitu aku pun berhati-hati, jangan-jangan inilah bentuk godaan iblis berpangkat besar. Aku tak boleh lengah lantas tertipu oleh perasaan yang bisa jadi hanya tahi kuda. Konspirasi besar diketuai oleh iblis jenderal bintang lima, barangkali? juga bisa saja hanyalah efek dari nostalgia belaka, nostalgia di mana aku pernah jatuh berdarah-darah mengejar cintanya. Atau barangkali ini hanyalah dendam yang belum terlampiaskan, sebab aku pernah kecewa atas penolakannya yang kejam.
Tapi tunggu dulu, setelah kutimbang kembali, dengan seadil-adilnya tanpa dendam pribadi, mengenali segala bentuk yang terjadi, ini justru membuatku merasa nyaman dan aman dengan gejolak ini. Aku merasa tenang dan tidak terburu-buru, tak seperti biasanya. Ditambah lagi dengan perubahan dia yang hampir total, membuat akal sehatku menerima. Dia seperti bukan perempuan kebanyakan lagi, dia sudah berubah sama sekali berbeda. Mungkin aku terdengar membual, tapi itulah kenyataan yang kukenal. Ah, mudah-mudahan iblis bukan sedang menggodaku, atau mungkin inilah siasatnya? Entahlah.
Aku memang mudah sekali berubah perasaannya, saat ini suka, mungkin besok benci. Bahkan seringnya suka dan benci terjadi di saat yang sama. Aku suka dengan fisiknya, benci dengan sifat dan pembawaannya. Itu yang seringkali terjadi. Yang seperti itulah yang sering aku kencani selama ini, sebab aku hanya mengincar fisiknya saja. Tapi kali ini, dengan dia, aku sama sekali tak pedulikan fisiknya, dan di saat yang sama aku suka dengan sifatnya yang berubah. Pola kerja pikirnya sudah berubah, sama seperti yang aku ingini. Aku menghargai perempuan yang berpikir, dari cara pandangnya terhadap bagaimana menyikapi hidup dan memiliki visi yang jelas. Yang seperti itu yang aku ingin fall in with.
Jikalau…
Jadi mungkin saja engkaulah orang itu, sahabat. Biarlah kita menjadi sahabat. Baik engkau maupun diriku tak pernah sudi berpacaran. Pacaran bukanlah solusi yang tepat untuk perempuan sepertimu. Sia-sia saja jika kau kujadikan pacar. Sebab pacaran sesungguhnya tak pernah ada baiknya. Kita yang terlalu brengsek mencari-cari pembenaran atas nama cinta, menjual sajak-sajak romantis seolah benar adanya. Padahal kita tahu betapa buruk akibatnya. Aku memasang syarat melepas tehnik ku itu, hanya untuk sekali. Setelah itu, mungkin takkan kupakai lagi selamanya, sudah tak perlu. Untuk apa lagi? Program itu kurancang untuk memburu, dan kalau kau adalah orang yang tertulis untukku, maka untuk apalagi tehnik itu. Aku hanya ingin satu saja untuk cinta. Maka bila kau adalah orangnya, kupastikan kulepas program itu tanpa ragu, dan menggantinya dengan program yang baru, yaitu agar selalu mencintaimu sungguh-sungguh. Aku akan menjadikan engkau satu-satunnya teman hidupku.
Gombal sekali ya? Ini serius. Bila kau betul orang itu, maka aku akan siap menanam benih cinta pada sel telurmu, untuk melahirkan generasi baru. Manaruh kasih pada bibirmu, jadi kau tak perlu malu bercerita tentang sedihmu. Meletakkan hasil jerihku yang kugenggam ke dalam pelukanmu, sehingga kau tak perlu takut nasib anak dan bedak-gincumu. Mengecup basah leher dan telingamu dengan nasihat, sehingga kau tak lagi ragu menimbang sikap, dan tengadahkan kepalamu dengan tegak. Kita ciptakan cinta bersamaan dengan suara denyit kasur ibadah di malam-malam kita, dalam ikatan agama dan restu orangtua.
Tapi sahabat, itu hanya berlaku jikalau dikaulah orangnya. Sebab mungkin Tuhan tak akan tega membiarkanmu bersanding denganku Casanova abal-abal ini. Mungkin juga aku tidaklah setara denganmu. Aku terlalu liar untukmu. Namun, tetap saja, Tuhan tahu apa yang kita tidak tahu. Segalanya bisa saja berubah. Aku bisa saja berubah menjadi Casanova yang beriman, kau bisa saja berubah menjadi badak bercula tiga atau hantu laut, haha. Atau bisa saja bijaksanamu luntur oleh waktu dan kebosanan, jangan sampai. Maka kita lihat saja nanti, apakah kita ditempatkan di titik yang sama atau hanya sebatas teman sekolah saja, yang masing-masing menghadiri pestanya. Kita pasrah saja. Biarkan Tuhan, dengan segala pengetahuannya, menempatkan kita pada posisi sebaik-baiknya kita, yang bisa saja tak pernah kita duga sebelumnya. Tuhan selalu punya cara yang maha romantis di luar kesoktahuan manusia.
###
Perlu kau tahu, sahabat. Aku menulis ini bukan bermaksud—dalam konteks romantis—mengajakmu mencintaiku. Jangan kau keliru. Aku mengajakmu untuk tetap memperbaiki diri selalu dan jangan ragu, agar kelak meski tak bertemu, kita tetap di jalan yang lurus. Semoga ini menambah semangatmu.
—Sahabatmu, Fahri.
Indonesia kustom festival dab!
unfinished lettering #hantulaut #custom #tank #lettering #pinstripe cc @farizanlembi