Hari ini ada yang menarik dalam perayaan hari pangan sedunia yang diselanggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kab. Mimika saat sesi makan siang (my fav. part session in every event 🤣🤣🤣). Mereka menyediakan nasi yang terbuat dari sagu dengan memanfaatkan inovasi teknologi pangan berbahan baku lokal. Sagu adalah makanan pokok masyarakat Papua yang begitu melimpah ruah dan memiliki segudang potensi yang belum terkuak. Sekilas nampak seperti nasi dari beras merah, teksturnya sangat pulen, rasanya tawar (seperti rasa ongol-ongol yang tidak pake gula merah dan kelapa parut 😅), yang pasti nasi sagu ini rendah gula, sangat cocok untuk dijadikan menu diet sehat ✨👍🏾👍🏾✨ . Oya! piringnya rame sekali ya, harap maklum cuaca di Timika sangat panas 😁. Lauknya ada udang goreng tepung, tumis pedas ikan asap, sayur daun singkong bunga pepaya, ikan kuah kuning, dan keladi rebus (extra carbo 😜) . #WirldFoodDay #HariPangan #PameranPangan #NasiSagu #Locavore #OlahanSagu #InovasiPangan #SaguPapua #HealthyFood #Timika #Mimika (di Kota Timika Papua) https://www.instagram.com/p/B3__Lo4JnA_/?igshid=1dr7pwpsxf3os
Selamat Hari Pangan mama-mama pejuang pangan di Kampung Bou, Uwus dan Beriten. Terima kasih sudah meramaikan Pasar Agats dengan hasil kebun dan laut yang segar lagi organik. Mama cemenem ooo 😘💕 . #HariPanganNasional #HariPangan #PejuangPangan #SekolahLapang #GrowYourOwnFood #OrganicFarm #AsmatBerkebun #MamaAsmat https://www.instagram.com/p/B3qVe9yn9hu/?igshid=ncerafmpcs1m
PEMUDA: ADAKAH YANG BISA KAMI BANTU ? UNTUKMU PERTANIANKU
“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka malapetaka; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner” -Ir. Soekarno
Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai negara yang agraris. Hal ini ditandai dengan hasil bumi berupa bahan pangan yang meningkat dari sektor pertanian. Indonesia sangat diakui oleh dunia sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Bangsa yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah.
Makanan sebagaimana yang telah kita ketahui merupakan kebutuhan pokok yang paling utama bagi manusia. Apabila kebutuhan pokok saja belum teratasi, bagaimana mungkin sebuah negara dapat mengatasi permasalah-permasalan lainnya yang hari demi hari semakin tidak jelas terjadi di negara khusus dalam hal ini negara kita Indonesia tercinta. Seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, “Bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional”.
Sebagai bentuk refleksi diri kita dalam menyikapi hari pangan sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2016 yang lalu, maka dapat kita renungkan kembali bahwa permasalahan ketahanan pangan nasional perlu diberi ruang perhatian secara serius. Kecepatan pertambahan jumlah penduduk di negara kita harus di antisipasi dengan adanya kesiapan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan pangan, agar masalah dalam pemenuhan pangan tersebut tidak menjadi kendala yang dapat menimbulkan “domino effect” terhadap sektor lainnya dalam pembangunan nasional.
Bagi Indonesia upaya yang harus ditempuh untuk memantapkan ketahanan pangan mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif. Aspek kualitatif pangan memiliki definisi yang luas dalam pemaknaannya yan mana dalam hal ini dapat mencakup aspek fisik pangan, aspek keamanan pangan, aspek organoleptik dan aspek gizi. Pangan dari sisi ini lebih ditujukan kepada aspek gizi yang didasarkan kepada keanekaragaman pangan, bukan hanya makanan pokok saja, tetapi juga bahan pangan lainnya. Semakin beragam dan seimbang komposisi pangan yang dikonsumsi akan semakin baik kualitas gizinya, karena pada hakekatnya tidak ada satupun jenis pangan yang mempunyaui kandungan gizi yang lengkap dan cukup dalam jumlah jenisnya.
Seperti yang telah kita ketahui pola konsumsi pangan penduduk negeri ini sangat terdominasi beras; padahal ketergantungan yang berlebihan terhadap satu jenis komoditas sangatlah rawan. Maka dari itu salah satu program yang merupakan bagian pilar kedaulatan pangan dan ketahanan pangan kita adalah diversifikasi pangan lokal. Diversifikasi pangan lokal dapat menekan konsumsi pangan tertentu (misalnya beras) untuk disubstitusi dengan pangan lokal yang ada, sehingga kebutuhan nasional beras dapat berkurang dan tentunya akan dapat mengecilkan volume impor bahkan meniadakan impor beras. Diversifikasi pangan lokal juga dapat membangkitkan kembali kearifan lokal yang pernah dilakukan pendahulu-pendahulu kita terkait dengan pola makan, yaitu tidak menggantungkan pada beras saja melainkan juga aneka umbi, sebut saja singkong, ubi jalar, talas, gadung, gembili, suweg, ili-ili, ganyong, garut, dsb.
Setelah tahu ternyata banyak potensi pangan lokal yang dapat mendukung terwujudnya kedaulatan pangan maka langkah yang paling penting untuk dilakukan yaitu dengan memasyarakatkan pemanfaatan pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Memasyarakatkan pangan lokal sebagai upaya untuk mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri dan mengurangi gengsi yang merendahkan produk lokal sehingga dapat meminimalkan impor produk yang sejatinya di dalam negeri tersedia.
Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi lunturnya kegemaran masyarakat terhadap makanan tradisional Indonesia selama ini disebabkan oleh adanya perubahan gaya hidup, sosial budaya, ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Disamping itu faktor yang menyebabkan masyarakat lebih menyukai makanan asing dari pada makanan lokal adalah masyarakat kita sudah sangat dibuai dan dimanjakan oleh makanan asing yang siap saji (fast food) serta bentuk-bentuk makanan instan lainnya padahal perlu dipahami bahwa makanan asing ini dapat kita nilai sebagai makanan yang jauh dari kata sehat untuk raga yang dititipkan kepada kita.
Mungkin, apa yang perlu kita perhatikan dan utamakan saat ini bukan siapa yang patut disalahkan, tetapi lebih ke bagaimana solusi yang harus kita lakukan. Mungkin juga, berbagai konflik yang ada saat ini tidak tertuntaskan bukan akibat dari ketidak mampuan sumber daya kita untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tapi bangsa kita lebih sibuk mencari siapa yang dipersalahkan, ataupun siapa yang perlu dijadikan kambing hitam. Selain itu, permainan politik di negeri kita masih lebih mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Hal-hal tersebut merupakan beberapa sumber pokok mengapa bangsa kita sulit sekali menghadapi permasalahan dan menyesaikannya secara tuntas.Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa kunci keberhasilan ketahanan pangan salah satunya mengenai keragaman pangan di negeri yang dikenal kaya, makmur, subur dan ramah ini adalah “rasa kepedulian dan sikap konsisten”. Kepedulian dan konsisten menjadi peletakkan dasar terwujudnya indonesia sejahtera tidak hanya dari segi pangan, ekonomi, sosial, pendidikan dan keamanan. Jika setiap warga negara memiliki tingkat kepeduliaan terhadap bahan pangan yang berbasis kearifan lokal, ancaman krisis pangan serta isu kekurangan gizi menjadi sangat mungkin untuk dihindari. Begitu pula dengan konsistensi, harapan besar terletak pada pundak-pundak pemuda sebagai penggerak inovasi dan pengembangan pangan menuju Indonesia sejatera yang membuat negara ini mampu menopang setiap sendi-sendi kehidupannya di atas kedua kakinya sendiri. Tanpa bergantung kepada “orang lain”.
Permasalahan pangan tidak berhenti pada pengelolaan sumber daya alam, pelaku utama yang mengadakan pangan itu sendiri juga bermasalah. Bisa jadi, petani merupakan salah satu profesi paling dihindari oleh anak muda masa kini. Entah karena jumlah pendapatan mereka yang tidak terlalu tinggi, atau entah karena petani selalu dianalogikan dengan kaum marginal atau semacamnya. Pada kenyataannya sebagian besar petani yang ada saat ini adalah mereka yang putus sekolah dan tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Minat untuk menjadi petani di kalangan anak muda sangat rendah sekali. Padahal seperti halnya bidang yang lain, pertanian juga butuh regenerasi agar tidak mati.
Dan faktanya, di level perguruan tinggi, jurusan pertanian merupakan salah satu jurusan sepi peminat. Sepertinya, kalaupun bisa memilih, bisa jadi para lulusan SMA atau sederajat tidak banyak yang mau memilih jurusan pertanian sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Dan mungkin hal ini jugalah yang menyebabkan para sarjana pertanian enggan untuk berkarier di dunia pertanian. Karena sejak awal mereka masuk hanya karena terpaksa atau karena tidak bisa masuk di jurusan impian mereka, bukan karena benar-benar berminat untuk mendalami ilmu pertanian dan berkaya di bidang pertanian.
Harapan akan birokrat yang dapat benar-benar membuat masyarakatnya sejahtera adalah impian seluruh rakyat Indonesia. Meskipun banyak kali rakyat dibohongi, tetapi dukungan akan terus diberikan kepada mereka yang berjanji. Dukungan merupakan satu bukti bahwa rakyat ini tak akan lelah berharap pada sosok “ratu adil” yang akan segera datang. Namun berharap dan terus menanti harapan menjadi kenyataan bukanlah jalan bagi seorang pemuda yang visioner. Maka perubahan itu harus kita mulai dari sekarang meskipun itu hanya sebuah hal kecil. Mulai membenahi diri dari kapasitas keilmuan dan karakter seorang negarawan sejati. Karena generasi muda hari ini adalah harapan bangsa di masa yang akan datan.
Mari kita buktikan bahwa kita adalah negarawan muda salah satu aset berharga milik negeri ini yang bukan hanya bisa mengkritisi, tetapi kita hadir dengan menyatukan langkah kepedulian, membangun harapan dan optimisme kepada tuhan untuk perbaikan negeri ini kedepan.
“Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan” -Anies baswedan
Akhir Misa Hari Pangan Dunia Di Paroki Keluarga Kudus Cibinong Hari Minggu Tanggal 16 Oktober 2016 Misa kedua pukul 8.30 WIB #haripangan #misa http://vituspolikarpus.com
je, ini hari, hari makan sedunia. hari yang musti di ingat ketika lapar-laparnya perut bersuara. ketika makan menjadi momen penting saat kuliah ngekost anak rantau walopun ga rantau pulau. bahkan momen ajaib yang ditunggu anak rantau. bahkan jadi momen misterius, ketika tetiba ajakan seseorang memanggil dan menjadikannya lega.
je, masi tetap tak inget-inget makna lantunan mahasiswa yang belum lulus. dan sampai di titik ini. titik yang belum mencapai kesuksesan.